1

Temanku, Hutangmu . (0)

Wulan Dara Auli January 2, 2021

Rina namaku, aku adalah anak SMA yang bentar lagi akan kuliah. Aku memiliki sahabat yang sangat aku sayangi. Dia adalah Icha. Di sekolah kami dikenal sebagai pinang dibelah dua. Dimana ada Icha disitu ada Aku. Kami memiliki hobi yang berbeda. Aku memiliki hobi menulis dan sukanya dirumah. Dan sahabatku Icha memiliki hobi bermain basket dan Icha sangat gaul dan suka kumpul diluar. Sahabat memang saling melengkapi. Aku orang nya tertutup dan sulit mengungkapkan rasa marahku dan keinginanku, sedangkan Icha adalah orang yang aku kagumi dia terbuka, berjiwa bebas berpendapat membuatku merasa aman disampingnya.

Icha dan aku hidup di keluarga yang sangat berbeda. Ayahku seorang pengusahan sukses dan beliau selalu mengajariku disiplin dan menghargai waktu. Sedangkan Icha hidup dikeluarga yang santai. Dan ayah nya seorang pedangang gorengan. Icha bukanlah siswa yang pintar cuma karena sifat Icha yang berani dan percaya diri membuat guru-guru sangat menyukainya. Aku orangnya suka di zona aman dan tidak menonjol di kelas.

Suatu sore hari, Icha menelpon ku dengan suara yang memohon pertolongan. Aku bertanya apa yang bisa aku bantu. Icha mengatakan bahwa dia butuh uang untuk bantu bapaknya. Roda gerobak gorengannya pecah semua sehingga mereka tidak bisa jualan gorengan. Aku bertanya berapa banyak yang harus aku bantu. Icha mengatakan dia butuh 500 ribu. Aku menyetujui untuk membantu meminjamkan uang 500 ribu. Karena aku selalu diberikan uang saku bulanan. Karena selalu ada lebih uang bulanan ku, semua nya aku tabung di celengan.

Aku buka celengan tersebut. Dan aku ambil uang sebesar 500 ribu. Dengan niat ingin membantu sahabat, aku langsung menelpom Icha dan berjanji di lapangan basket sekolah tempat Icha latihan.

Icha berjanji akan mengembalikan uang yang dipinjam dua minggu kemudian. Aku percaya hal dikatakan Icha.

Dua minggu berselang, aku menunggu kabar dari Icha untuk membayar utangnya. Karena uang tersebut akan aku gunakan untuk memperbaikki handphone ku. Karena sebelumnya handphone ku terjatuh dan LCD nya rusak.

Karena sifatku yang sulit untuk menaggih aku hanya bisa menatap Icha seakan mata ku berbicara “Cha kapan kamu mengembalikan uangku?” Icha ketika bertemu denganku seolah-olah tahu tapi tidak peduli. Itu cuma pemikiran dan spekulasiku. Aku tahu sifat Icha dia harus diberitahu apa yang kita pikirkan biar dia “ngeh”.

Aku memberikan waktu untuk Icha mungkin saat ini dia belum punya uang 500 ribu. Aku mencoba bersabar karena aku masih bisa menggunakan handphone ku walau layar nya retak-retak.

Semakin hari, Icha semakin menjauhiku. Aku merasa dia menjauh. Aku telpon tidak diangkat. Aku kirimi pesan singkat sekadar menayakan kabar pun tidak direspon. Apa yang terjadi dengan Icha? Hatiku sering bertanya.

Keesokkannya, aku persiapkan kata-kata untuk menagih hutang Icha. Aku latihan di kaca agar kalimat ku tidak menyakiti perasaan Icha. Aku kumpulkan tenaga dan keluar dari zona amanku.

Aku menunggu Icha di lapangan basket sekolah tempat Icha sering latihan. Tapi, sudah hampir tiga jam menunggu aku tidak melihat Icha disana. Akhirnya, aku meninggalkan lapangan basket tersebut.

Aku pulang kerumah dengan bus. Bus nya sampai di terminal yang menuju rumahku. Pikiranku penuh tentang Icha dan badanku lesu karena aku sudah menyiapkan 100% energi dan menyiapkan kata-kata untuk menagih hutang Icha kepadaku.

Saat turun dari bis. Padangan ku terfokus pada gerobak gorengan bapak Icha. Aku menyempatkan untuk mampir membeli gorengan.

Bapak Icha sangat mengenalku karena aku sering main ke rumah Icha. Aku berkata “Pak, beli gorengan nya yah 20 ribu”. Sang bapak pun berkata “Iya neng”. Sambil bapak Icha menyiapkan pesanan gorengan pun aku bertanya “Pak udah dibeneri roda gerobaknya yang kemarin pecah?” Bapak Icha pun terdiam dan bingung. Beliau berkata “Ban gerobaknya baik-baik saja neng. Alhamdullilah”. Seketika aku terkejut dan merasa dibohongi. Pikirannku penuh dengan pertayaan “Mengapa Icha membohongiku”.

Di hari selanjutnya, aku membulatkan tekad untuk mencari Icha yang coba menjauhiku. Awalnya memang uang tersebut akan aku gunakan untuk memperbaikki handphoneku yang rusak. Tetapi saat ini bukan karena uang saja tapi penjelasan mengapa Icha membohongiku.

Akhirnya aku bertemu Icha di lapangan basket sekolah bersama teman-teman setim nya. Seolah tahu niatku, Icha langsung bilang “Rin, besok ya aku baliki uangmu. Aku janji besok sore aku kerumahmu”. Aku yang tadinya mau bertanya kenpa dia bohong. Hanya bisa berkata “Iya besok sore ya, Cha”

Di sore hari, aku sudah menyiapkan beberapa makanan cemilan, karena Icha yang sudah lama tidak main, hari ini dia mau kerumah. Kebiasaan kami kalau sudah berkumpul yang pasti ngoborol seru-seruan sampai lupa waktu.

Jam 4 sore aku menunggu Icha di teras. Kenapa Icha belum tiba. Selang sejam udah jam 5 sore pun Icha tak kunjung datang.

Jam 6 aku masuk dan mempersiapkan diri untuk sholat magrib. Adzan magrib berkumandang. Ibuku sholat duluan. Dan aku masih fokus denga handphoneku. Aku mencoba mengirimkan pesan singkat kepada Icha “Cha, kok hari ini nggak jadi kerumah. Padahal aku sudah siapi makanan untukkmu”. Pesanku tersebut tidak terkirim.

Ibu telah selesai melaksanakan sholat magrib. Dan ibuku menegur untuk buruan sholat magrib dan berhenti fokus dengan handphoneku.

Aku mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Tiba-tiba, pintu rumah berbunyi. Ibu lalu membuka pintu. Tenyata ada Icha datang. Ibuku melihat Icha yang wajahnya pucat, pandangan kosong dan terasa dingin hanya berkata “Bu, bilang dengan Rina kalau besok ambil uangnya dengan ibu dirumah ya”. Ibuku mengajak Icha masuk. Tapi Icha menolak dan pulang.

Setelah sholat magrib aku keluar dari kamar dan ibuku bercerita kalau tadi ada Icha mampir bentar. Ibuku mengatakan “Icha tadi mampir bilang kamu disuruh kerumahnya besok terus ambil uangnya dengan ibu Icha”. Ibuku juga berkata “Icha sepertinya lagi sakit, pucet sekali wajahnya nak”.

Aku mentiadakan omongan ibukku tentang Icha yang pucat. Karena untuk sekian kali Icha bohongiku. Perasaan kecewa dan sebal menghampiriku dimalam itu.

Besok pagi, aku bersiap untuk kerumah Icha. Saat aku sampai di depan gang rumah Icha yang sempit aku terkejut membaca papan pengumuman. Dalam hatiku berdetak begitu kencang ketika membaca ada nama Marisa Putri temanku di tulisan papan pengumuman untuk orang yang meninggal dunia. Merasa tidak percaya aku melanjutkan langkah kaki ku yang berat. Aku syok melihat dirumah Icha sudah ramai dan ada tenda hitam. Perasaanku campur aduk. Masukklah aku kerumah Icha melihat ada tubuh terbujur kaku. Ibu Icha memelukku dan menangis sesegukkan.

Aku terduduk sembari dipeluk ibu Icha. Ibunya Icha berbisik sembari mengeluarkan uang dari saku dan berkata “Nak, ini uang yang dititipi Icha katanya kasih uang ini ke kamu. Icha bilang terima kasih dan maaf”. Aku terdiam memegang uang tersebut dengan menatap kosong tubuh Icha yang terbaring kaku didepanku.

Aku diceritakan bahwa Icha kecelakaan saat magrib saat akan pergi kerumahku. Saat di rumah sakit, Icha mengeluarkan uang dan berkata kepada ibunya “Bu tolong kasih uang ini dengan Rina bu, Terima kasih dan maaf”. Itulah pesan yang disampaikan Icha sebelum menutup mata selamanya”

Aku menangis sejadi-jadinya. Salah satu teman setim basket duduk disebelahku dan berkata “Icha itu dua minggu yang lalu mendaftarkan diri agar bisa masuk klub basket nasional yang uang pendaftarannya itu 500 ribu. Tapi setelah ikut seleksi. Icha tidak lolos, Icha sangat sedih dan sempet malas untuk latihan basket sekolah”

Aku mendengar cerita tersebut terdiam. Aku mengenal Icha sahabatku yang semangat, ceria dan ceplas ceplos. Ternyta dua minggu yang lalu dia merasa down dan tidak ada yang menghiburnya. Sedangkan aku sibuk dengan pikiran menaggih hutangnya. Dalam pulang kerumah. Aku menatap kosong gulungan uang 500 ribu dan bertanya apakah Icha beneran mampir kerumah ku saat itu. Maafkan aku Cha.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar