1

Tips Masuk Perguruan Tinggi untuk Ortu dan Sekolah (+1)

Siti Mugi Rahayu March 7, 2013

DSC_0128

Dunia perkuliahan adalah dunia impian yang kini sedang menghiasi bulan-bulan terakhir siswa SMA menjelang ujian akhir kelulusan. Pikiran mereka sekarang memang sedang terbagi ke beberapa titik permasalahan yang pelik. Persiapan ujian, ujian itu sendiri, dan perguruan tinggi impian yang akan mereka masuki kelak.

Sebagai guru SMA, saya melihat bahwa justru kecemasan ini menumpuk pada saat mereka akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah dan Nasional. Pada prime time yang tepat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir ini, siswa juga harus membagikan pikiran pada pemilihan jurusan yang sedang dilakukan sekolah terkait beberapa program masuk perguruan tinggi negeri yang mulai berdatangan masuk. Tawaran ini tentu akan membuat galau karena kebanyakan siswa di Indonesia masih “negeri minded”.

Buat sebagian besar siswa dan orang tua, universitas negeri masih menjadi universitas pilihan terbaik dan “termurah” dibandingkan universitas swasta lainnya. Belum lagi jika sekolah tidak melakukan pembinaan maksimal terkait perguruan tinggi , siswa akan terbawa arus teman-temannya dalam memilih jurusan tanpa punya keyakinan yang tepat akan kemampuan dan minat mereka yang tentu saja berbeda.

Untuk itu, saya ingin berbagi kisah dan tips “mencari universitas” bagi orang tua dan sekolah dari sudut-sudut saya memandang dalam keseharian saya sebagai seorang guru.

Pertama, secara umum dalam pemilihan jurusan di perkuliahan kelak, siswa pasti memerlukan orang tuanya. Karena sebagai anak, mereka membutuhkan dukungan baik motivasi maupun keuangan. Oleh karena itu pastikan hubungan orang tua-anak adalah baik. Hubungan yang baik ini akan membuat siswa mempunyai pilihan yang rasional dan demokratis karena biasanya keputusannya lahir dari hasil diskusi antara kedua belah pihak. Dengan begitu, siswa tidak perlu menjadi generasi ikut-ikutan dan salah pilih.

Hubungan baik akan melahirkan komunikasi yang baik pula. Baiknya Jalinan setidaknya akan mengurangi “beban berat” mereka menghadapi masa-masa sulit di SMA. Kesepakatan yang muncul bukan saja tentang jurusan yang sesuai dengan kemampuan dan minat anak, namun juga tentang kemampuan finansial orang tua di jurusan dan universitas yang dimaksud. Saya sering mendapati siswa memilih jurusan tanpa kompromi terlebih dahulu dengan orang tuanya, akhirnya ketika dia lulus tes, kursi mahasiswa yang sudah menjadi haknya tidak boleh diambil oleh orang tuanya.

Di sisi keuangan, orang tua juga harus tahu bahwa berbagai jalur masuk perguruan tinggi dewasa ini membuat “harga” masuk dan uang SPP mahasiswa berbeda-beda dan belum tentu universitas negeri menjadi lebih murah dibandingkan swasta. Untuk itu, konsultasikan dengan pihak sekolah yang biasanya diwakili oleh guru BK, untuk mendiskusikan pilihan dengan harga yang sesuai. Hal yang mungkin dilakukan orang tua juga adalah bertanya ke banyak orang, apakah mungkin saudara, tetangga, rekan kerja atau siapapun yang mempunyai pengalaman terbaru tentang biaya kuliah. Tidak banyak universitas yang menuliskan biaya masuk untuk mahasiswa baru di websitenya, untuk itulah berbincang dengan sekolah menjadi sebuah saran yang baik.

Untuk masalah konsultasi dengan guru BK di sekolah (ataupun bimbingan belajar), orang tua dan siswa tetap harus memiliki keyakinan akan kemampuan, minat bakat, serta keuangan sendiri. Masalahnya, guru mereka pasti akan mengarahkan siswa ke pilihan jurusan dengan tingkat kemungkinan yang paling besar. Suatu hal yang wajar memang, tapi orang tua harus memahami bahasa marketing sekolah/lembaga pendidikan, di mana masuk PTN masih menjadi nilai jual yang sangat tinggi. Siswa dan orang tua kadang keliru. Berharap yang penting masuk PTN, akhirnya memasukkan anak ke jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan minat anak. Tidak sedikit pula mahasiswa yang gagal melalui tahun-tahun pertamanya dengan prestasi lalu kembali mencari universitas dan jurusan baru yang lebih sesuai dengan keinginan mereka.

Jadi jelas sekali orang tua memegang peranan penting dalam menuntun siswa memilih jurusannya kelak di perguruan tinggi. Tips saya untuk orang tua adalah diskusikan, jangan memaksakan kehendak!

Peran kedua dipegang sekolah yang berkepentingan terhadap status kemahasiswaan mereka kelak. Sekolah tidak boleh egois menuntut hal-hal terbaik dari anak didiknya tanpa memberikan pelayanan yang juga terbaik untuk siswa dan orang tuanya. Dalam kaitannya dengan perguruan tinggi, sekolah harus mampu memberikan gambaran tentang perguruan tinggi. Jangan biarkan siswa “terjebak” dengan jurusan yang tidak tepat dan sesuai dengan kemampuan dan minat bakat mereka. Bahkan banyak mereka yang tidak memahami perbedaan diploma atau strata. Berikan program terencana dan transparan tentang pembinaan khusus untuk perguruan tinggi kepada orang tua. Tidak semua orang tua memahami urusan perguruan tinggi yang terbaru. Ketidaksetaraan pengetahuan ini tetap harus dijembatani dengan konsultasi dan diskusi. Dan agar sekolah menjadi pemberi informasi yang tepat dan lengkap, maka sekolah harus selalu terdepan mencari informasi terbaru dan melebarkan sayap dengan menambah kerjasama dengan universitas-universitas negeri dan swasta lainnya baik di dalam maupun di luar negeri.

Terakhir, karena masuk perguruan tinggi hanyalah sebuah jalan menuju sukses, maka siswa tetap harus diberikan pengetahuan dan bekal tentang jalan lain menuju ke sana.

Selamat mencoba !

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar