5

Terus Waspada Dari Bahaya Korona (0)

Supadilah S.Si October 29, 2020

Zona merah meluas. Kasus Covid-19 di Indonesia pada Agustus-September semakin meningkat. Jumlah terpapar per Selasa (8/9) mencapai 200.035 orang. Sepekan ini, kasus positif selalu di angka 3000-an.

Sebuah angka yang fantastis. Padahal sebelumnya berbagai prediksi mengatakan Juli-Agustus merupakan puncak kasus korona. Tapi rupanya Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda pengurangan atau hilang.

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lama. Kita sudah enam bulan lebih merasakan dampak Covid-19. Salah satu pencegahannya adalah dengan membatasi aktivitas di luar rumah. Namun kebijakan ini ada memuaskan dampaknya. Grafik kasus Covid-19 masih meninggi.  Padahal telah banyak berbagai pemberitaan tentang korban meninggal atau positif. Rupanya belum efektif membuat pertakut atau minimal kewaspadaan.

Berbagai imbauan pun telah dilakukan. Lewat televisi, koran, media sosial, dan lainnya. Juga banyak instansi yang mengadakan lomba-lomba bertema korona dengan tujuan massifnya edukasi tentang virus ini.

Sebagai catatan, vaksin yang sedang digunakan saat ini masih pada tahap uji coba. Rupanya berbagai upaya di atas kurang mempan mengurangi kasus korona. Kenapa ya kok tidak berkurang juga kasus korona ini?

Lalu pemerintah pun mensosialisasikan kehidupan normal baru atau new normal. Sebuah kondisi baru yang harus dihadapi sebab sebuah kondisi yang tidak kunjung berubah. Masih pada situasi pandemi, tapi dengan menggunakan berbagai tindakan pencegahan.

Namun, tidak mudah bagi masyarakat untuk menaati protokol kesehatan pada new normal. Di berbagai tempat bisa dilihat betapa longgarnya protokol kesehatan dijalankan.  

Tempat umum ramai tanpa adanya pembatasan sosial. Iven-iven yang menyedot banyak orang mulai marak. Banyak sih yang sudah menaati peraturan, tapi tidak sedikit yang abai dengan anjuran pemerintah.

Car free day belum dibuka, tapi lokasinya sudah ramai pengunjung. Arena main di berbagai tempat umum juga ramai pengunjung. Di jalanan sudah mulai macet-macet.

Memang banyak yang memakai masker, tapi yang tidak pakai masker pun tak bisa dihitung pakai jari. Pemerintah daerah tak cekatan mengantisipasi kondisi ini. Mungkin dalam dilema.

Di sisi lain keramaian menghidupkan ekonomi masyarakat. Orang-orang juga butuh makan. Maka antara terpaksa dan tidak peduli sudah tidak bisa dibedakan.

Menimbang PSBB

Pemberlakuan PSBB memang masih berpolemik. Jika diberlakukan, dampak yang paling terasa ada di bidang ekonomi. Selama masa pagebluk ini sudah banyak perusahaan yang merumahkan pegawainya. Usaha-usaha turun omzet. Masyarakat berkurang penghasilannya. Negara diambang resesi. Akibat aktivitas ekonomi yang lesu. Inilah alasan kenapa tidak diberlakukan PSBB bahkan lock down sebagai upaya memutuskan rantai penyebaran Covid-19.

Kalau lock down, pemerintah harus memikirkan biaya hidup warganya. Kalau kondisinya berlangsung lama, berapa biaya yang harus ditanggung pemerintah? Padahal, bantuan pemerintah lewat BLT, di masa pandemi ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Misalnya ya, BLT sebesar Rp. 600 ribu per bulan untuk satu KK. Nah, Rp. 600 ribu ini tidak cukup lho untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga. Kebutuhannya lebih dari itu. Misalnya rata-rata pengeluaran sebuah keluarga Rp 2 juta – Rp. 3 juta per bulan, maka masih banyak lagi kebutuhan yang belum tercukupi. Kan tidak bisa mengandalkan BLT saja.

Maka, PSBB atau lock down merupakan opsi yang sangat sulit dilakukan. Kecuali, negara kota benar-benar kaya yang dapat memenuhi kebutuhan hidup warganya.

Bosan dan apatis. Mungkin itu yang dirasa oleh mereka yang sudah berkorban menjaga  diri agar tercegah penyebaran Covid-19. Namun, melihat betapa mudahnya sebagian orang melanggar ketentuan, bisa jadi makin banyak yang tak acuh lagi. Ini ancaman bagi kondisi masyarakat kita. Kalau sudah tak peduli, bisa jadi loncatan penderita Covid-19 ini semakin banyak dan zona merah semakin meluas.

Apresiasi kepada pemerintah dan berbagai pihak yang terus menyuarakan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan. Juga apresiasi pada tenaga kesehatan dan relawan yang terus berada di garda terdepan melawan Covid-19. Semoga pagebluk ini segera hilang dari bumi. aamiin

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Mari bersilaturahim :)

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar