Loading...
Kembali

Tips Mengatasi Permasalahan Peserta Didik Melalui Segitiga Restitusi

Dipublikasikan oleh AFINA ANINNAS

Pada 26 March 2026

Halo Rekan Guraru! Seringkali dalam mengajar, kita menemukan berbagai permasalahan peserta didik, mulai dari ketidakhadiran, konflik antar peserta didik, hingga bullying di lingkungan sekolah. Sebagai guru, perlu memberikan treatment yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Tentunya treatment diberikan harus tepat tanpa menghakimi namun dapat memberikan efek jera sekaligus dapat membangun kesadaran diri. Segitiga restitusi merupakan salah satu pendekatan yang efektif untuk mengatasi permasalahan peserta didik. Apa itu segitiga restitusi? Simak artikel ini hingga akhir.

Pengertian Segitiga Restitusi

Segitiga restitusi merupakan sebuah metode untuk membantu peserta didik memperbaiki diri dari kesalahan yang telah dilakukan sekaligus membangun kedisiplinan dari dalam diri tanpa adanya paksaan, melainkan sebuah tawaran untuk menyelesaikan permasalahan.  Metode segitiga restitusi akan menciptakan kondisi dimana peserta didik dapat memperbaiki kesalahan mereka sendiri sehingga tumbuh karakter yang lebih baik ketika mereka kembali ke lingkungan sosialnya. Dalam penerapannya, peserta didik diberi kesempatan untuk belajar disiplin secara positif, memulihkan diri dari kesalahan sehingga menemukan tujuan yang jelas. Metode ini mengajarkan peserta didik untuk jujur pada diri sendiri sekaligus mengevaluasi dampak dari perbuatan yang mereka lakukan. Sehingga para akhirnya, peserta didik akan bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik dari sebelumnya. 

Langkah Penerapan Segititiga Restitusi

Terdapat 3 langkah dalam menerapkan segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.

  1. Menstabilkan identitas. Langkah ini bertujuan untuk mengubah orang yang merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan menjadi orang yang lebih baik. Seorang guru harus mampu meyakinkan peserta didik dengan memberikan afirmasi positif seperti:
  • Berbuat salah sekali-kali itu wajar, tidak apa-apa.
  • Tidak ada manusia yang sempurna
  • Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
  • Bapak/lbu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/lbu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
  • Kamu berhak merasa begitu.
  • Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?

Ketika peserta didik dalam keadaan emosional, mereka kurang mampu berpikir rasional. Keadaan ini menjadi menjadi peluang bagi guru untuk menstabilkan identitas mereka. Guru dapat membantu menenangkan dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan.

 

  1. Validasi tindakan yang salah. Setelah menstabilkan identitas, guru harus memahami dan menemukan hal yang mendasari peserta didik sehingga mereka melakukan kesalahan. Hal ini dikarenakan mereka maksud/tujuan ketika melakukan sesuatu. Guru dapat memberi pertanyaan seperti:
  • "Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
  • "Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
  • "Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buat kamu".
  • "Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”

Guru perlu memahami alasan peserta didik melakukan kesalahan sehingga mereka merasa dipahami oleh guru serta merasa aman meskipun menceritakan kesalahannya. Restitusi tidak menyarankan guru memberitahu kepada peserta didik bahwa melakukan kesalahan adalah sikap baik, melainkan memahami alasan bahwa setiap orang akan melakukan yang terbaik pada waktunya.

  1. Menanyakan keyakinan. Setelah langkah pertama dan kedua telah dilaksanakan, maka peserta didik siap dihubungkan dengan pertanyaan terkait sesuatu yang mereka percaya dan siap menjadi seseorang atau hal-hal baik yang mereka inginkan, Misalnya:
  • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
  • Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
  • Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
  • Kamu mau jadi orang yang seperti apa?

Tahapan ini sangat penting untuk ditanyakan kepada peserta didik terkait ekspektasi kehidupan seperti apa yang mereka inginkan. Pada umumnya, anak ingin menjadi orang yang baik namun belum mengertahui caranya seperti apa. Ketika peserta didik mendapatkan gambaran yang jelas terkait apa yang mereka inginkan, maka guru dapat dengan mudah untuk membantu mereka tetap fokus pada tujuannya. Segitiga restitusi dapat menumbuhkan motivasi internal murid untuk disiplin positif dan terbiasa mencari solusi dengan permasalahannya.

Contoh Penyelesaian

Kinan adalah siswi kelas 8, memiliki 5 teman dekat yaitu Dian, Tika, Celine, dan Bela. Kinan seringkali mengolok-olok dan mengganggu Dinda karena apabila Dinda diganggu, responnya akan sangat lucu dan teman sekelompoknya ikut tertawa. Kinan terlihat sangat menikati reaksi teman-teman dan guru yang memberikan perhatian dengan menegur ketika ia melakukan hal tersebut. Ketika Kinan ditegur, ia beralasan bahwa hanya gurauan belaka. Namun, Dinda merasa sangat tertekan hingga ingin pindah sekolah. Maka guru dapat menerapkan langkah segitiga restitusi 

  1. Menstabilkan Identitas. Guru memulai percakapan dengan cara yang tenang dan membuat Kinan dan kelompoknya tidak merasa diintimidasi. Guru memulai percakapan dengan memberi pertanyaan seperti:

“Kinan, semua orang pernah melakukan kesalahan, termasuk Bapak/Ibu. Tidak apa-apa apabila kita belajar dari kesalahan itu.”

“Bapak/Ibu tidak marah, hanya ingin membantu kamu untuk memahami dampak dari perbuatan kamu”

“kamu berhak merasa senang ketika bercanda, namun coba kita cari cara agar tidak menyakiti orang lain”

 

  1. Validasi Tidakan yang Salah. Setelah Kinan dan teman yang lain menjawab, guru memahami alasan Kinan. Kemudian memberikan pertanyaan lanjutan:

“Apa yang membuat kamu merasa selalu ingin mengejek Dinda?”

“Apakah kamu merasa senang apabila melihat teman-temanmu tertawa dan guru memperhatikan kamu?”

“Kamu pasti punya alasan, Bapak/Ibu ingin mendengarnya”

Setelah percakapan, guru mendapatkan informasi bahwa Kinan mengolok-olok Dinda karena ia merasa popular dan diterima oleh teman-temannya saat melakukannya. Kemudaian guru memberikan validasi “kamu sebenarnya ingin diterima dan diakui hebat oleh temanmu ya? Hal itu sangat wajar, tapi mungkin caranya coba kita perbaiki”

 

  1. Menanyakan Keyakinan. Guru mengajak Kinan dan teman-temannya merefleksikan nilai-nilai yang mereka percayai. 

“menurut kamu, bagaimana sosok teman yang baik?”

“menurut kamu, bagaimana perasaan Kinan ketika dia diolok-olok seperti itu?”

“kamu ingin dikenal sebagai siswa seperti apa? Disukai karena baik atau karena menyakiti orang lain?”

Dari sinilah, Kinan mungkin menyadari bahwa ia ingin menjadi teman yang baik dan dihormati bukan karena melakukan hal yang buruk. Kemudian gur membantu Kinan membuat rencana agar membuat teman-temannya tertawa tanpa menyakiti perasaan orang lain dan meminta maaf kepada Dinda sekaligus menunjukkan bahwa Kinan bisa menjadi teman yang baik.

Nah itulah uraian terkait tips untuk menyelesaikan masalah peserta didik melalui metode segitiga restitusi. Semoga bermanfaat dan menjadi referensi bagi Rekan Guraru dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik masing-masing. Nantikan artikel terbaru dari Pengelola Guraru di sesi selanjutnya. Semangat mengabdi!

Referensi

https://cdn-gbelajar.simpkb.id/s3/p3k/PGP%202022/Modul%201.4/Pembelajaran%202.6.pdf

 

Logo

Platform Guru Era Baru ini telah mengalami perkembangan yang awalnya adalah hanya mewadahi komunitas antara sesama guru dan praktisi pendidikan, namun kini bertransformasi menjadi sebuah wadah solusi pendidikan yang memudahkan mereka untuk dapat mengembangan kapasitas dan daya saing mereka di era digital ini melalui dukungan teknologi.