27

XXXX, Angka Ajaib? (+2)

Botaksakti January 20, 2014

nilai kepala sekolah

Seperti biasa,sehabis magrib anak itu datang lagi. Iya, anak kelas IV SD Negeri itu, yang biasa belajar di rumah saya. Kali ini ia ingin belajar Matematika.

“Sampai apa?”

“Agka romawi!”

“Oh, baguslah. Sudah diajari apa?”

“Banyak!”

“Sampai angka berapa?”

“Empat puluh!”

“Nulisnya bagaimana?”

“XXXX”

“Hah……..?!”.saya terperanjat.

“Ye, emang gitu kata bu guru!”, anak itu tak mau kalah.

Lagi-lagi, saya geleng-geleng kepala. Kok bisa begitu, ya? Lha memangnya kalau menulis angka empat itu IIII, pikir saya. Haduh, kasihan sekali anak ini. Ini penyesatan luar biasa.

Kengerian langsung menyergap. Bagaimana bila ternyata guru dengan kualitas seperti ini ternyata tidak hanya satu, tetapi ada beberapa atau bahkan banyak? Berapa anak yang akan tersesatkan? Luar biasa.

Perasaan saya kian masgyul. Kenapa? Tiba-tiba pikiran saya melayang pada sebuah berita di sebuah harian ibu kota yang saya baca siang tadi.Ternyata, para kepala sekolah definitif yang mengikuti ujian lelang kepala sekolah di Jakarta nilainya jeblok. Apalagi, ini terjadi setelah mereka mengtu ujian ulang. Ujian ulang tersebut terpaksa diadakan karena pada ujian yang pertama ditengarai ada kecurangan. Dan nyatanya, beberapa kepala sekolah yang pada ujian sebelumnya mendapat nilai 95 tiba-tiba pada ujian kedua hanya mendapatkan nilai 60. Sebuah hasil yang sangat ‘njomplang’.

Kejadian ini banyak dimaknakan bahwa kepala sekolah yang menjabat selama ini benar-benar tidak memiliki kompetensi yang memadai. Bila kepala sekolahnya saja seperti itu, apalagi mau dan mampu bermain curang, bagaimana dengan guru-gurunya? Maka kejadian penulisan angka 40 secara romawi dengan bentuk yang ‘ajaib’ seperti di atas sangat mungkin terjadi. Bagaimana menurut guraruers?

Comments (27)

    • Mengenai nilai Kepsek definitif yang jeblok dalam Ujian Ulang Lelang Kepsek di DKI, masih harus diteliti lagi dong analisisnya jangan sepenuhnya percaya dengan deskripsi media massa, PakBot. Maklumkan media massa menyasar siapa nembak siapa. Kasihan lho jadi kepsek sudah habis gono gitu gini eh digitukan pula setelah nilai ujiannya jeblok πŸ˜€ … selain itu analisis inikan hanya pansel yang tau dan berkepentingan, masyarakat awam cuma menengadahkan tangan dan berharap kepsek yang terpilih adalah yang bisa memimpin minimal kayak Pak Dedi, Pak Agus, Pak Namin, Pak Muh Rasjid di Karimun, dan banyak kepsek lain yang juga bergabung di guraru

    • bahwa ada media massa yang punya kepentinga, memang tidak bisa dinafikan, Pak. Akan tetapi, kebanyakan media itu sekarang hanya ‘menyalin ucapan/analisis’ dari yang berwenang/narasumber. Jadi, betul bahwa pembaca(saya) harus pintar-pintar menganalisis analisis tersebut dengan melihat siapa dan apa kepentingan nara sumber tersebut. Dan menurut hemat saya, berbekal telinga dan mata yang selama 5 hari dalam seminggu berkubang di Jakarta, itu mendekati kenyataan. Maka saya berani menuliskannya di sini hehehehehe

    • Wah PakBot punya cukup banyak waktu “bergelut” dengan “lumpur” begitu ya? Btw cuma lima hari dalam seminggu apakah itu 5 x 24 jam atau cuma sehari-hariannya nyanggong di kantor ma kantin trus lewat warkop denger-denger tentang topik berita, jadi bisa menganalisis πŸ˜€ saya rasa masih perlu diterawang lagi lho, kecuali jika memang ada kajian empiris berdasarkan statistik model-modelan dari model ngawur sampe model pemirsa tersedak πŸ˜› – tentunya ini sangat tabu beredar di kalangan dunia “hitam” kan pak hehehe

  1. Hanya sebagian kepsek yang seperti itu tapi ada sebagian besar yang jauh lebih hebat dari itu. Sayangya pak Rudy tidak mau di mutasi ke-tempat lain, jadi beliau tetap menolak jadi kepsek. He..he.., saya yakin kalau Pak.Rudy jadi kepsek wah bisa dibayakangkan……………

    • Pak Namin Kepsek Berakhlak πŸ˜€ … saya masih mikir-mikir tentang penempatan sebagai kepsek karena takut yang lain akan terbirit-birit πŸ˜€ – sementara saya cocok sebagai admin guraru sajalah hehehe sambil bisa teleportasi ke tempat lain tanpa meninggalkan perintah delegasi kepada staf yang akhirnya saya sendiri puyeng – kalo memungkinkan pindah kuadran why not?

  2. Saya prihatin menanggapi kasus yang seperti ini, tapi memang kesalahan konsep dalam mengajar bisa membunuh “true knowledge”. Mmmm itu sebabnya sebagai guru penguasaan konsep ilmu harus terus di perhatikan. Sekelumit kecil yang bisa buat puyeng kepala,

    • mending tetris pak Bot, saya malah nemukan st**p poker loh hehehe … tapi keburu didelete oleh montirnya dan kebetulan montirnya teman saya terus setelah di delete besoknya kompi itu rusak digondol cicak

    • Pak Bot : saya malah siap lengser ke puncak klasemen di dinas mana saja hehehe … *keblinger* sorry Pak Namin ya .. kalo terlalu jauh lompatannya πŸ˜›

  3. wah lebih capek membaca komennya dari pada tulisan di atas …. πŸ™
    apalagi yang komen posisi no 1 dan 2 GURU SERU ala AYO MENDIDIK bener2 terbukt di sini πŸ™‚

    saya fokus di angka romawi …. masih adakah guru di IBU KOTA INDONESIA seperti itu memahami angkar romawi? dekat Pak Nuh … compot aja sertifikat sertifikasinya tapi tunjangan jangan kasian heeee ……

    mungkin juga perlu
    “, jadi bisa menganalisis πŸ˜€ saya rasa masih perlu diterawang lagi lho, kecuali jika memang ada kajian empiris berdasarkan statistik model-modelan dari model ngawur sampe model pemirsa tersedak πŸ˜› – tentunya ini sangat tabu beredar di kalangan dunia β€œhitam” kan pak hehehe”
    heeeeeeeeeeeeeeeeeee maaf COPAS KOMENTAR GURU SERU NO 1 MR RUDY
    maksud sy yang tidak bisa anak tadi atau hampir 80% dari siswa menulis 40 = XXXX

    kalau tentang KS, kemampuan akademik jeblok si tidak begitu ngeri, kalau BOS dan dana SISWA MISKIN di embat yang bikin SEDIH SEDIH dan SEDIH πŸ™‚
    sy malas bijara KS yang suka menelanjangi diri dan sekolahnya …….

  4. wah lebih capek membaca komennya dari pada tulisan di atas …. πŸ™
    apalagi yang komen posisi no 1 dan 2 GURU SERU ala AYO MENDIDIK bener2 terbukt di sini πŸ™‚

    saya fokus di angka romawi …. masih adakah guru di IBU KOTA INDONESIA seperti itu memahami angkar romawi? dekat Pak Nuh … compot aja sertifikat sertifikasinya tapi tunjangan jangan kasian heeee ……

    mungkin juga perlu
    “, jadi bisa menganalisis πŸ˜€ saya rasa masih perlu diterawang lagi lho, kecuali jika memang ada kajian empiris berdasarkan statistik model-modelan dari model ngawur sampe model pemirsa tersedak πŸ˜› – tentunya ini sangat tabu beredar di kalangan dunia β€œhitam” kan pak hehehe”
    heeeeeeeeeeeeeeeeeee maaf COPAS KOMENTAR GURU SERU NO 1 MR RUDY
    maksud sy yang tidak bisa anak tadi atau hampir 80% dari siswa menulis 40 = XXXX

    kalau tentang KS, kemampuan akademik jeblok si tidak begitu ngeri, kalau BOS dan dana SISWA MISKIN di embat yang bikin SEDIH SEDIH dan SEDIH πŸ™‚
    sy malas bicara KS yang suka menelanjangi diri dan sekolahnya …….

  5. Dunia pendidikan kita memang memprihatinkan. Mareeee kita bebenah yang belum pas atau sesuai ya berusahalah tapi jangan ngawur dan menghalalkan segala cara.
    Senyum-dan senyum deh bacakomen teman guru di guraru.
    Hore pak Sakti punya angka ajaib…!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar