0

WE DO NEED TEACHERS! (0)

Dea Dimyathi October 24, 2021

Pandemi COVID-19 telah memberikan banyak pembelajaran bagi kita dalam berbagai sektor kehidupan. Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak. Sekolah yang biasanya ramai dengan hiruk-pikuk anak-anak di jam istirahat, tiba-tiba menjadi sepi dan mati. Anak-anak yang biasanya datang ke sekolah, berkumpul dan bergurau dengan temannya, kerja kelompok penuh sukacita, menjadi harus mengisolasi diri di rumah masing-masing dan melakukan apa yang dikenal sebagai online learning

Online learning atau pembelajaran online didefinisikan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari penggunaan teknologi tertentu (Conrad, 2002). Pembelajaran online memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar dari jarak jauh (Benson, 2002). Jika dibandingkan dengan pembelajaran tradisional, maka jelas terlihat bahwa dalam pembelajaran online anak-anak tidak perlu bertemu secara in person dengan gurunya di lokasi yang sama. Dengan perkembangan teknologi yang ada, anak-anak dapat berkomunikasi dan ‘bertatap muka’ secara virtual dengan sang guru. Tujuan dari pembelajaran online ini sebenarnya adalah untuk menyajikan komunikasi, pertukaran informasi, dan bonding yang sama dengan pembelajaran tradisional (Al-Saht, 2020). 

Namun, tiga hingga enam bulan berjalannya sistem pembelajaran online ternyata menuai banyak protes. Banyak kita lihat di media sosial keluhan dari ibu-ibu yang kesulitan membelajari anaknya. Rata-rata mereka mengeluh bahwa mereka harus belajar lagi 10-15 mata pelajaran yang seharusnya diajarkan oleh 15 guru dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Beberapa juga mengutip sulitnya mengkondisikan anaknya untuk belajar. Bahkan, dalam sebuah situs berita nasional tahun 2020, KPAI menyebutkan bahwa banyak anak stress dan memutuskan untuk putus sekolah akibat sistem pembelajaran online.

Sungguh kondisi yang diluar ekspektasi. Berbagai keluhan, kesulitan, dan tantangan berbagai pihak dalam sistem pembelajaran online ini memberikan kita pelajaran bahwa kita membutuhkan guru. Kita membutuhkan keberadaan guru, nasehatnya yang menyejukkan, kasih sayangnya yang ikhlas, dan tentunya ilmu agung darinya. Pandemi ini memperlihatkan dengan jelas bagi kita yang berpikir, bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran guru. Alamwamleh (2020) menyatakan bahwa teknologi memang memungkinkan guru dan murid berkomunikasi dengan baik. Namun, ada beberapa aspek penting yang tidak dapat diraih, misalnya body language. Dalam pembelajaran tradisional, guru menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi untuk mempermudah penyampaian pesan dan membangun keterikatan emosi dengan anak.

Teknologi bisa membuat jarak yang jauh menjadi dekat, namun, sama sekali tidak cukup untuk menggantikan tugas guru dalam mendidik anak . Teknologi membuat kita mampu mencari tau sendiri jawaban dari berbagai permasalahan matematika, IPA, atau IPS, hingga terkadang membuat anak kurang menghargai gurunya. Namun, lihatlah, we are in difficulties without a teacher. It’s not only about delivering knowledge, there is an unlimited complex bonding. Teachers are not teaching, they are educating.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar