0

Upin dan Ipin Bukan Tokoh Utama (0)

Arif Purwanto October 28, 2021

Saya bertanya-tanya, apa kelebihan dua saudara kembar ini? Upin-Ipin tidak diceritakan sebagai siswa paling pandai dan rajin di kelasnya. Bahkan, keduanya juga pernah mengalami nasibnya Nobita. Nilai ulangannya merah membara. Bukankah, Mei-Mei yang paling rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Dia lebih ideal untuk menjadi murid teladan. Bukankah setiap guru ingin memiliki murid seperti Mei-Mei?

Tapi, saya pun belum penah melihat raport mereka. Adakah episode yang menunjukkan siapa jura kelasnya? Mungkin sama seperti pendidikan di negeri ini, tidak ada rangking dalam raport. Tidak ada siswa tinggal kelas. Rasanya, Upin dan Ipin lebih dulu menerapakan Kurikulum 2013. Banyak hal yang dapat dan harus diukur. Banyak pula hal yang tidak dapat diukur dan dituliskan. Jadi memang, kecerdasan Mei-Mei tidak bisa diperbandingkan dengan Upin dan Ipin.

Ah tidak begitu, Mei-Mei itu hanya gambaran umum siswa perempuan yang lebih mudah diatur dan lebih rajin. Itu kata teman saya. Benarkah demikian?

Mungkin juga Mail lebih tepat dijadikan tokoh utama. Dia rajin membantu ibunya berjualan. Dia harus berbagi waktu bermainnya untuk berdagang di pasar. Akalnya bekerja, apapun dia hitung nilai jualnya. Walaupun kesannya ‘mata duitan’, namun dia tidak serius berjualan kepada teman-temannya. Hanya candaan. Bisa jadi, Mail sedang berbagi kejelian melihat peluang.

Jika menengok kisah Dilan 1991, Jarjit lebih layak menjadi bintang. Dia bukan saja rajin menulis di buku catatan puisinya, namun dia memiliki bakat seorang pujangga besar. Rasanya, Jarjit lebih banyak berpantun dengan tema yang jauh lebih luas, dibandingkan Dilan yang hanya punya satu tema, Melia. Pantun Jarjit spontan, sedangkan puisi Dilan ada dalam bawah sadar, mimpi dan gairahnya.

Ada lagi yang unik, bukankah yang ‘paling senior’ di kelas adalah Ehsan? Dia ketua kelasnya, walaupun sering menjadi bahan ejekan teman-temannya karena perut gendutnya yang hobi makan. Hal itu menunjukkan Upin dan Ipin bukan tokoh yang paling menonjol jiwa kepemimpinannya. Ataukah pemilihan Ehsan sebagai ketua kelas, bentuk sindiran kehidupan sosial kita. Jika kamu kaya, mudah saja kamu mendapat penghargaan sosial.

Ehsan mendapatkan posisinya sebagai ketua kelas, karena dia kaya. Apakah Ehsan dipilih secara demokratis atau ditunjuk oleh Cikgu? Jangan-jangan direkomendasikan langsung Cikgu Besar.

Bahkan Fizi pun bisa jadi tawaran tokoh utama. Entah apa pekerjaan orang tuanya, dia sering mengaku tidak punya uang. Tidak bisa beli buku, tidak mampu beli tiket, dan sering kehabisan uang saku. Kemudian menangis. Iya sih, dia terkadang digambarkan sebagai murid yang ‘sedikit’ tertinggal materi pelajaran.

Upin dan Ipin  memang anak yatim piatu. Ada masa sulit. Kak Ros harus berjualan nasi lemak. Namun, tidak ada kekurangan finansial untuk menjalanai kehidupan sosial secara normal. Ada lebih banyak drama dan empati yang bisa dibangun dari kehidupan keseharian Fizi, bukan?

Saya ingi mensarankan kepada Fizi, belajarlah hidup sejak kecil seperti Mail. Jangan bersenjata tangisan dan belas kasihan. Tapi tentu saja, ini bukan saran yang bijak. Dunia anak-anak adalah belajar dengan bermain. Kartun ini juga lebih banyak bercerita tentang keseruan kehidupan anak-anak itu di ‘base camp’, sungai, kebun durian, pasar malam hingga warung Paman Mutu.

Saya setuju, demikianlah seharusnya anak-anak. Mereka memulai hidupnya dengan kegembiraan yang menjadikan semuanya protagonis. Tidak ada tokoh utama.

#KompetisiArtikelGuraru

 #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar