10

Tulislah apa yang kau pikirkan, kemudian lakukan (+6)

Bu Etna @gurutematik February 3, 2014

Selamat Pagi Guraru. Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang sedang kupikirkan. Saya teringat akan kata-kata Omjay dan pak VS tentang “Thinking – Writing” “Berpikir, langsung menulis.” Oleh sebab itulah, judul artikel di atas sesuai dengan apa yang sedang saya lakukan. Insya Allah bermanfaat.

Dalam liburan panjang kemarin, saya sempatkan membaca artikel Guraru yang terdahulu. Saya merasa malu belum bisa menulis seperti itu. Kemudian saya membuka blog siswa dan membaca tulisan mereka. Dua kali malu itu menghinggapi perasaanku. Mengapa? Ternyata tulisan mereka banyak yang lebih baik dibanding tulisanku. Subhanallah. Mereka cerdas, giat, dan antusias sekali dalam menuangkan isi hatinya. Mereka menulis apa adanya, tetang dirinya, proses belajarnya, hasil belajar, termasuk kesan-kesan selama belajar.

IMG-20111004-00058 (2)

Gambar di atas saya  ambil ketika mereka sedang membaca, diskusi, menulis, dan cek silang tulisan, yang kemudian ditulis di blog mereka atau blog guru. Kelas ini merupakan kelas peringkat terbawah ketika saya mulai mengajar. Sebagian siswa sibuk di OSIS, yang duduk di belakang agak ramai, sebagian agak malas, suka mengantuk, jarang mengerjakan tugas, ada yang suka makan di kelas, dll. Hanya sedikit sekali yang pendiam dan tekun belajar, namun mereka ini dapat menyadari situasi dan kondisi kelasnya. Setelah proses yang lama, mereka semua berhasil merebut peringkat atas, walau tak teratas. Subhanallah. Selamat anakku, berdoa dan berjuanglah terus. Doaku selalu menyertai perjuanganmu yang masih panjang, amin ya rabbal alamin.

Hari ini saya ingin sekali meningkatkan proses berpikir, agar tulisan ini bisa lebih bermakna dan bermanfaat, amin. Teringat kembali tentang tulisan para Guraru, saya membaca ulang beberapa artikel. Mengapa tulisan-tulisan itu bisa enak dibaca? Urutan logisnya membentuk kalimat demi kalimat seakan menyatu. Bahasanya mudah dipahami, sebab pilihan katanya sesuai dengan selera pembaca. Subhanallah. Rasanya saya ingin sekali bisa menulis seperti beliau-beliau itu, amin.

Guraru, ketika saya bertemu dengan seorang penulis, kami berbincang tentang penulisan artikel, cerpen, dan novel. Sebelum berpisah beliau memberiku cerpen dan novel karyanya. Malamnya cerpen itu ku baca dan penulisnya seperti berada bersamaku. Mengapa? Ternyata apa yang ditulis itu seperti bahasa lisannya. Saya merasakan beliau yang membacakan atau menjelaskan cerpen itu secara lisan. Malam berikutnya ketika saya melanjutkan membaca cerpen itu, kejadian itu muncul lagi. Apa artinya? Apakah ini suatu sugesti? Mungkin. Yang jelas anjuran para penulis itu benar, yaitu:” Tulislah apa yang kaupikirkan.”

Sejak kecil saya sudah sering menulis apa yang kupikir. Dalam belajarpun saya suka membaca, berpikir, dan langsung menulis. Apalagi ketika menjadi guru dan menulis LKS serta buku kimia yang laku cukup banyak saat itu. Tak terasa hingga pensiun saya selalu menerapkan membaca, berpikir, kemudian menulis. Alhamdulillah, kebiasaan itu membawaku menjadi bu guru kecil, kemudian benar-benar memilih menjadi guru, memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, membantu guru lain se Indonesia ketika memperoleh suatu kesempatan menjadi instruktur, berkeliling ke pelosok Indonesia dan negara lain. Kebiasaanku ternyata ditiru oleh putra-putriku, dan mereka berhasil mengembangkannya. Sebagai hasilnya, mereka telah mampu mengembangkan sayapnya jauh lebih lebar. Subhanallah.

Namun di masa pensiun ini  saya merasa masih banyak yang harus dipelajari, agar kualitas berbagi makin meningkat dan makin bermakna, amin. Oleh sebab itulah Guraru, sayapun mengembangkan sayap untuk menulis cerpen, Insya Allah terus meningkat ke novel. Saya sungguh terpesona oleh tulisan beliau-beliau para Guraru handal itu. Dahulu saya hanya menulis kimia, Insya Allah di sisa usia ini saya dapat menulis cerita fiksi/non fiksi. Ayo Guraru, kita kembangkan sayap, Insya Allah kita bisa.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (10)

  1. Hari ini saya ingin sekali meningkatkan proses berpikirku, agar tulisanku bisa lebih bermakna dan bermanfaat, amin. Teringat kembali tentang tulisan para Guraru, saya membaca ulang beberapa artikel. Mengapa tulisan-tulisan itu bisa enak dibaca?

    Bunda, jangan lupa saya atau aku, jangan dua-duanya.
    🙂

  2. Hehehe iya bu Mugi, terima kasih koreksinya. Alhamdulillah, senang sekali mendapat respon yg membangun. Insya Allah kami dapat terus meninngkatkan kualitas tulisan, agar pesan yg ingin disampaikan tak salah dan mudah dibaca serta dipahami. Amin ya rabbal alamin. Salam takzim.

  3. Makasih koreksinya bu mugi.. 😀
    Saya sendiri lebih suka menggunakan kata “saya” dari pada “aku”, terutama untuk tulisan yg akan dibaca orang banyak.
    Memang kita semua msh dlm proses belajar. Jadi salah-salah dikit, itu hal yang lumrah.. #terusbelajar

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar