6

UN dan Gairah Belajar Siswa (+2)

Ardan Sirodjuddin October 1, 2013

Konvensi Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud tanggal 26 dan 27 September 2013 telah usai. Ada 27 butir rumusan hasil konvensi dimana intinya adalah UN tetap dilaksanakan. Berkisah kebelakang tentang pro dan kontra penyelenggaraan UN menimbulkan pertentangan dua kubu sampai-sampai pihak penolak UN mengajukan keberatan pelaksanaan UN ke Mahkamah Konstitusi. Perdebatan menjadi kian panjang ketika pemerintah dalam hal ini Kemendikbud bersikeras tetap melaksanakan UN. Kontroversi paling kentara adalah pelaksanaan UN tahun kemarin yang banyak menuai masalah mulai dari proses pencetakan, distribusi dan pelaksanaan yang diundur.

Bagaimana sikap kita sebagai guru yang notabene operator di lapangan? Ini tentu pertanyaan yang mengusik. Mengusik apa? Tentu mengusik banyak hal mulai dari persiapan anak didik, pelaksanaan di lapangan, konten yang diujikan dan hasil akhir UN menyangkut nasib masa depan siswanya. Ketika sikap harus ditunjukkan maka cuma ada dua pilihan yaitu setuju dan menolak. Tanpa bermaksud membuat kelompok yang kontra UN protes, secara pribadi dengan melihat dinamika di lapangan, saya merasa ada gairah belajar yang meningkat dari siswa berkaitan dengan UN. Gairah ini menjadi penting ditengah menurunnya minat belajar di kalangan siswa. Secara sederhana UN menjadi pemicu lahirnya kembali gairah belajar siswa. Persoalan apakah gairah belajar itu karena takut tidak lulus atau bukan tentu masih bisa diperdebatkan. Tetapi saya percaya mental generasi saat ini harus dengan pemaksaan dulu baru nanti muncul kebiasaan. Ini sekedar wacana.

Sumber foto : ww.w.arrahmah.com

Tagged with: ,

Comments (6)

  1. Terimakasih pak Ardan Sirodjuddin atas sharingnya. Saya sangat sependapat bahwa UN sampai saat ini masih diperlukan. Terlepas UN dapat memotivasi siswa, namun lebih dari itu bahwa UN sebagai salah satu upaya standarisasi pendidikan. Pendidikan Indonesia kalau mau maju harus punya standar/patokan. Standar untuk mengukur kualitas tertentu dan untuk melakukan peningkatan mutu pendidikan nasional.

    Selama dasar hukum penyelenggaraan UN masih ada, maka UN akan tetap berlangsung.

    Oah iya pak Ardan, bukan ke Mahkamah Konstitusi, namun Mahkamah Agung. Mohon bisa diperbaiki.

    Salam perjuangan,

  2. Terima kasih pak Ardan sharingnya dan salam kenal. Benar pak Sukani, melihat sikon pendidikan di negara kita, andaikan tanpa UN, kemudian standardisasi diatur sedemikian rupa lengkap dengan rambu-rambu dan konsekuensinya, kemungkinan hal ini belum dapat dipertanggung jawabkan. Keadaan kelulusan bisa makin kisruh, pembelajaran dapat terganggu dan korbannya adalah anak didik. Mengingat hal itu saja, maka UN masih diperlukan. Harapan kita, UN mendatang dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, dari proses perencanaan, pemilihan soal, kerahasiaan, yah … optimalisasi kualitas dari smua aspek terkait. Kejujuran dari segala pihak amat penting. Tampaknya sangat ideal, teoritis, namun itulah yang seharusnya dibiasakan. Salam perjuangan.

  3. kalau saya setuju saja ada UN cuman tidak satu-satunya syarat lulus, Sekolah juga menjadi penentu. Untuk peningkatan kualitas harusnya pemerintah memberikan kewajiban pada setiap lembaga mengadakan tes masuk bagi siswa baru dengan JURDIL, biar siswa benar2 belajar dan guru semangat mengajar

  4. Pak Mokhamad subakri : memang UN bukan satu-satunya syarat lulus pak karena masih ada 3 aspek lagi yang ikut menentukan kelulusan siswa di dalam satuan pendidikan.

    Saya tambah setuju sekali dengan apa yang bapak maksudkan bahwa Untuk peningkatan kualitas maka pemerintah memberikan kewajiban pada setiap lembaga mengadakan tes masuk bagi siswa baru dengan JURDIL agar siswa benar-benar belajar dan guru semangat mengajar.

    Salam hormat,

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar