2

TELINGA MENDENGAR TETAPI MULUT BISU (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto February 15, 2021

Menjadi kepala sekolah berarti harus mempunya telinga yang lebar, bahu yang kokoh, tetapi mulutnya terkunci. Artinya, banyak orang yang mempercayakan kisah hidupnya kepada kepala sekolah, apakah itu dari kalangan guru ataupun wali murid. Maka sebagai kepala sekolah harus bisa menjadi pendengar yang baik, tempat mengadu yang kuat, tetapi pandai menyimpan rahasia.

Aku pernah diprotes teman guru karena memperbolehkan guru lain untuk ijin tidak masuk begitu lama. Jadi Ustadzah Ninis ini mau menikah, tetapi proses pernikahan, termasuk pelatihan pra nikah dilakukan di tempat mempelai pria di Bali. Dia minta ijin tidak masuk selama satu minggu. Tetapi dia tidak mau proses pernikahannya ini dikabarkan dulu kepada yang lain. Jadi aku sampaikan bahwa Ustadzah Ninis ada urusan di luar kota. Ada seorang guru yang protes,

“Kenapa itu ijin lama kok dibiarkan saja?”

“Ustadzah Ninis sudah menyampaikan alasannya dan bisa saya terima, Ustadzah.”

Meskipun mungkin saat itu sang guru belum bisa menerima, tetapi aku akan mengatakannya nanti saat waktunya sudah tepat. Karena Ustadzah Ninis sudah wanti-wanti agar proses pernikahannya ini jangan ada yang tahu dulu.

Begitu juga saat pengambilan raport, banyak sekali wali murid yang datang mengadu. Biasanya saat menjelang pengambilan raport begini curhatnya tentang kesulitan ekonomi, sehingga belum bisa melunasi kewajibannya di sekolah.

Saat awal-awal pembelajaran daring juga begitu. Ada wali murid yang curhat tentang sulitnya mengatur waktu antara bekerja dan mendampingi anak belajar, kebetulan beliau juga seorang single parent. Menyampaikan betapa capeknya beliau sampai stress dan sering menangis karena pandemi ini yang membuat anak-anak tidak bisa ke sekolah. Ada juga yang mungkin saking takutnya jika anaknya ketinggalan, sampai menangis dan terbebani jika anaknya mogok belajar.

Menghadapi semua itu, aku hanya mendengarkan dan hanya membesarkan hati mereka. Bahwa mereka adalah para ibu hebat, yang telah mendampingi anak-anak belajar di rumah. Karena aku sendiri tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir, dan sampai kapan anak-anak belajar di rumah. Aku ajak mereka untuk berdo’a semoga Allah segera mengangkat pandemi ini.

Tetapi ada satu kisah murid yang membuatku ikut sedih. Sangat sedih, karena ingat kisahku sendiri dulu. Si ibu curhat bahwa suaminya pergi, pamit bekerja keluar pulau, sejak sebelum pandemi sampai kini tidak ada kabar. Beliau cerita sambil menangis, yang membuatku juga ikut menangis. Sampai di rumah aku masih bersedih, sampai-sampai suamiku heran,

“Kenapa kamu kelihatan murung?”

“Tadi di sekolah ada wali murid cerita tentang masalah rumah tangganya.”

“Kenapa kamu ikut sedih? Biasanya juga biasa saja.”

“Nggak tahu, lihat wajah ibu tadi cerita sambil nangis rasanya ikut nangis juga. Betapa saat ini banyak sekali anak-anak di sekolah yang jadi korban broken home. Luka itu akan mereka bawa sampai dewasa nanti,” aku mengusap mataku.

“Sudahlah, jangan ikut nangis. Do’akan saja. Bukannya ini bukan pertama kali kamu dengar wali murid yang begini.”

Ya, ini bukan pertama kali di sekolah ada wali murid yang berpisah. Dan bukan kali ini pula aku mendengar curhat dari wali murid. Tapi tak tahu kenapa kali ini aku ikut baper.

Begitulah, seorang kepala sekolah akan banyak mendengar dan menghadapi masalah. Harus banyak mendekatkan diri kepada Allah, agar dimudahkan dalam segala urusan dan senantiasa diberi petunjuk dalam melaksanakan amanah.

Banyuwangi, 23 Desember 2020

Comments (2)

  1. semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat terpaan angin, ini hanya ilustrasi pohon apalagi jika jabatan kepala sekolah pasti lebih tinggi tiupan anginnya hehe.. semoga selalu diberikan kekuatan dalam mendidik bu

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar