Mengasah Computational Thinking Pada Kegiatan Menyetrika
Dipublikasikan oleh Fika Rofiuddin Izza, S.Pd. M.Pd.
Pada 15 February 2026
Pendidikan karakter dan keterampilan hidup (life skills) sering kali dianggap terpisah dari pendidikan akademis yang "berat" seperti teknologi atau matematika. Namun, jika kita melihat lebih jeli pada gambar di atas, di mana para siswa sedang fokus menyeterika dan melipat pakaian, kita sedang menyaksikan sebuah proses belajar yang jauh lebih kompleks daripada sekadar merapikan kain. Kegiatan domestik ini, tanpa disadari, adalah laboratorium nyata untuk melatih logika dasar yang menjadi fondasi dunia pemrograman komputer.
Dalam dunia pendidikan modern, kita mengenal istilah Computational Thinking atau Berpikir Komputasional. Ini adalah kemampuan memecahkan masalah secara sistematis yang menjadi basis dari belajar coding. Computational Thinking memiliki empat pilar utama: Dekomposisi (memecah masalah), Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma. Siapa sangka, saat seorang siswa memegang setrika, keempat pilar ini sedang bekerja aktif di dalam otak mereka. Mereka tidak sedang berada di depan layar monitor, tetapi mereka sedang "menulis kode" melalui gerakan tangan dan pengambilan keputusan.
Mari kita lihat pilar pertama, yaitu Algoritma. Dalam coding, algoritma adalah serangkaian instruksi langkah demi langkah untuk menyelesaikan tugas. Menyeterika adalah kegiatan yang sangat algoritmis. Siswa harus mengikuti urutan yang logis: colokkan kabel, atur suhu, tunggu panas, bentangkan kain, gosok bagian kerah, lalu lengan, kemudian badan, dan terakhir melipatnya. Jika urutannya diacak, misalnya melipat dulu baru menyeterika, atau menyeterika kain sintetis dengan suhu katun, maka "program" akan error (baju kusut atau bahkan bolong). Disiplin mengikuti urutan inilah yang melatih logika prosedural siswa.
Selanjutnya adalah konsep Dekomposisi dan Pengenalan Pola. Sebuah kemeja atau celana panjang adalah objek masalah yang besar. Untuk menyelesaikannya, siswa secara intuitif melakukan dekomposisi: memecah bagian baju menjadi area-area kecil (kerah, saku, lengan) untuk diselesaikan satu per satu. Mereka juga belajar pengenalan pola; mereka tahu bahwa cara menyeterika seragam olahraga berbeda dengan menyeterika kemeja formal. Dalam coding, ini mirip dengan memahami tipe data atau variabel yang berbeda yang memerlukan perlakuan (fungsi) yang berbeda pula.
Proses ini juga mengajarkan seni Debugging atau mencari kesalahan. Ketika siswa melihat masih ada bagian yang kusut setelah digosok, mereka melakukan evaluasi. Mengapa masih kusut? Apakah kurang panas? Apakah perlu disemprot pelicin? Lalu mereka mengulangi prosesnya di area tersebut sampai rapi. Sikap ini, tidak menyerah saat hasil belum sempurna dan mencari solusi perbaikan adalah mentalitas utama yang dibutuhkan oleh seorang programmer saat mencari bug dalam baris kode mereka.
Pada akhirnya, pendidikan holistik adalah tentang melihat keterkaitan antar ilmu. Mengajarkan coding tidak harus selalu dimulai dengan komputer canggih. Melalui kegiatan sederhana seperti menyeterika, sekolah telah menanamkan pola pikir terstruktur, logis, dan solutif. Para siswa di gambar ini mungkin terlihat sedang merapikan pakaian, namun sejatinya, mereka sedang merapikan cara berpikir mereka untuk menghadapi tantangan masa depan yang makin kompleks.