10

Waspada Hoaks Bencana (0)

Supadilah S.Si December 17, 2020

Mengingat kembali saat gempa dan tsunami di kota Palu dan Donggala lalu. Bencana yang telah menimbulkan kerugian yang besar. Sebanyak 1.832 jiwa meninggal dunia, 113 orang hilang, dua ribuan orang luka berat, dan 70-ribuan warga mengungsi. Tsunami hingga setinggi tujuh meter ini memberikan dampak kerugian yang luar biasa. Musibah akibat gempa berkekuatan 7,4 SR ini merupakan kesedihan kita. Namun ditengah kesedihan itu, masih ada lagi kesedihan yang tidak kalah merenggut kemanusiaan kita yaitu merebaknya hoax di tengah bencana yang melanda. Hoax pertama adalah imbauan untuk mengadopsi anak di Palu. “Siapa tau ada keluarga kita yang mau adopsi anak dari Palu, ada 100 lebih anak bayi di tempat penampungan di Antang, korban gempa Palu yang sudah tidak ada orang tuanya… “ Selain itu, beredar video tsunami yang sangat besar. Namun sayang, kita sudah kenal sekali dengan video itu. Tidak lain video itu adalah kejadian tsunami di Aceh pada tahun 2004 lalu. Menyebarkan video tsunami Aceh di tahun 2004 memang tidak salah, namun ketika penyebarannya bertepatan dengan tragedi di Palu, menjadi tidak etis sebab orang menjadi mengira bahwa tsunami itu terjadi di Palu. Padahal tidak. Tidak kalah heboh, juga beredar video meletusnya sebuah Gunung Soputan di Sulawesi Utara. Akhirnya, polisi menangkap penyebar hoax itu.

Hoax juga melanda di daerah-daerah yang bahkan jauh dari terjadinya bencana. Diisukan juga tsunami bakal terjadi di daerah dataran tinggi. Jelas ini tidak masuk akal. Sebab, tsunami biasanya terjadi di daerah terdekat garis pantai. Namun karena kepanikan, berita hoax itu pun menimbulkan keresahan pada banyak warga. Selain itu, hoax-hoax yang muncul sebelumnya juga kembali muncul pada kejadian bencana teraktual.  Hal ini dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan memiliki motif tidak baik.

Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana yang besar. Potensi gempa bumi mengintai Indonesia. Hal ini karena secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Pasifik di sebelah Timur, Lempeng Eurasia di sebelah Utara sebagian besar wilayah Indonesia berada dan ditambah Lempeng Laut Filipina. Adapun karakteristik lempeng tektonik, adalah Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah Utara dan bertumbukan dengan Lempeng Eurasia. Sementara Lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat sedangkan Lempeng Eurasia relatif diam. Badan Meteorologi dan Klimatografi mencatat telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali per tahun. Indonesia juga memiliki ratusan gunung api yang menyimpan potensi bencana letusan gunung dan gempa vulkanik. Sehingga wajar Indonesia dikatakan sebagai super markert bahkan hyper market bencana.

Berbagai macam berita muncul mengabarkan prediksi terjadinya gempa. Padahal, para pakar dan lembaga berwenang sudah menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada satu pun teknologi yang bisa memprediksi gempa secara tepat dan akurat. Sehingga, kita jangan langsung percaya jika ada isu gempa bumi dan tsunami yang disebutkan secara detail besaran bencana dan waktu terjadinya. Perlu ditelusuri kebenarannya.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (10)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar