12

Ujian Kesabaran Cinta (0)

Supadilah S.Si December 21, 2020

Setiap orang diuji dengan ujian yang berbeda. Ada konsekuensi pada setiap pilihan hidup kita. Terlahir dari keluarga berkekurangan, ditambah memiliki potensi kecerdasan, Zahrana bertekad mengangkat harkat kedua orang tuanya. Dia harus jadi orang yang pintar agar tidak dilecehkan, seperti ayahnya yang seorang pekerja bersih-bersih, sering direndahkan dan diperlukan sewenang-wenang.

Zahrana pun berhasil membuat sejumlah prestasi. Lulus S1 di Fakultas Teknik UGMdan S2 di ITB, mendapatkan tawaran beasiswa S2 ke Belanda, hingga mendapatkan penghargaan bergengsi dari Tsinghua University, Cina.

Namun mengapa semu itu tidak membahagiakan kedua orang tuanya? Bahkan kepergiannya menerima penghargaan itu tidak diantar oleh orang tuanya. Ayahnya pun tidak menonton TV saat penganugerahan, padahal pejabat daerah, teman dosen, mahasiswa dan tetangganya antusias menonton. Ada apakah?

Tidak lain sikap orang tuanya adalah sebentuk protes atas sikap Zahrana yang dipandang mementingkan perasaan, terus menerus mengejar ilmu, namun melupakan kapan dia akan berkeluarga. Padahal dia sudah berkepala tiga. Zahrana, bagi ayah dan ibumu saat ini tidak memerlukan lagi penghargaan-penghargaan ilmiah itu. Yang mereka inginkan darimu adalah kamu segera berumah tangga, lalu memberi meeka cucu. (Hal 24).

Di Cina, Zahrana mendapatkan sambutan dan pelayanan yang terbaik. Sejumlah fasilitas kalangan atas didapatkan. Hal ini dibalas dengan penampilan yang memukau pada sambutannya dalam penganugerahan itu. Dunia memandangnya. Dunia kagum padanya. Namun telpon dari Lina, justru membuatnya ingin segera kembali ke tanah air. Sepulangnya dari Cina, Zahrana segera menemui orang tuanya.

Di usia ‘darurat’ pada 34 tahun itulah baru kemudian Zahrana sadar. Sekali ini dia harus mengalah untuk memenuhi harapan kedua orang tuanya. Namun sejak saat itu kemudian ujian cinta datang menerpanya berkali-kali. Disukai oleh dekannya sendiri, bahkan nekat melamar langsung ke rumahnya. Ada hal yang membuatnya tidak bisa menerima lamaran sang dekan meskipun secara kedudukan memiliki pangkat, jabatan, sudah naik haji, berpendidikan, dan bahkan akan mengumrohkan kedua orang tuanya. Berat untuk menolaknya.

Namun Zahrana tidak mau gelap mata. Rasa was-was karena usianya yang telah kelewat bukan lantas menerima siapa saja yang hendak meminangnya.  Tawaran sang dekan ditolaknya meskipun dari pihak keluarga dekan sudah ramai-ramai datang ke rumahnya. Ayah dan ibunya pun bingung  serta heran dengan kemauan dan prinsip Zahrana. Namun sang dekan tidak terima dengan penolakan itu. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, Zahrana mengundurkan diri dari kampus, kemudian mengajar di pesantren.

Setelahnya, berkali-kali Zahrana menerima ‘ujian’ datangnya tawaran lamaran oleh seorang satpam dan tukang bengkel. Bukan masalah profesi dan kesejahteraan yang membuatnya menolak namun kepribadian dan akhlak mereka yang membuatnya tidak segera mengiyakan tawaran. Tidak sampai disana, ujian kembali datang, Zahrana ditawari untuk jadi isteri kedua oleh dosen temannya sendiri.

Zahrana meminta bantuan pada Pak Kyai dan Bu Nyai tempat dia mengajar. Oleh bu Nyai, akan diarahkan calon suaminya, seorang tukang kerupuk, yang akan mendatangi rumahnya. Jika Zahrana berkenan, maka itulah suami yang disodorkan oleh Bu Nyai. Jadilah, Zahrana, arsitektur mahasiswa terbaik UGM itu sedang menanti-nantikan tukang kerupuk sebagai jodohnya. Setelah didahului kejadian salah paham, sampailah pada kesediaan Zahrana untuk menikah dengan Rahmad, sang tukang kerupuk itu. Namun Allah masih hendak memberi ujian padanya, menjelang hari akah pernikahan, malamnya Rahmad ditemukan meninggal tertabrak kereta api. Zahrana nyaris gila. Lengkap sudah penderitaannya, dengan meninggalnya sang ayah. Dua kali Zahrana kehilangan.

Rupanya Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuknya. Atas penjagaan kesucian cintanya selama ini, Allah memberikan untuknya jodoh yang tak terduga. Dialah Hasan, sang mahasiswa yang dibimbingnya. Dengan proses lamaran di sore hari oleh Dokter Zul, ibunya Hasan, secara singkat akad nikah dilakukan malamnya, seusai salat tarawih. Itu syarat yang diajukan Zahrana jika Hasan serius. Bukan ingin cepat-cepat, Zahrana enggan kejadian-kejadian sebelumnya terulang kembali. Maka, dengan rangkaian pernikahan yang serba cepat itu, Zahrana mendapatkan jodoh terbaiknya juga sepandan. Hasan merupakan lulusan terbaik di kampusnya pula.

Judul               : Cinta Suci Zahrana

Penulis            : Habiburahman El Shirazy

Penerbit            : Republika

Terbit              : April 2018

Tebal               : iv + 257 halaman

ISBN               : 978-602-082-248-8

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (12)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar