1

Urgensi Linieritas (+2)

Ramdhan Hamdani August 10, 2014

Keluarnya Permendikbud No 68 Tahun 2014 tentang peran guru TIK dan KKPI dalam implementasi kurikulum 2013 mengundang pro dan kontra diantara guru TIK. Adapun salah satu pasal yang dipersoalkan adalah pasal 8 ayat 2 tentang kewajiban bagi guru untuk mengajar mata pelajaran sesuai dengan kualifikasi akademiknya. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa guru TIK yang tidak memiliki kualifikasi akademik dalam bidang Teknologi Informasi, hanya dapat menjalankan tugasnya sebagai guru TIK sampai bulan Desember 2016. Setelah itu mereka pun wajib mengajar sesuai dengan bidang ilmunya.

Dalam pandangan penulis, apa yang tercantum dalam Permendikbud tersebut merupakan keputusan yang tepat. Mewajibkan setiap guru untuk mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmunya menunjukkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme dalam dunia pendidikan. Hal tersebut tentunya tidak hanya berlaku bagi guru TIK namun juga guru mapel lainnya. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila peraturan tersebut (akan) benar-benar dijalankan.

Pertama,  pemerintah hendaknya memiliki data yang akurat tentang kebutuhan guru TIK untuk seluruh sekolah dengan jumlah guru TIK yang tersedia. Hal ini perlu dilakukan guna memastikan bahwa jumlah guru TIK yang linier benar-benar mampu memenuhi kebutuhan di lapangan. Dengan begitu pemerintah pun tidak akan melanggar aturan yang dibuatnya sendiri apabila di kemudian hari ditemukan fakta bahwa jumlah guru TIK yang linier ternyata tidak mencukupi sehingga memaksa eks guru TIK yang tidak linier untuk kembali bertugas.

Kedua, adanya kewajiban untuk menyesuaikan kualifikasi akademik dengan mata pelajaran yang diampu dikhawatirkan akan semakin menyuburkan praktek pembuatan ijazah aspal (asli tapi palsu). Bagi guru yang telah lulus sertifikasi tentunya tidak akan rela jika harus kehilangan tunjangannya hanya karena ijazahnya tidak linier. Akibatnya, jalan pintas dengan mengambil kuliah “kelas express” pun menjadi pilihan yang akan diambil oleh mereka yang ingin mempertahankan tunjangan sertifikasinya.

Ketiga, tingginya biaya kuliah saat ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap tuntutan gaji para lulusan perguruan tinggi (kependidikan) saat mereka terjun ke dunia kerja. Kenyataan menunjukkan, tidak sedikit sekolah (swasta) yang menolak lamaran calon guru lantaran tidak sanggup memenuhi permintaan gaji mereka saat proses wawancara. Dengan demikian keinginan untuk mendapatkan tenaga guru yang ideal pun menjadi semakin sulit.

Berdasarkan gambaran diatas, alangkah bijaknya jika pemerintah tidak menjadikan linieritas sebagai satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Pengalaman, loyalitas serta usaha untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dari guru-guru yang tidak linier hendaknya  menjadi nilai yang harus diperhitungkan. Dengan begitu kita pun tidak akan terjebak dalam “utopia” pendidikan berkualitas seperti yang saat ini terjadi.

 

Ramdhan Hamdani

 

www.pancingkehidupan.com

About Author

Ramdhan Hamdani

Lahir di Bandung 30 tahun yang lalu, pria yang bernama lengkap Ramdhan Hamdani ini menghabiskan masa kecilnya dikota kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan SMU, pria yang akrab disapa Kang Dadan ini pun melanjutkan studynya pada tahun 2000 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Kesulitan ekonomi yang saat itu dialaminya tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Berbagai profesi sudah pernah dijalaninya. Mulai dari penjual koran, guru privat sampai dengan tukang becak pernah dilakoninya demi keberlangsungan kuliahnya. Ketertarikannya pada dunia komputer mendorongnya untuk mengambil kuliah jurusan Tehnik Informatika ditempat lain disaat kuliah di jurusan Bahasa nya masih berjalan. Kuliah mengambil dua jurusan sekaligus dan ditempat yang berbeda memang tidak mudah, tapi itulah yang dilakukannya. Pada tahun 2003, pria yang dikaruniai seorang istri ini pun berhasil meraih beasiswa pertukaran mahasiswa dari DAAD untuk menikmati perkuliahan di negara Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari sana, dia pun melanjutkan studinya di UPI dan berhasil menjadi wisudawan terbaik tingkat Fakultas pada tahun 2008. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadikan profesi pendidik menjadi jalan hidupnya. Berprofesi sebagai guru TIK di SDIT Alamy Subang dilakoninya sejak 4 tahun yang lalu. Selain aktif sebagai pengajar, pria yang beristri seorang guru Matematika SMA IT Assyifa Boardingschool Subang ini juga sangat produktif dalam membuat software-software untuk keperluan sekolahnya. Mulai dari software keuangan, absensi guru dan siswa, perpustakaan, pengolahan nilai dan software lainnya dibuat dengan tangannya sendiri dan dipersembahkan kepada lembaga sebagai bentuk pengabdiannya. Selain itu pria yang mempunyai hoby memancing ini pun aktif di berbagai media, baik cetak maupun media sosial dalam mengkampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya untuk menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan. Adapun beberapa tulisannya yang pernah dipublikasikan oleh media cetak antara lain : 1. Ironi Pendidikan Agama Islam ( Republika, 07 Januari 2013 ) Baca 2. Hitam Putih SNMPTN 2013 ( Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013 ) Baca 3. Antara Tim Sukses dan "Tim Sukses" ( Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 ) Baca 4. Sertifikasi Tanpa Isi ( Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013 ) 5. Mengubah Paradigma Kegagalan ( Republika, 20 Mei 2013) Baca 6. Ironi Tenaga Kependidikan ( Republika, 29 Mei 2013 ) Baca 7. Pelajar dan Tembakau ( Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 ) Baca 8. Reinkarnasi RSBI ( Pikiran Rakyat, 5 Juni 2013 ) 9. Pentingnya Orientasi untuk Orang Tua ( Republika, 22 Juli 2013 ) Baca 10. Politisi dan Ijazah Palsu ( Pikiran Rakyat, 03 September 2013) Baca

View all posts by Ramdhan Hamdani →

Comments (1)

  1. Salam kangen pak Ramdhan, hehehe lama tak menulis dan respon di web ini. Maaf lahir bathin. Ehmm … ya konsekuensi memang tak mudah dilaksanakn namun Insya Allah tak sulit ya pak. Sepakat pak, memang sbaiknya apa pun siapa pun dlm penerapkn sesuatu hrs siap dan konsekwen apalagi pemerintah. Thx sharingnya. Salam.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar