2

Teman Abadi Kalkulus (0)

AfanZulkarnain January 21, 2021

Tulisan ke-39 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Siapa yang tidak mengenal kalkulus? Istilah yang membuat mahasiswa matematika sedikit puyeng. Jujur, saya pernah mendapatkan nilai c untuk mata kuliah ini. Saya harus mengulang untuk memperbaiki nilai. Menjengkelkan.

Ada banyak cara untuk meluapkan rasa kesal. Menulis adalah hal yang biasanya saya lakukan. Saya menumpahkan kekesalan itu dengan menulis sebuah naskah teater. Saya beri judul Teman Abadi Kalkulus.

Sebenarnya, tak ada hubungan apa-apa antara naskah teater ini dengan matematika. Hanya saja saya menggunakan nama kalkulus sebagai tokoh centralnya.

Saat itu saya masih getal-getolnya main teater. Saya kerap mementaskan naskah di kampus maupun di beberapa tempat di kampung halaman. Terkadang kami menggunakan naskah orang lain, terkadang kami juga membuat sendiri.

Teman Abadi Kalkulus saya tulis untuk dipentaskan adik-adik saya di Teater Melati SMAN 1 Glagah Banyuwangi. Setiap tahun, mereka selalu mengadakan pentas tahunan. Saya sebagai alumni dimintai tolong untuk menulsikan naskah.

Inilah wujud tokoh sentral Kalkulus saat dipentaskan.

Ya, Kalkulus adalah tokoh yang sudah meninggal. Konflik terjadi saat ia menyadari bahwa ia telah tiada dan menyesali setiap perbuatan jahat yang ia lakukan semasa hidup.

Tokoh lain dalam naskah ini adalah amal. Dia digambarkan sangat buruk rupa, bau dan menyeramkan. Dalam salah satu adegan amal menceritakan bahwa bentuknya yang menjijikkan adalah perwujudan perilaku busuk kalkulus semasa hidup. Perbuatan buruk Kalkulus membentuknya seperti itu.

Amal mengingatkan kembali Kalkulus pada beberapa perbuatannya. Semasa hidupnya Kalkulus amat menyebalkan, seperti halnya mata kuliah Kalkulus yang (menurut saya) juga menyebalkan.

Kalkulus pernah durhaka kepada ibunya dan membiarkan orang tua semata wayangnya menderita kelaparan. Sendirian. Saat amal menceritakan hal itu, penonton ditunjukkan perbuatan bejat kalkulus di masa lalu lewat layar proyektor. Epic sekali. Penonton diajak flash back dengan masa lalu Kalkulus.

Amal juga mengingatkan Kalkulus yang mendapatkan jabatan di pemerintahan tapi dengan tega berlaku korup. Ia tak peduli dengan kondisi sekitarnya. Saat Amal menceritakan itu, layar proyektor menampilkan perbuatan korup Kalkulus yang tak mempedulikan penderitaan rakyat.

Mengenang kembali perbuatannya membuat Kalkulus menangis histeris. Ia menjerit penuh penyesalan. Namun apa daya, waktu tak dapat terputar. Kalkulus tak bisa lagi mengulang hidup. Ia sudah meninggal. Ia harus siap mempertanggung jawabkan segala perbuatan. Beberapa kali Kalkulus meminta tolong Amal untuk melindunginya, namun Amal menolak. Amal bersikeras akan bersaksi atas perbuatan-perbuatan Kalkulus semasa hidup.

Terjadilah konflik antara Kalkulus dan Amal. Konflik itu memuncak hingga terdengar suara gemuruh menakutkan. Amal mengatakan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan datang. Kalkulus sangat ketakutan. Berkali-kali ia meminta tolong kepada Amal untuk melindunginya, namun Amal tak memperdulikannya. Suara gemuruh makin kencang. Kalulus menjerit ketakutan.

Layar pentas pun tertutup. Naskah Teman Abadi Kalkulus selesai dipentaskan.

Di sesi apresiasi, banyak yang memberikan kritik dan saran atas pementasan tersebut. Alhamdulillah, itu yang saya suka dari bermain teater. Selalu ada dialog antara penyelenggara dan pegiat teater yang menonton. Ada juga yang mengkritisi penulisan naskah. Saya mendapatkan masukan atas penulisan naskah tersebut. Saran tersebut sangat berguna untuk saya lebih semangat lagi dalam menulis naskah.

Naskah teater yang dilatar belakangi oleh kekesalan karena mendapat nilai buruk di mata kuliah Kalkulus, akhirnya berhasil dipentaskan. Bahkan beberapa kali ditampilkan di berbagai acara oleh Teater Melati.

Artikel ini saya tujukan untuk adik-adik Teater Melati SMA 1 Glagah Banyuwangi

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar