0

UNTUK MASA DEPANMU Oleh: Lifya guru SLB Negeri 1 Padang (0)

Lifya October 30, 2021

Lifya guru SLB Negeri 1 Padang

 Di pojok Sekolah Luar Biasa  seorang ibu duduk dengan wajah buram. Berbagai perasaan berkecamuk dapat aku baca di wajahnya. Ia sepertinya belum menerima anaknya bersekolah di SLB.

“Anak saya  tidak bisa membaca dan menulis padahal sudah duduk di kelas tiga dan sisarankan ke SLB” Katanya.

Matanya berkaca-kaca sambil mengelus elus kepala anaknya . Seorang anak laki-laki dengan perawakan yang lugu. Ia menunduk tak berani menatap wajahku. Seorang anak yang manis tanpa ada rasa percaya diri. Diam tak banyak bicara tak berteman  berdiri menyendiri di tiang teras apabila sedang istirahat.

Apa potensi dirimu nak? Sulit untuk mengungkapkannya dalam diammu. Memakan waktu yang lama untuk mengungkapkan apa yang bisa darinya.

Hari itu aku tidak bercerita seperti biasanya, ku perhatikan wajahnya ia seperti bertanya. Sudah tiga hari hal itu aku lakukan tanpa ada cerita lima belas menit sebelum belajar. Aku tahu ia menanti-nantikan ceritaku. Buku yang aku bacakan masih itu-itu saja belum aku tukar dengan yang lain tapi berlanjut pada halaman berikutnya. Aku melihat matanya  berbinar ia menikmati ceritaku. Tanpa sadar ia ungkapkan rasa hatinya  kenapa kemaren aku tidak bercerita.

Aku mulai pasang taktik, carita di halaman pertama aku tuliskan di papan tulis. Ia mulai meniru menyalin huruf demi huruf. Kadang ia bertanya huruf apa yang aku buat. Siswaku yang pemalu  mulai berani maju ke depan kelas. Ia mulai hafal cerita.

Pagi itu aku membawa bibit bengkoang mereka keheranan melihat bibit itu. Mereka boleh membuat gambar bibit bengkoang sesuka hati, tidak mesti sama dengan gambar yang aku buat. Mereka semua bersemangat menggambar dengan objek nyata. Gambarpun selesai aku menambahkan dua baris kalimat di bawahnya. Mereka membuat kalimat sesukanya. Kalimat itu kami rangkum bersama sehingga menjadi beberapa baris cerita. Mereka senang  bisa menggambar biji bengkoang. Tidak sampai disitu bibit bengkoang kami tanam di pinggir teras. Setiap apa yang di lakukan dituliskan bersama. Mulai dari menanam, menyiram, menggunting sunur-sunurnya saat panen, sampai bengkoang menjadi olahan sederhana.

Tibalah hari kemenangan SLB tempat aku mengajar menang kegiatan ABK berseri tingkat Provinsi. ABK berseri semacam sekolah Adiwiata yang merupakan program pendidikan lingkungan hidup.  Siswaku yang pemalu ikut cabang menulis cerita tentang lingkungan hidup. Ia menceritakan tentang Siputih Bengkoang Dari Ranah Minang. Tulisannya sesuai dengan kegiatan yang sudah dilakukankannya berhari-hari bersama temannya.

Pemenang tingkat Provinsi berlanjut seleksi ke tingkat Nasional ia terbang bersama kemampuannya menulis dan bercerita.  Alhamdulillah ia diutus berlomba ke tingkat Nasional. Keberangkatannya dielu-elukan oleh warga sekolah, sambil melambaikan tangan ia memandangiku dengan  senyuman . Di gerbang sekolah kedua orang tuanya mengusap air mata bahagia. Mereka tak menyangka anaknya melakukan lompatan yang sangat tinggi.

Dua hari sesudah keberangkatannya ke Jakarta aku mendapat khabar  telah berhasil berhasil meraih juara 2. Warga sekolah bersuka cita aku di beri ucapan selamat karena telah berhasil membimbing siswa meraih kemenangan. Aku bahagia dan terharu  teringat begaimana pertama ia datang ke sekolah dengan harapan yang pupus. Aku merasakan kebahagian  yang berbeda dengan kebahagian disaat aku sendiri yang menang lomba.

Aku merasa bersyukur atas iziNya dalam keterbatasan kemampuan dapat mengantarkan siswaku menuju sebuah titik puncak.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar