4

Tentang Aku, Bryan dan Felix (0)

AfanZulkarnain January 1, 2021

Tulisan hari pertama 2021

Penulis : Moch. Afan Zulkarnain

Olimpiade Matematika. Aku begitu bersemangat setiap kali membaca atau mendengar dua kata itu. Entahlah seperti ada jutaan pop corn yang meletup-letup dalam hatiku. Hehehe

Belajar dari pengalaman, bahwa persiapan untuk olimpiade matematika itu harus matang, akhirnya aku memutuskan membimbing seorang anak jauh-jauh hari sebelum ada pertandingan.

Bryan. Anak itu yang aku pilih. Dibanding teman seangkatannya, dia sangat mudah untuk memainkan nalar dalam menyelesaikan soal matematika. Pernah kuberi dia soal setingkat SMA, alhamdulillah bocah oriental ini mampu melahapnya. Dan benar. Sejak itulah aku begitu tertarik untuk membimbingnya.

Bryan masih kelas 7. Dia sudah aku gadang-gadang sebagai perwakilan sekolah dalam OSK tahun depan. Untuk itulah sejak dua pekan ia berstatus sebagai pelajar SMP, aku “mengontrak”-nya.

Kami latihan setiap selasa jam setengah enam pagi. Rumah Bryan jauh dari sekolah. Namun ternyata ia selalu datang lebih awal dari guru pembimbingnya hehehe. Dari hal itu saja sudah membuatku yakin, bahwa Bryan sangat memiliki tekad untuk belajar. Orang tuanya pun sangat mendukung. Alhamdulillah.

Begitulah. Aku dan Bryan selalu berlatih bersama. Terkadang ia aku ajak ke sekolah lain untuk mengukur kemampuannya. Aku yakin, seorang pembalap tidak akan tahu betapa cepat ia melaju kalau ia hanya berada di lintasan seorang diri. Aku tak ingin Bryan jago kandang. Aku ingin tahu seberapa pintar ia dibanding siswa binaan olimpiade dari sekolah lain. Terkadang Bryan lebih unggul dari sekolah A, namun terkadang nilainya tak lebih baik dari sekolah B. Tapi aku selalu membesarkan hatinya, bahwa segala usaha kerasnya ini akan membuahkan hasil suatu saat nanti.

Dia pun kerap aku ajak untuk berkompetisi. Namun rezeki belum milik kami. Tapi tak apa, aku kembali membesarkan hatinya. “Yuk latihan lagi. Selasa Pagi,” dan dia membalasnya dengan anggukan.

Jauh-jauh hari aku sudah menyampaikan ke Bryan bahwa dia adalah calon delegasi sekolah untuk OSK. Maka tujuan kami adalah kompetisi itu. Aku tak menarget lebih. Bagi sekolah swasta seperti kami, amat sulit untuk menembus 3 besar dan melaju ke provinsi. Tapi aku berharap , setidaknya kami masuk 10 besar.

Waktu berlalu. Semester genap tahun pelajaran berikutnya. Terdengar suatu kabar yang mengejutkan. Aku seperti tersambar petir di siang bolong. Bryan akan pindah ke Surabaya. Mengikuti orang tuanya yang dipindah tugaskan ke sana.

Jujur. Aku merasa perjuanganku setiap selasa menjadi sia-sia. Tapi aku mencoba berlapang dada. Aku sempat berpesan kepada Bryan agar dia terus belajar dan selalu mengasah kemampuan matematikanya. Dan kami pun berpisah.

OSK kurang satu bulan. Aku masih belum bisa move on dari Bryan. Siapa yang akan aku pilih sebagai perwakilan sekolah di olimpiade matematika? Apakah mencukupi satu bulan persiapan?

Saat itu aku sudah dinyatakan lolos seleksi CPNS. Artinya, ini adalah kesempatan terakhirku membimbing olimpiade di sekolah itu. Aku ingin memberikan kado perpisahan kepada sekolah. Setidaknya masuk peringkat 10 besar saja.

Pilihanku jatuh pada Felix, dia adalah teman satu gereja Bryan. Alasan aku memilih Felix adalah dia pernah meminta izin kepadaku untuk ikut latihan olimpiade bersama Bryan. Dia meminta tanpa disuruh. Sebagai bukti ia memiliki suatu tekad dan kemauan untuk belajar.

Felix ini anak yang penuh kejutan. Dia terlampau cuek. Bahkan dalam urusan penampilan. Selalu acak-acakan. Tapi dia berlian,kawan. Aku memiliki kesan mendalam dengan anak ini. Sampai sekarang.

Aku mengatakan kepada Felix. “Lix, sebenarnya Pak Afan pengen banget masuk 10 besar. Tapi sepertinya tidak mungkin. Waktunya kurang satu bulan. Dan kamu baru saja intens saya bimbing.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku saja.

“Intinya, kamu mau mengikuti lomba ini saja Pak Afan sudah senang. ” aku mengatakan hal itu. Felix hanya mengangguk. Dia berbeda dengan Bryan. Felix tak banyak bicara. Kalau bicara seperlunya saja.

Kami berlatih keras. Pagi hari dan pulang sekolah. Sempat ia aku pinjami buku kumpulan olimpiade. Aku minta dia mempelajarinya di rumah. Latihan kami sempat terhenti, karena pelaksanaan PTS. Dan yang membuat aku terharu, saat waktu istirahat pergantian pelajaran yang diujikan, aku sempat mendapatinya membaca buku olimpiade tersebut.

Temannya bilang, Felix tidak belajar pelajaran lain. Dia hanya belajar soal-soal olimpiade matematika.

Aku terharu,kawan. Sebegitu kerasnya dia berusaha.

Hingga saat kompetisi tiba. Orang tua Felix sangat berjasa. Beliau memfasilitasi kami mobil beserta supirnya. Maklum tempat pertandingannya sangat jauh dari lokasi sekolah kami.

Sama seperti sebelumnya, ekspresi Felix datar saja. Dia hanya meringis saat aku tanya tentang kesulitan soal yang keluar.

“Yang penting, kamu sudah berusaha saja, Pak Afan sudah senang. Terima kasih, lix.” kataku pelan. Kalimat yang aku katakan dengan haru karena ini adalah kesempatan terakhirku mengantarkan muridku mengikuti OSK sebelum pindah keluar kota karena SK.

saya dan Felix (tengah) beserta temannya, Raffael

Hingga saat pengumuman tiba. Ramai di grup sekolah mengenai pengumuman OSK. Aku memperhatikan dengan teliti. Biasanya aku melihat dari posisi atas. Tapi saat itu, aku melihat dari peringkat bawah. Alhamdulillah di bawah peringkat 30 tidak ada nama sekolahku. Demikian pula di peringkat 20-an maupun belasan.

Mataku terbelalak. Nama Felix ada di peringkat 6.

Aku menjerit kegirangan. Beneran. Aku sungguh sangat senang. Lewat Felix, Allah mengabulkan do’aku. Mengantarkan sekolahku masuk 10 besar. Kado untuk sekolahku sebelum aku pergi.

Aku memanggil Felix dan menyampaikan kabar ini. Begitulah, Felix anak yang terlampau cuek hehehe. Dia hanya meringis saja. Tak ada ekspresi kegembiraan berlebihan. Tapi begitulah Felix. Sosok berlian yang amat memberi kesan. Dia penuh kejutan. Belajar dalam waktu kurang dari satu bulan, tapi bisa tembus 6 besar.

Kabar terakhir, Felix sudah lulus. Dia melanjutkan ke sebuah SMA Katolik di Banyuwangi. Alhamdulillah, kami masih berkomunikasi. Meski sebatas berdiskusi mengenai soal matematika. Sukses terus, Felix.

Aku sangat mensyukuri bisa mengenal banyak anak-anak luar biasa dari sekolah tersebut. Dua diantaranya ada pada judul artikel ini.

Comments (4)

  1. Membaca cerita bryan dan felix 2 sosok yg berbeda karakter tersebut jadi teringat dengan siswa sy di SMA yg bernama Alex dan ghani yg jago biologi dan TIK. Sy dan guru tik beberapa kali mengajak dia untuk mewakili lomba2 biologi atau TIK antar SMK. Beberapakali juara. Namun skrg sudah lulus dan ALEX lanjut kuliah di kesehatan masyarakat UNSRI. Sementara GHANI lanjut di teknik sipil UNILA.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar