Aksi Insinyur Cilik SDN Nongkosawit: Membangun Jembatan Da Vinci
Dipublikasikan oleh Fika Rofiuddin Izza, S.Pd. M.Pd.
Pada 02 February 2026
Suasana kelas 5 di SDN Nongkosawit terasa berbeda dan penuh semangat pada hari ini. Para siswa tidak sedang memegang buku tulis, melainkan sibuk dengan tumpukan tongkat kayu di meja mereka. Mereka sedang mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang sangat menantang. Tantangan utamanya adalah membangun sebuah struktur jembatan kokoh hanya menggunakan tongkat tanpa bantuan tali ataupun lem.
Kegiatan ini mengadopsi konsep jembatan mandiri atau self-supporting bridge yang pernah dirancang oleh Leonardo da Vinci. Siswa diminta menyusun tongkat-tongkat tersebut sedemikian rupa agar saling mengunci dan menopang satu sama lain. Tanpa adanya perekat, jembatan ini murni mengandalkan gaya gesek dan gravitasi bumi untuk bisa berdiri tegak. Para siswa terlihat sangat antusias saat mencoba memecahkan teka-teki konstruksi yang terlihat sederhana namun rumit ini.
Penerapan sintak STEM dalam kegiatan ini dimulai dengan tahap mendasar yaitu identifikasi masalah dan perancangan desain. Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan strategi penyusunan tongkat yang paling stabil dan efektif. Mereka mencoba menggambar sketsa pola anyaman tongkat sebelum menyentuh bahan fisik secara langsung. Tahap perencanaan ini sangat penting untuk melatih kemampuan imajinasi spasial mereka sebelum masuk ke eksekusi nyata.
Setelah rencana disepakati, kelompok siswa masuk ke tahap konstruksi atau pembuatan dan uji coba produk. Tangan-tangan kecil mereka dengan sangat hati-hati menyisipkan tongkat satu per satu agar struktur jembatan tidak runtuh. Tak jarang bangunan jembatan itu ambruk di tengah jalan, namun mereka segera mengevaluasi kesalahan dan membangun ulang kembali. Proses trial and error atau coba-ralat ini mengajarkan mental pantang menyerah yang sangat berharga dalam dunia sains.
Manfaat utama yang dirasakan dari kegiatan ini adalah pengasahan kemampuan kolaborasi dan komunikasi antar siswa. Setiap anggota tim harus saling mendengarkan dan bekerja sama agar jembatan bisa berdiri dengan sempurna. Selain itu, keterampilan pemecahan masalah kritis diuji secara langsung ketika teori di kertas tidak sesuai dengan praktik di lapangan. Kegiatan ini membuktikan kepada siswa bahwa belajar tidak harus selalu membosankan dan hanya duduk diam mendengarkan guru.
Secara akademis, siswa kelas 5 ini belajar konsep fisika tentang gaya, beban, dan keseimbangan secara menyenangkan dan nyata. Mereka menjadi paham bahwa benda-benda sederhana bisa menjadi struktur yang sangat kuat jika disusun dengan teknik teknik sipil yang tepat. Kegiatan STEM di SDN Nongkosawit ini sukses menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan tak terlupakan bagi anak-anak. Semoga inovasi pembelajaran kreatif seperti ini terus berlanjut untuk mencetak generasi penemu masa depan yang cerdas.