2

Tawa dan suka untuk pendidikan (+3)

MelinaPurnomo May 19, 2015

Berbicara mengenai dunia pendidikan di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Berbicara tentang dunia pendidikan akan sangat luas konteks dan jangkauannya. Jikalau berbicara tentang dunia pendidikan tidak akan pernah terlepas berbicara tentang pahlawan tanpa tanda jasa atau guru itu sendiri pastinya. Bila memang arahnya sudah kesitu passion kita sebagai pahlawan tanpa tanda jasa , tujuan kita sebagai guru juga akan mengalir dengan sendirinya semoga. Kita juga sedikit banyak perlu mengaca pada kisah-kisah yang ada di Indonesia dimana sebut saja ada kisah , kisah nyata dari penulis fenomenal Indonesia untuk saat ini, Andrea Hirata. Kisah yang menceritakan sendiri kisah masa kecil anak-anak komunitas Melayu yang sangat miskin di Belitung. Yang mana anak-anak kecil ini berusaha untuk mengubah nasib mereka dengan cara menempuh pendidikan mereka di sebuah lembaga puritan. Pesan moral yang ingin coba di sampaikan di dalam kisah laskar Pelangi ini dari penulis fenomel ini langsung yaitu tanpa fasilitas yang serba canggih, pendidikan dapat berjalan dengan baik juga. Masih berbicara tentang pahlawan tanpa tanda jasa kita kembali diingatkan ingatan kita bahwa di dalam tempat pelosok pun mereka tetap berusaha untuk melancarkan usaha mereka mengentaskan pendidikan minim. Lokasi dari Sakola rimba dimana tempatnya berada di daerah 60.000 ribu hutan tropis Sumatra. Sang pendiri dari Sakola rimba sampai sekarang ini sudah sampai ke usia yang 14 untuk tetap mengentaskan usahanya dalam memberantas buta huruf. Ini hanyalah sepenggal beberapa kisah nyata yang ingin dibagikan oleh penulis dan semoga pembaca yang membaca tentunya akan mengingat visi dan misinya dalam menjalankan tugas yang diembannya.

Dari dua kisah yang sudah coba dikisahkan sedikitnya oleh penulis, Kalau penulis mencoba menanyakannya kepada para pembaca dapatkah dipetik pesan moral dan sikap yang lebih bijaksana dan rendah diri yang mana penulis melihatnya dari kaca matanya. Pengajar yang sekarang dilihatnya adalah mereka kebanyakan sudah dapat hidup dengan enaknya dari gaji yang diberikan mereka. Bukan dalam arti penulis menceritakan bahwa pengajar harus berada dalam garis kemiskinan layaknya cerita laskar pelangi dan Sakola rimba. Akan tetapi kita berusaha mengingat masih ada banyak pengajar yang berada dalam garis kemiskinan tapi mempunyai tekad yang sangat besar untuk dapat terus mengentaskan buta huruf dan   hal yang lainnya. Yang namanya pendidikan akan berusia lama pastinya jadi sebisa mungkin yang menjadi pengajar juga mempunyai hati yang sangat lapang dalam mendidik anak didiknya dan juga sikap yang melayani dengan tulus. Pendidikan juga sangat banyak cakupannya dimana sebagai pendidik kita dewasa ini diharapkan untuk selalu mengisi kepintaran otak kita sehingga anak didik kita bukan yang malah mengetahui hal yang diketahuinya melebihi kita. Kalau kita berbicara tentang pendidikan tidak akan bisa terlepas dari yang namanya pendidikan teori atau ilmu juga tentunya pendidikan moral. Kita sebagai pendidik harus lebih jeli juga dalam mendidik , meski teorinya sudah kita ajarkan dengan baik sesuai dengan kurikulum yang ada , sebisa mungkin pendidikan moral juga harus kita terapkan juga kepada anak didik kita. Dan inilah kisah yang akan ingin sedikit banyak disharingkan oleh penulis yang boleh disebut mantan pengajar. Mari kita dengarkan kisah tawa dan suka untuk pendidikan sang penulis.

Penulis secara pribadi mengatakan bahwa pendidikan moral berbicara lebih banyak tentang pendidikan yang sejauh ini ia sudah jalani. Pendidikan moral tak lepas dari pendidikan karakter yang dalam mendidik anak didiknya dengan sebaik-baiknya. Bukan dalam arti teori tidaklah penting tetapi moral dan karakter dalam anak didik mereka akan terus melekat di ingatan mereka akan siapa yang mengajarnya terdahulu. Kalau ilmu dan teori dapat mereka enyam di bangku sekolah secara bersamaan dengan pendidikan moral. Penulis bisa berbiacara demikian karena dia sejauh ini mengajar anak didik di usia taman kanak-kanak. Karena itu penulis paham betul apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Anak-anak dengan usia yang masih minim , dengan sifatntya yang beraneka ragam tentunya akan sulit ditebak jika kita tidak mendidiknya dengan baik. Di tulisan ini penulis berusaha mencoba membagikan sedikit kisahnya menjadi seorang pengajar bagi anak didiknya yang membuat dunianya ceria dengan melihat keceriaan mereka yang sangat beraneka ragam.

Dunia anak-anak sangatlah membahagiakan ketika kita dihadapkan pada dunia pendidikan, yang mana secara langsung penulis berhadapan dengan anak-anak yang masih awal mengenal dunia pendidikan secara langsung oleh orang tua mereka. Ketika sebagai pengajar untuk mendidik anak-anak di usia kecil itu, mau tidak mau sebagian besar jiwa kita juga mau tidak mau haruslah menyenangi mereka juga kalau tidak kita akan sedikit banyak mengalami kesukaran. Ketika kita sudah masuk ke dalam dunia analk-anak kita dengan sendirinya haruslah masuk di dalam dunia mereka juga.  Dunia anak-anak sangatlah beraneka ragam dan yang pasti sebagai pengajar kita tidak akan pernah merasa bosan malah sebaliknya yang ada jika salah satu dari anak didik kita yang tidak datang ke sekolah di hari itu, kita akan merasa ada yang hilang.

Pengalaman pertama saya menjadi pengajar anak-anak sangatlah menyenangkan pastinya. Anak-anak mempunyai berbagai macam sifat yang tidak dapat ditebak tetapi sekaligus menyenangkan. Tetapi yang ada sebagai pengajar kita tentunya juga belajar apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Anak-anak yang masih bersekolah di kindergarten , kita sebagai penhajar harus lebih banyak berkreatifitas dengan mereka. Anak-anak harus diajar lebih kreatif dalam hal belajar. Biasanya yang diajarkan kurang lebih dalam hal huruf ( letters) dan numbers ( angka).  Anak-anak sebagaimana yang kita ketahui mempunyai daya kreatifitas yang sangat tinggi oleh karena itu kita sebagai pengajarnya haruslah dapat menyeimbangkannya. Kita ajarkan mereka hal-hal dasar terlebih dahulu tentang angka-angka dan huruf yang ada. Dalam mengajarkannya pun sebagai pengajar kita kembangkan dengan gambar-gambar dan suara yang menyerupai dengan angka dan huruf itu. Sebagai contohnya ketika kita mengjarkan tentang angka tiga kita kreasikan dengan cerita dimana angka tiga itu seperti binatang burung ataukah angka empat seperti kursi dan lain halnya. Dengan membuat anak-anak lebih kreatif , otak kanan mereka pun juga akan lebih berkembang. Anak- anak juga pada dasarnya suka tentang hal-hal baru yang mereka lihat di sekeliling mereka, misalnya binatang. Sebisa mungkin kita sebisa pendidiknya kita mengajarkannya dengan meminta membawakan beberapa anak didik kita jika mereka mempunyai binatang peliharaan seperti kelinci, ikan atau pun kura-kura beserta kandangnya , dan cara memelihara binatang tersebut. Dengan cara seperti itu diharapkan mereka dapat dengan mudah untuk dapat mengingat apa yang disebut dengan kelinci, ikan ataupun kura-kura sekaligus meningkatkan cara memelihara binatang dengan baik. Di samping itu kita juga sebagai pendidik kita juga membawa anak didik kita dengan membawa mereka langsung ke kebun binatang atau taman safari sehingga mereka dapat lebih melihat dengan banyak lagi ada berapa jenis binatang buas ataupun yang dapat dipelihara oleh mereka pada umumnya.

Kurang lebih begitu sharing yang dapat disharingkan oleh penulis sekaligus yang dulu sempat berprofesi sebagai pendidik anak-anak kecil. Yang mana menurut pengajar dunia mereka sangat luas dan tidak ada batasnya sebagaimana kita sebagai pengajar dapat menyeimbangkan daya kreatifitas dan imajinasi mereka. Karena mereka pada dasarnya cara belajar mereka masih diseimbangkan dengan daya bermain. Semoga sharing saya dapat menjadi pacuan agar pendidik yang lain lebih memiliki hati jika mereka mendidik anak didik mereka juga.

 

 

 

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar