19

TIDAK LULUS KARENA IJAZAH S2 DAN SETUMPUK PIAGAM (+8)

mokhamad subakri March 2, 2014

saya belum s1 bahkan s2

Panitia seleksi pemilihan pemian terbaik dari berbagai Negara memberikan pengumuman kepada seluruh peserta yang beristirahat, “Selamat buat Anda yang sudah lolos sampai sekarang, berikut ini akan dipilih 15 peserta untuk menjadi team di club kami. Baiklah, sekarang semua peserta berdiri bawa tas kalian, bagi 15 peserta tercepat, dialah yang terpilih, lariii goo ….. goooooo ….”

Peserta dari Indonesia berada diurutan no 16. “Kenapa engkau jadi lambat larinya?, dari data seluruh peserta saya pernah mengamati rata-rata kecepatan berlarimu ada di urutan nomor 2”, kata pelatih dari Indonesia. “Ma’af Pak, tadi tas saya berat”, “Lo, yang lain juga membawa tas!” pelatih sedikit emosi, “Tas saya selain pakaian juga berisi Ijazah TK sampai S2, sertifikat, dan banyak piagam penghargaan jadi BERAT Pak”, sambil menundukkan kepala. “Saya fikir Ijazah dan piagam itu akan ditanyakan seperti seleksi di Indonesia”, pucat di air wajah atlit tersebut. “Sudahlah, begitulah Negara kita” saut pelatih dengan wajah menyesal.

Ah …. Begitulah Negara kita, keahlian masih kalah dengan ijazah, sertifikat, atau piagam. Lihatlah guru-guru kita yang DIBURU untuk menuntut S1 demi sebuah jabatan GURU PROFESIONAL, inilah jalan satu-satunya yang harus ditempuh. Harga multak dan patent. Pemerintah tidak memberikan kesempatan kepada guru-guru yang mungkin belum S1 tapi memiliki prestasi baik dalam pembelajaran, etos kerjanya menakjubkan, atau mereka sering memberikan bimbingan, seminar, atau sejenisnya kepada rekan sejawat.

Tolak ukur pemerintah adalah S1, di lain sisi tidak melihat bagaimana tingkat kualitas perguruan tinggi yang akan mencetak S1 keguruan tersebut. Ujung-ujungnya title S,Pd atau S.Pd.SD hanyalah tambahan kehormatan saja tanpa diimbangi peningkatan mutu guru itu sendiri.

Bagi sebagian besar guru-guru yang mungkin sudah “malas” untuk kuliah menempuh S1 hanya akan “dilakoni” dengan berat hati, oga-ogahan, dan kesempatan meninggalkan jam mengajar. Proses belajar yang tidak nikmat ini hanya mencapai klimaks saat menerima ijasah S1 saja. Setelahnya, proses belajar itu berhenti.

Berbeda jika proses belajar itu terjadi di lembaga mereka yang tersistem dari Kabid, Pengawas, dan Kepala Sekolah yang memiliki misi mendidik guru-guru mereka. Mereka akan belajar sepanjang hayat meski tidak harus dipaksa kuliah S1.

Rekrutmen CPNS Guru harus lebih professional. Tidak hanya lewat hasil tes tulis saja dan lamanya pengabdian, namun pemerintah butuh juga tes kecerdasan emosi-sosial. Kecerdasan professional semacam tes mengajar langsung dan membuat inovasi pembelajaran. Peserta lolos tes tulis dilanjutkan tes semacam PLPG sertifikasi. Disitulah akan terpilih guru-guru yang benar-benar matang dalam mental (mendidik) dan ahli dalam mengajar.

Hal yang efektif bagi kami adalah bagaimana mengatur system sehingga dimuculkan kepala sekolah, Pengawas, kabid, dan jajaran yang berkualitas. Mereka yang mampu membimbing, membina, dan menjadi teladan yang baik. Karena sebenarnya merekalah ujung tombak pendidikan ini. Guru-guru kita akan “asal” jika dipimpin oleh kepaka sekolah yang bekualitas “asal”.

Masihkah WAJIB kuliah S1 bagi guru yang belum kuliah S1 dan sudah memiliki kemampuan melampaui yang sudah lulus S1 atau bahkan S2? Kami kuatir mereka tidak mampu mencapai finish gara-gara terlalu berat dengan segepok ijazah, sertifikat, dan piagam.

Comments (19)

  1. Yg sy ketahui wkt ke Inggris Australia Malaysia dll termsk anak2ku di AS, utk kerja di luar pendidik adalah skill. SMA atau S1 cukup yg skillnya top dan sesuai. Kalau pendidik mrk ketat. Skill no 1 sesuai sertifikat. Sertifikat tak berskill mundur. Min pendidik berskill sertifikatnya S1. Banyak S2 dab S3 ngajar SD. Bgtlah. Di sini hanya sertifikat tanpa dilht skill. Bhs Inggris sertificate = ijazah. Salam.

  2. Saya punya teman yang belum S1 namun memiliki kompetensi yang tinggi dan bahkan bisa melebihi yang S1 di bidangnya merasa didzolimi. Kemampuannya luar biasa karena di atas rata-rata. Tunjangan belum pernah ia dapatkan. Tapi teman saya itu sabar dan tetap bersyukur karena ia percaya rejeki Allah SWT terhadap hambanya.

  3. Memang begitulah fenomena yang menjadi semacam kebiasaan di negri ini yg lebih mengagung-agungkan gelar, ijazah, pangkat dan sayangnya tdk didukung oleh skil dan kompetensi yang mengiringi. Seyogyanya kita (guru) lebih berupaya “Memantaskan Diri” kita agar sesuai dgn gelar yang kita miliki! Harus ada “gerakan penyadaran” bersama serta konsisten untuk menghilangkan stigma “Gila Gelar” dikalangan guru. Trims Pak Bakri atas artikelnya! 🙂

  4. Yg sy ketahui wkt ke Inggris Australia Malaysia dll termsk anak2ku di AS, utk kerja di luar pendidik adalah skill. SMA atau S1 cukup yg skillnya top dan sesuai. Kalau pendidik mrk ketat. Skill no 1 sesuai sertifikat. Sertifikat tak berskill mundur. Min pendidik berskill sertifikatnya S1. Banyak S2 dab S3 ngajar SD. Bgtlah. Di sini hanya sertifikat tanpa dilht skill. Bhs Inggris sertificate = ijazah. Salam.
    Bu Etna @gurutematik

    Benar bunda Malaysia jauh melampau kita ….. merena pendidikan negeri kita 🙂

  5. Saya punya teman yang belum S1 namun memiliki kompetensi yang tinggi dan bahkan bisa melebihi yang S1 di bidangnya merasa didzolimi. Kemampuannya luar biasa karena di atas rata-rata. Tunjangan belum pernah ia dapatkan. Tapi teman saya itu sabar dan tetap bersyukur karena ia percaya rejeki Allah SWT terhadap hambanya.
    Pak Sukani

    semoga beliau dimuliakan dan diberi rezeki yang melimpah Pak 🙂

  6. Memang begitulah fenomena yang menjadi semacam kebiasaan di negri ini yg lebih mengagung-agungkan gelar, ijazah, pangkat dan sayangnya tdk didukung oleh skil dan kompetensi yang mengiringi. Seyogyanya kita (guru) lebih berupaya “Memantaskan Diri” kita agar sesuai dgn gelar yang kita miliki! Harus ada “gerakan penyadaran” bersama serta konsisten untuk menghilangkan stigma “Gila Gelar” dikalangan guru. Trims Pak Bakri atas artikelnya! 🙂
    Taufik Opikibra Ibrahim

    *****************
    benar mas taufik terima kasih juga masukkannya 🙂

  7. Pemerintah mulai lebih memperhatikan gelar daripada skill memang adalah suatu fakta. Syarat “wajib belajar 9 tahun” yang notabene hanya agar murid benar-benar menempuh pendidikan 9 tahun, tapi tanpa tes. Siswa pasti naik kelas sehingga sekarang ini jika diperhatikan, bahkan ada murid yang sudah menempuh pendidikan 9 tahun pun tingkat penguasaan materi jauh di bawah murid yang hanya menempun pendidikan 6 tahun (tamatan SD). Ini pengalaman saya mengajar murid kelas SMA. Bahkan banyak murid SMA yang masih belum mahir melakukan perhitungan penjumlahan yang menyangkut bilangan negatif. Saya sebagai guru hanya bisa mengelus-elus dada, sementara tuntutan kurikulum yang semakin dalam materinya, murid lulusannya bahkan tidak menguasai dasarnya sama sekali.
    Pernah ada dosen lulusan S2, mengajar mata kuliah statistika, bahkan belum mengerti penggunaan metode eliminasi untuk menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel sederhana!!! Jadi saya berkesimpulan, titel semacam S1, S2, S3, jika di Indonesia, itu hanyalah title belaka, tidak disertai kemampuan (walaupun saya tahu, tidak semua yang bergelar S2 S3 seperti itu).

  8. Menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Anak-anak harus diyakinkan bahwa gelar berada di bawah skil bukan sebaliknya. Masalahnya jika guru ikut terkena, huwalah-walah, ya repot.
    M. Rasyid Nur
    *********************
    banyak orang tanpa gelar bisa kaya dan terhormat …. begitu ya Pak … semoga kita lebih baik

  9. Terima kasih sharingnya Pak. Subakri. Membaca comment nya pak. Sukani jadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Mario Teguh ; ” Jika kita sudah bekerja lebih namun penghargaan yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan tersebut, maka Tuhan yang akan membayarnya dengan bentuk lain, bahkan bisa lebih dari materi yang diberikan manusia, bisa dalam bentuk rezeki kesehatan, hati yang bahagia, kemudahan dalam setiap urusan dll. Jika hal itu bisa dirupiahkan berapa hasil yang pantas untuk membeli semua nikmat-nikmat tersebut. Salam syukur dan semangat..

  10. Terima kasih sharingnya Pak. Subakri. Membaca comment nya pak. Sukani jadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Mario Teguh ; ” Jika kita sudah bekerja lebih namun penghargaan yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan tersebut, maka Tuhan yang akan membayarnya dengan bentuk lain, bahkan bisa lebih dari materi yang diberikan manusia, bisa dalam bentuk rezeki kesehatan, hati yang bahagia, kemudahan dalam setiap urusan dll. Jika hal itu bisa dirupiahkan berapa hasil yang pantas untuk membeli semua nikmat-nikmat tersebut. Salam syukur dan semangat..
    fitria yustiarsih

    benar bu fitri … saya setuju

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar