6

Tembok(Imajinasi) sebagai Media Pembelajaran (+1)

Botaksakti May 17, 2012

Barangkali, kita merasa risih manakala tembok rumah kita kotor oleh coretan-coretan anak kita yang sedang belajar menulis. Begitu pula dengan seorang rekan yang katanya sedang pusing karena tembok yang baru dicatnya sudah penuh kembali dengan coretan si kecil, anaknya yang bungsu.


“Saya sudah coba sediakan papan coretan, eh….kembali lagi dia mencoret-coret tembok!”, kata rekan tersebut bersungut-sungut.


Saya tersenyum. Seperti rekan tersebut, saya juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan sampai dua periode karena anak saya dua orang. Yang sedang berlangsung sekarang adalah periode kedua. Anak saya yang kedua ini justru sepertinya lebih masif dibanding kakaknya dulu dalam beraksi mencoret-coret tembok.


Awalnya, saya agak khawatr ketika anak saya(mulai dari yang pertama dulu) mulai mencoret-coret tembok. Kadang agak malu juga bila ada tamu yang datang dan menyaksikan dengan terbuka betapa tembok kami seperti sebuah lukisan abstrak. Dan saya mencoba mencari jalan persis seperti rekan tersebut yaitu menyediakan papan coretan. Akan tetapi, ternyata cara saya itu ditentang oleh istri saya.


“Biarkan saja, Pak, tidak usah diganggu!”, kata istri saya waktu itu.


Dan ternyata istri saya tidak saja melarang saya mengganggu aktivitas anak saya. Ia justru ikut nimbrung bersama anaknya. Hanya saja, ia tidak ikut mencoret-coret tembok, melainkan menempelkan beberapa gambar huruf dan kata yang bisa dibeli dengan harga seribuan tersebut. Hasilnya sungguh di luar dugaan saya. Tanpa diminta atau disuruh, anak saya telah belajar sendiri perihal huruf dan kata-kata itu. Dan tanpa saya sadari, anak saya sudah bisa membaca dan menulis pada usia tiga tahunan.


Belajar dari pengalaman tersebut, saya mencoba menerapkannya di sekolah. Untuk menarik minat anak-anak belajar saya sangat menghindari kesan memerintahkan mereka agar memelajari sesuatu. Saya meniru istri saya yaitu dengan menyediakan bahan-bahan yang menarik untuk mereka pelajari.


Hanya saja, saya tidak bisa begitu saja melakukannya dengan menyediakan tembok kelas sebagai media ekspresi para siswa saya. Kenapa? Maklum, kami berada di bawah sebuah yayasan yang kebetulan orang-orangnya agak kurang mengerti soal pendidikan. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Mereka kurang enjoy dengan tembok yang penuh tulisan atau tempelan. Maka saya mencoba jalan lain. Saya menggunakan pendekatan cerita, sesuatu yang kebetulan sangat saya sukai.


Kepada anak-anak itu, saya sering bercerita tentang hal-hal yang faktual. Ketika berangkat mengajar misalnya, di jalan saya bertemu dengan seorang anak berseragam sekolah dasar yang berangkat ke sekolah dengan duduk di atas kursi roda dan didorong oleh ibunya, maka saya ceritakan itu dengan seekpresif mungkin. Boleh percaya boleh tidak, ada beberapa siswa saya yang meneteskan air mata ketika saya menceritakan itu.


Pun ketika yang terakhir, kasus kecelakaan pesawat Sukhoi, saya ceritakan tentang anak Captain Pilot Aan yang begitu gigih mencari jenazah anaknya. Bagaimana ia mencoba berdoa mencari petunjuk, sampai bagaimana ia datang memenuhi undangan di Metro TV hanya bersandal jepit yang ternyata ada sejarahnya tersendiri.
Cerita-cerita semacam itu ternyata mampu menarik minat anak-anak untk belajar. Mereka kadang bertanya, kenapa hal seperti itu bisa terjadi, bagaimana seharusnya sikap kita, dan berbagai hal yang berkaitan dengan cerita saya. Ini setidaknya melatih mereka berpikir dan tidak membiarkan sesuatu terjadi begitu saja. Saya percaya, cara sepert ini akan melatih mereka menggunakan nalar, perasaan, dan empati mereka tanpa mereka sadari.


Lantas bagaimana menghubungkannya dengan SK dan KD yang termuat dalam kurikulum? Gampang saja, contoh soal kasus Sukhoi, ada kemiringan tebing yang begitu curam, cuaca yang ekstrim, kecepatan super jet yang kesemua itu bisa dihubungkan dengan model-model perhitungan matematika, fisika, bahkan geografi.Ada pula kegotong-royongan, kerja keras, empati, yang tentu berkait erat dengan butir-butir pembelajaran agama, moral, PKN, sosiologi. Bahkan soal kondisi jenazah yang tercerai berai akan menjadi sangat menarik untuk kajian biologi, dan lain-lain.

Pendek kata, dengan sedikit upaya untuk mau menggali informasi, guru tak akan pernah kekurangan bahan/media yang menarik dari setiap persoalan untuk dituangkan dalam pembelajaran. Tertarik? Silakan dicoba!


 

Comments (6)

  1. Menarik mas… memang seharusnya kita tidak terlalu menekan anak dengan gaya mengajar kita, justru sebaliknya, memberikan mereka kebebasan untuk mengekspresikan apa yang ada dalam benak mereka, tentunya kita tetap memberikan bimbingan dan pengawasan agar kebebasan tersebut tetap berada dalam koridornya. 😀 (Eh, iya gitu?)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar