0

Tentang Akmal (0)

AfanZulkarnain April 16, 2021

Penulis : Moch. Afan Zulkarnain

Namanya Akmal. Bukan nama sebenarnya. Dari awal semester genap hingga bulan Maret 2021 tak satupun tugas daring ia selesaikan. Begitupun dengan ulangan. Kosong. Hal itu membuatku sedikit kesal. Sebenarnya dia niat sekolah atau tidak,sih? Lalu harus aku beri nilai berapa di raportnya nanti? Malas sekali dia.

Beberapa kali aku mencoba mengingatkannya. Aku mengirimi dia pesan WA. Tanpa balasan. Bahkan dari dua bulan lalu nomer tersebut tidak aktif. Ia pun jarang mengikuti pelajaran lewat zoom. Maunya apa dia?

Awal April, sekolah kami mengadakan pembelajaran tatap muka. Kami sangat ketat melaksanakan protokol kesehatan. Kapasitas tiap kelas hanya dibatasi 50%. Sistem absen ganjil-genap pun dilaksanakan.

Aku memasuki ruangan kelas di hari pertama pembelajaran tatap muka. Aku mengawali dengan menyapa mereka dengan ramah dan memimpin do’a. Selanjutnya aku sedikit memberikan mereka motivasi untuk lebih bersemangat dalam belajar. Terkadang aku selingi dengan canda agar suasana tidak tegang. Aku pun melanjutkan memberi materi pelajaran.

Suasana belajar mengajar sangat hidup. Anak-anak begitu antusias. Saat aku beri mereka soal, mereka berebut untuk menjawabnya. Seorang anak begitu bersemangat melontarkan jawaban atas setiap pertanyaanku. Terkadang jawabannya kurang tepat, ia tampak sedikit kecewa. Namun saat jawabannya benar, ia begitu bergembira. Kehadiran anak tersebut seakan menjadi pembakar motivasi belajar teman-temannya.

Aku yang diawal lupa mengabsen, penasaran dengan anak tersebut.

“Namamu siapa,le?” tanyaku.

Anak itu memandangku. Sedikit mengembangkan senyum lalu memperkenalkan diri, “Nama saya Akmal,Pak.”

Aku seketika terhenyak. Aku tak menyangka anak yang super aktif itu adalah anak yang selama ini membuatku geram karena tak pernah mengumpulkan tugas. Aku memandanginya dari rambut hingga kakinya. Anak yang berusia sekitar 15 tahun dengan postur tubuh sedikit kurus, berkulit putih dengan mata agak sipit.

“Oh..kamu yang namanya Akmal…” itu saja yang keluar dari mulutku. Ingin segera aku menanyakan tentang tugas-tugasnya , namun aku sadar waktu pembelajaran tatap muka sangat pendek. Aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memberikan materi pelajaran.

Aku melanjutkan menyampaikan materi aturan sinus kepada para siswa yang kesemuanya laki-laki itu. Hingga bel pergantian pelajaran usai. Aku tutup pembelajaran dengan menarik kesimpulan atas materi yang aku sampaikan tadi. Tak lupa aku sedikit kembali memotivasi mereka untuk lebih giat belajar.

“Saya yakin, belajar di seolah sudah kalian rindukan selama ini. Jadi manfaatkan momen ini untuk bersemangat dalam menerima semua pelajaran dari Bapak Ibu Guru.”

Mereka hanya mengatakan satu kata. “Inggih…”

Aku pun melangkah keluar kelas, mengenakan sepatu yang aku lepas di depan pintu, lalu bergegas menuju kelas berikutnya.

Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang. “Pak Afan…!”

Aku menoleh ke arah suara. Anak itu memanggilku, kawan. Akmal. Ia menyodorkan tumpukan kertas kepadaku.

“Maaf,pak. Saya baru mengumpulkan.”

Aku menerima semua lembaran tersebut. Tugasnya sangat lengkap. “Kenapa baru mengumpulkan sekarang?” tanyaku sedikit tegas.

Ia pun menceritakan suatu alasan yang membuatku merasa kasihan.

“HP saya rusak, Pak. Orang tua saya belum bisa membelikan HP baru. Jadi saya tidak bisa mengirimkan tugas ke Bapak. Maaf, nggih Pak.” dia sedikit menunduk.

Akmal juga sedikit menceritakan kondisi orang tuanya. Ceritanya membuatku berempati. Ia memohon kepadaku untuk memakluminya karena terlambat mengumpulkan tugas. Aku mengangguk pelan dan memberinya semangat untuk belajar. Karena hanya itu yang sekarang bisa ia lakukan untuk membalas kerja keras orang tuanya agar ia bisa bersekolah. Ia mengangguk pelan dan kembali ke kelasnya.

Dalam hati aku menyesal telah sempat berpikir kalau dia pemalas. Dia tidak malas. Buktinya saat pelajaran dia sangat antusias. Ada kondisi tertentu yang membuatnya terkesan abai dengan tugas sekolah. Tapi dia sebenarnya tidak abai. Buktinya, ia mengumpulkan semua tugasnya. Meski terlambat.

Ah…aku harus lebih memahami siswa.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar