0

Tren Pendekatan Pembelajaran K-13 dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (0)

Ahmad Maulidi June 24, 2021

Perancangan pembelajaran merupakan salah satu aspek penting untuk mencapai pembelajaran yang sukses. Rancangan yang dibuat tentunya telah mempertimbangkan banyak hal mulai dari komponen KI, KD, tujuan, hingga aspek evaluasi penilaian. Salah satu komponen yang juga tidak bisa dikesampingkan adalah pendekatan pembelajaran.

Apa yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran? Menurut Milan Rianto (2006), pendekatan pembelajaran adalah cara memandang kegiatan pembelajaran sehingga memudahkan bagi guru untuk pengelolaannya dan bagi peserta didik akan memperoleh kemudahan belajar. Pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Pendekatan berdasarkan proses meliputi pendekatan yang berorientasi kepada guru / lembaga pendidikan, penyajian bahan ajar yang hampit semua kegiatannya dikendalikan oleh guru dan staf lembaga pendidikan (sekolah) sementara peserta didik terkesan pasif, dan pendekatan yang berorientasi kepada peserta didik, penyajian bahan ajar yang lebih menonjolkan peran serta peserta didik selama proses pembelajaran. Sementara guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing dan pemimpin.
  2. Pendekatan pembelajaran ditinjau dari segi materi meliputi pendekatan kontekstual, penyajian bahan ajar yang dikontekskan pada situasi kehidupan di sekitar peserta didik dan pendekatan tematik. Penyajian bahan ajar dalam bentuk topik – topik dan tema.

Di setiap mata pelajaran, pemilihan pendekatan pembelajaran wajib diperhatikan oleh guru. Hal ini dilakukan agar tercipta proses pembelajaran yang interaktif antara guru dan peserta didik. Dalam proses interaksi tersebut, guru harus mampu merancang pembelajaran yang menarik, tidak membosankan, tetapi justru menyenangkan bagi peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran perlu ditentukan dari awal dengan tujuan melaksanakan pembelajaran yang interaktif dan menarik.

Hal ini juga berlaku dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Seorang guru Bahasa Indonesia perlu mengembangkan kemampuan dalam memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan pemberlakukan Kurikulum 2013 saat ini, maka pemilihan pendekatan pembelajaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran di kelas. Hamka (2013) menyatakan bahwa pendekatan pengembangan kurikulum bahasa di berbagai negara maju saat ini menjadi dasar pengembangan Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam tulisan singkat ini, akan dijabarkan beberapa pendekatan pembelajaran Kurikulum 2013 yang dapat guru-guru Bahasa Indonesia gunakan dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Pada dasarnya, pendekatan pembelajaran yang digunakan di sini lebih mengarahkan untuk mengembangkan kompetensi berteks dalam diri peserta didik. Apa saja jenis pendekatan pembelajaran tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Pendekatan Saintifik

Jenis pendekatan ini dipakai dalam pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Dalam penerapan pendekatan ini, penyusunan teks merupakan suatu kegiatan yang kompleks disertai aktivitas peserta didik yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis. Menurut Mahsun (2014) dengan kegiatan yang kompleks tersebut, penyusunan teks sangat relevan dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik/ilmiah yang memiliki ciri-ciri sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis.

Lebih lanjut lagi, Mahsun menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pendetakan ini dilakukan secara sistematis. Kegiatan ini dilalui secara bertahap, terarah, dan terukur. Hal ini dilakukan peserta didik untuk menghasilkan teks dengan tahapan pengumpulan data, analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data diperlukan sesuai jenis teks yang dihasilkan karena beberapa jenis teks memiliki wujud data yang berbeda. Perbedaan wujud data tersebut disebabkan oleh perbedaan fungsi atau tujuan sosial teks yang dihasilkan. Data yang terkumpul tersebut kemudian dianalisis melalui beberapa kegiatan berikut.

  1. Pengelompokkan data berdasarkan daya dukung terhadap pengembangan struktur tertentu berdasarkan jenis teks yang akan dihasilkan;
  2. Mengolah data, informasi, dan fakta yang diperoleh menjadi kalimat-kalimat;
  3. Menetapkan satuan bahasa yang dapat menjadi penghubung antarparagraf sehingga sehingga membentuk teks dengan daya dukung kebahasaan yang memiliki kohesi dan koheren yang baik;
  4. Wujud akhir tersusunnya sebuah teks dengan struktur yang sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan saintifik bertujuan meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Untuk itu, dalam proses pembelajaran diperlukan kompetensi yang dimiliki oleh guru dan peserta didik. Peserta didik dituntut untuk mampu memecahkan masalah dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sedangkan guru dituntut memiliki kemampuan untuk menerapkan dan mengaktualisasikan pembelajaran bahasa Indonesia sesuai tuntutan kurikulum (dalam hal ini Kurikulum 2013).

2. Pedagogi Genre

Untuk menunjang pembelajaran bersifat keterampilan, maka guru dapat menggunakan pendekatan pedagogi genre. Pendekatan ini didasarkan pada siklus belajar-mengajar “belajar melalui bimbingan dan interaksi” yang menonjolkan strategi pemodelan teks dan memabngun teks secara terbimbing bersama sebelum membuat teks secara mandiri. Oleh Kemdikbud (2016), pendekatan pedagogi genre digunakan untuk tujuan pembelajaran yang bersifat keterampilan. Maka dari itu bimbingan dan interaksi guru dengan peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran.

Langkah-langkah pembelajaran dalam pendekatan pedagogi genre teridir atas empat tahap, yaitu:

a. Menyiapkan konteks dan membangun pembelajaran

Di tahap ini, proses pembelajaran pada setiap teks perlu diawali dengan paparan tentang relevansi dan fungsi materi yang akan dibahas dengan konteks kepentingan para peserta didik. Guru dapat melakukannya dengan metode tanya jawab atau curah pendapat. Tujuannya untuk membantu peserta didik dalam memaknai konteks situasional dan kultural tipe teks yang sedang dipelajari. Menurut Elisah (2015), tahap ini juga dapat dilakukan melalui kegiatan menelaah ulang (review) kandungan pelajaran sebelumnya dengan tanya jawab atau cerita ulang. Guru juga dapat memulai kegiatan dengan menciptakan suatu prakondisi melalui pertanyaan-pertanyaan dalam konteks pengalaman bersama tentang tujuan sosial teks. Artinya, tahapan ini akan dapat terealisasi dengan persiapan perencanaan guru yang totalitas, baik dari segi bahan ajar maupun persediaan media pembelajaran yang mendukung fungsi sosial teks yang akan dibahass.

b.    Pemodelan dan dekonstruksi

Menurut Mahsun (2014), terdapat dua kegiatan utama dalam tahapan pemodelan, yaitu membangun konteks dan percontohan teks yang ideal. Pada tahap pemodelan, guru dapat mengenalkan nilai, tujuan sosial, struktur, ciri-ciri bentuk dan ciri-ciri kebahasaan yang menjadi penanda teks yang diajarkan. Wujud kegiatan yang dilakukan guru, yaitu menyajikan model teks itu sendiri, baik itu secara lisan, tertulis, ataupun melalui tayangan. Para peserta didik mengamati model teks tersebut untuk kemudian dimanfaatkan sebagai dasar untuk dimunculkannya sejumlah pertanyaan yang diharapkan relevan dengan KD atau tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan ini semacam membongkar dan merakit kembali bangunan teks berdasarkan tingkat pengetahuan peserta didik melalui model yang disajikan.

c.    Konstruksi terbimbing

Tahapan ini, guru dan peserta didik membangun kompetensi teks bersama-sama. Menurut Kosasih (2018), tahapan konstruksi terbimbing dapat dilakukan dengan model pembelajaran deduktif ataupun induktif. Deduktif berarti guru memberikan penjelasan langsung tentang konsep, prinsip, dan prosedur di dalam mengidentifikasi, menganalisis, menyimpulkan, ataupun memproduksi teks. Induktif berarti guru membimbing siswa untuk melakukan serangkaian kegiatan penemuan, praktik, ataupun proyek terkait dengan KD yang relevan dengan teks.

d.    Konstruksi mandiri

Pada tahap ini, peserta didik meproduksi teks (berteks baik tulis maupun lisan) secara mandiri.  Kegiatan dapat berupa serangkaian latihan, penugasan, ataupun studi kasus/lapangan, berkaitan dengan KD yang sedang mereka pelajari. Kegiatan ini hendaknya dimulai dari kegiatan yang sederhana menuju pada pembelajaran yang lebih kompleks dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan mereka dalam proses pembelajaran terbimbing.

Tahapan-tahapan yang dilalui peserta didik dalam proses pembelajaran dengan pendekatan pedagogi genre memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap.  Ramadania (2016) menyatakan, pedagogi genre yang dilaksanakan mengajak peserta didik secara aktif untuk mengenal konteks melalui membangun konteks, mendekonstruksi teks beserta nilai dan ciri kebahasaannya melalui kegiatan dekonstruktif dalam tahap pemodelan. Selanjutnya, peserta didik merekonstruksi teks bersama-sama dengan teman atau bantuan guru, dan dilanjutkan dengan pemberian tugas kepada peserta didik untuk membuat teks dengan genre yang sama tetapi topik yang berbeda.

3. Content and Language Learning (CLIL)

Pendekatan pembelajaran lainnya untuk mengembangkan keterampilan teks peserta didik adalah pendekatan CLIL (Content Language Integrated Learning). Yulistio dan Anita Fhitri (2019) menyatakan,   Pendekatan   CLIL digunakan untuk memperkaya pembelajaran dengan prinsip; (a) isi teks berupa model atau tugas bermuatan karakter dan pengembngan wawasan serta kepedulian sebagai warga negara dan warga dunia, (b) unsur kebahasaan kebahasaan (kominikasi) menjadi unsur penting untuk menyatakan berbagai tujuan berbahasa dalam kehidupan, (c) setiap jenis teks memiliki struktur berpikir  (kognisi) yang berbeda-beda yang harus disadari peserta didik agar komunikasinya lebih efektif, (d) budaya berbahasa (berkomunikasi) yang berhasil harus melibatkan etika, kesantunan berbahasa, dan budaya (lokal, nasional dan antarbangsa).

Coyle dalam Hamka (2013) mengajukan 4C sebagai penerapan CLIL, yaitu content, communication, cognition, culture (community/citizenship).

a. Content itu berkaitan dengan topik tertentu, misalnya budaya atau lingkungan hidup.

b. Communication berkaitan dengan ragam atau kaidah bahasa yang digunakan, termasuk struktur atau pola penyampaiannya. jenis apa yang digunakan (misalnya membandingkan, melaporkan).

c. Cognition berkaitan dengan kompetensi atau keterampilan bahasa yang dikembangkan, misalnya memahami, mengidentifikasi, membanding-kan, mengevaluasi, menuliskan.

d. Culture berkaitan dengan muatan lokal lingkungan sekitar yang berkaitan dengan topik, misalnya kekhasan tumbuhan, kuliner, dll., yang ada di wilayah tempat peserta didik belajar, termasuk juga persoalan karakter dan sikap berbahasa.

Pada proses pembelajaran, penting sekali merancang pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang tepat. Proses pembelajarn akan berlangsung interaktif dan menarik jika dikonsep dengan pendekatan yang menarik pula. Bagi seorang guru Bahasa Indonesia, menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran diperlukan sebagai bagian dari upaya menciptkan proses belajar-mengajar yang kreatif dan inovatif. Dengan memilih pendekatan santifik, pedagodi genre, dan CLIL diharapkan peserta didik akan mudah menyerap pembelajaran sehingga tingkat kemampuan dan keterampilan berbahasa peserta didik dapat lebih meningkat.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar