2

Telephone Misterius (0)

AfanZulkarnain March 1, 2021

Malam yang begitu dingin. Aku masih berjibaku dengan segala macam pekerjaan yang belum terselesaikan. Pekerjaanku masih menumpuk. Dari tugas siswa yang belum terkoreksi, penyusunan buku, dan beberapa pekerjaan lainnya. Satu persatu aku kerjakan sambil mendengarkan lantunan lagu-lagu band legendaris Aeroshmith. Suara Steven Tyer begitu menyayat kala menyanyikan “i don’t wanna miss a thing”.

Don’t want to close my eyes
I don’t want to fall asleep
‘Cause I’d miss you baby
And I don’t want to miss a thing

Lagu yang sedikit menghiburku yang mulai lelah. Sesekali aku ikut menyanyi lagu itu. Mengikuti irama lagunya. Meski suaraku malah membuat rusak lagu tersebut. Tapi tak apalah, yang penting bisa meringankan beban pikiranku. Memang betul apa yang tertulis dalam sebuah artikel, bahwa menyanyi dapat melepaskan segala penat.

Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor asing. Biasanya aku tak pernah mengangkat nomer yang tidak aku kenal. Tapi entahlah, saat itu aku langsung mengangkatnya. Mungkin ada wali murid yang ingin menyanyakan sesuatu. Atau ada siswa yang ingin bertanya soal matematika. Atau seseorang lainnya yang memiliki suatu keperluan penting denganku.

“Assalammualaikum.” Sapaku sesaat setelah menekan ikon telephon warna hijau. Tanda aku mengangkatnya.

Dari ujung telephon terdengar suara perempuan. Ia tiba-tiba mengatakan sesuatu dengan nada tinggi. Terdengar emosi. Lalu ia mengumpat kata-kata kasar. Tidak memberi kesempatan untukku yang kebingungan untuk bicara. Namun sesaat kemudian, ia menyadari satu hal. Ia salah menelpon orang. Seketika itu juga ia menutup telephonnya.

Aku sendiri mengira itu adalah telephone salah sambung. Maka aku memilih untuk melupakannya dan kembali berkutat dengan segala macam pekerjaanku. Beberapa hari kemudian aku baru tahu siapa perempuan yang telah menelponku dengan mengumpat menggunakan kata-kata kasar.

Seorang rekan guru memanggilku saat kami berpapasan di lorong kelas. Ia menyampaikan sesuatu yang membuat aku terkejut.

“Pak, beberapa hari yang lalu ada yang menelpon Panjenengan?”

“Telephone yang mana,ya pak?” aku balik bertanya karena banyak orang yang menelphoneku beberapa hari terakhir.

“Perempuan,pak. Dia salah sambung. Dia mengira menghubungi nomer orang lain. Waktu itu dia sedang kesal. Namun salah pencet nomer, dan malah menghubungi nomer Njenengan.”

Aku langsung teringat insiden malam itu. “Memangnya dia siapa,Pak?”

“Dia santriwati,Pak. Ia sangat menyesal, dan sempat menangis karena merasa bersalah mengucapkan kata-kata kasar kepada guru. Makanya saya mewakili anaknya untuk minta maaf ke njenengan.”

Aku hanya tersenyum dan menyampaikan bahwa aku sudah melupakannya. Aku tak mengambil hati, karena aku pikir dia tidak sengaja memencet nomerku. Aku menganggapnya hal biasa, karena setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja.

Namun satu hal yang membuatku terheran-heran. Mengapa anak itu begitu overthinking karena merasa menyesal dan sampai menangis.

Jawaban dari rekanku tadi sedikit banyak membuat pikiranku terbuka akan satu hal.

“Santri memang seperti itu, Pak. Mereka sangat menghormati guru. Melakukan kesalahan kepada guru, bahkan mengeluarkan kata-kata kasar kepada guru membuat mereka teramat menyesal. Padahal itu dilakukan dengan tidak disengaja.”

Jawaban dari rekanku sangat sesuai dengan apa yang aku rasakan tatkala kali pertama mengajar di madrasah yang berbasis pondok pesantren ini. Para santri sangat hormat kepada gurunya. Ketika mereka menyalimiku, mereka benar-menar menunduk , mencium tanganku seakan aku orang tua mereka. Saat aku berjalan di hadapan mereka, serempak mereka menundukkan kepala. Diam sejenak. Setelah aku lewat, mereka kembali melanjutkan obrolannya.

Sikap seperti itu mulai langka kita lihat di kalangan anak muda zaman sekarang.

Kembali ke santriwai si penelpon misterius. Aku menyampaikan kepada rekanku, bahwa aku tidak mempersoalkannya. Aku memaafkannya. Tapi tetap aku memberikan pesan agar dia dapat lebih menahan emosi dan menghindari mengucapkan kata-kata kasar.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar