2

TARIKLAH TANGANKU KE SURGA, NAK! (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto November 13, 2020

Ini pengalaman yang paling mengharu biru selama saya menjadi guru. Dan membuat saya semakin mencintai profesi ini.

Aku tak akan pernah melupakan hari itu, Kamis, 27 November 2014. Hari itu saya bangun dengan perasaan galau. Terngiang lagi percakapanku semalam dengan Bu Nina, psikolog yang bekerja sama dengan sekolah kami. Fadhil, salah seorang muridku yang kebetulan sedang terapi bersama beliau, sekarang kondisinya makin parah baik mental maupun fisik. Aku jadi kepikiran. Ditambah lagi cuaca hari itu juga mendung. Jadilah perasaanku tambah kacau. Seharian itu rasanya ingin menangis saja. Tapi tak bisa. Karena hari ini anak-anak sedang menghadapi Try Out Ujian Sekolah. Jadi aku tidak boleh terlihat sedih di depan mereka.

Fadhil. Berkali-kali wajahnya melintas dalam bayanganku. Senyum polosnya. Sikapnya yang santun. Di awal tahun ajaran ini ibunya berkali-kali menitipkannya padaku, karena kondisi Fadhil tergolong Anak Berkebutuhan Khusus. Aku tak tahu persis apa jenis kekurangan Fadhil. Menurutku dia anak yang sopan, tidak pernah berbuat onar, selalu menuruti kata-kata guru. Kekurangannya hanya pada kemampuan akademis yang di bawah teman-temannya.

Di awal naik kelas enam, tidak ada masalah yang berarti dengan Fadhil. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebagai siswa kelas enam, mereka selalu kuberi motivasi agar giat belajar menghadapi Ujian Akhir, dan juga meningkatkan ibadah mereka. Fadhil adalah salah satu siswa yang ibadahnya meningkat berkat motivasi-motivasi yang kuberikan.

Tetapi kondisinya berubah setelah selesai Ujian Tengah Semester. Kuperhatikan dia tak lagi bisa menangkap apa yang orang katakan padanya. Harus diulang-ulang baru dia bisa paham. Mau bicara pun masih bingung. Aku jadi kasihan. Hari itu dia mendatangiku dengan wajah bingung,

“Mas Fadhil mau apa?” Dia menatapku lama.

“Mau ke belakang kah?” Senyum mengembang di wajahnya.

“Iya, Ustadzah.”

“Ya, silahkan.”

Kali lain dia mendekat ke arah galon air, tapi kemudian berhenti. Tampak bingung.

“Mau minum, Mas?” Sekali lagi mata bening itu menatapku.

“Kalau mau minum, botolnya diambil terus diisi ya,” kataku sambil menunjuk botol di atas mejanya. Dia berjalan mengambil botolnya, dengan kebingungan yang masih melekat di wajahnya.

Begitulah, kejadian-kejadian itu berlanjut kira-kira seminggu. Setelah itu ibunya menelponku bahwa kondisi Fadhil tidak memungkinkan untuk sekolah. Dia akan dibawa ke Bu Nina untuk diobservasi dan terapi jika memang dibutuhkan. Bu Nina adalah psikolog yang bekerjasama dengan sekolah kami. Seminggu kemudian ibu Fadhil ke sekolah dan menyampaikan kabar yang membuatku merasa bersalah.

“Maaf Ustadzah, untuk sementara Fadhil disarankan terapi di Bu Nina dulu. Jadi tidak boleh sekolah di sini dulu.”

“Lho, memangnya Mas Fadhil sakit apa, Bu?”

“Kata Bu Nina, dia menderita psikosomatis.”

“Apa tuh?”

“Mengalami kecemasan berlebihan akan sesuatu. Sepertinya dalam hal ini Ujian Sekolah, Ustadzah.”

“Hah?” Aku melongo,”Bagaimana bisa, Bu?”

“Jadi Fadhil sangat cemas dan takut menghadapi ujian, sehingga mentalnya sakit. Dia jadi seperti orang linglung. Mau BAK aja bingung melepas celananya, mau ngomong juga susah, Ustadzah,” ibunya bercerita sambil berurai air mata.

“Sebegitu parahnya kah, Bu? Aduh, maafkan saya. Ini pasti gara-gara saya yang terlalu keras menekan anak-anak untuk belajar menghadapi ujian.”

“Ah, bukan salah ustadzah. Ustadzah kan hanya menjalankan tugas. Ya, memang kondisi anak saya yang seperti itu. Jadi untuk sementara saya mohon ijin anak saya sekolahnya di tempat Bu Nina, Ustadzah.”

“Iya, Bu. Semoga Mas Fadhil segera diberi kesembuhan dan bisa bergabung lagi dengan teman-temannya.”

Selama dua minggu berikutnya aku selalu memantau perkembangan Fadhil, menanyakan apakah dia sudah siap bergabung kembali bersama teman-temannya di sekolah. Bahkan satu kali kami sekelas pernah beramai-ramai menengok Fadhil di rumahnya. Dia tampak bahagia, meski belum bisa mengobrol banyak dengan teman-temannya. Dari cerita ayah ibunya aku jadi tahu, bahwa dalam kondisi sakit seperti itu ternyata Fadhil tidak pernah meninggalkan sholat malam. Bahkan ketika ayahnya dalam kondisi amat capek karena baru pulang kerja jam 12 malam, Fadhil membangunkannya jam 2 malam untuk qiyamul lail.

“Kata ustadzah, Allah akan mengabulkan jika kita meminta pada jam segini, Ayah,” begitu kata Fadhil seperti yang ditirukan ayahnya.

“Saya sampai malu pada anak saya itu, Ustadzah. Dia tak pernah bolong qiyamul lailnya. Dia sangat percaya pada apa yang Ustadzah ucapkan,” sambung ayahnya lagi.

Tak terasa air mataku menitik haru. Dengan kondisinya yang seperti itu ternyata dia masih mengingat kata-kataku, sangat mempercayainya, dan bahkan berusaha melakukannya. Semoga Allah menolongmu, Nak.

Seminggu kemudian saya dapat kabar bahwa Fadhil sudah siap masuk sekolah lagi. Teman-temannya pun sangat gembira mendengar kabar ini. Mereka siap membantu jika Fadhil membutuhkan.

Hari yang dinantikan tiba. Fadhil masuk sekolah lagi. Sejak pagi anak-anak mengerumuninya. Menawarkan bantuan ini itu. Seperti biasa, dia hanya menampilkan senyumnya yang manis. Hari itu berlalu dengan baik. Harapan saya, Fadhil benar-benar sembuh dan siap bergabung dengan kami lagi.

Tetapi harapan tak seindah kenyataan. Esoknya, saya menjadwalkan untuk ulangan IPS. Setelah ulangan, Fadhil pamit ke toilet. Ditunggu lama tak muncul, saya meminta Nabil, temannya untuk melihat. Sepuluh menit kemudian Nabil muncul mendekatiku.

“Ustadzah, Fadhil ngompol,” Nabil berbisik.

“Hah?!”

“Iya, Usatdzah. Dia tidak mau keluar toilet karena celananya basah.”

“Ya, sudah. Sekarang minta tolong bawakan tasnya Fadhil, Ustadzah akan telepon orangtuanya untuk menjemputnya pulang.” Aku bergegas menuju toilet sambil menelepon orangtua Fadhil, memintanya menjemput ananda.

Sambil menunggu orangtuanya datang menjemput, aku menunggui Fadhil di dekat gerbang. Kupandangi wajahnya yang tampak bingung dengan kondisinya.

“Mas Fadhil sakit perut?” Dia menatapku lama, lalu menggeleng. Aku tersenyum.

“Tunggu dulu sebentar ya, Mas Fadhil akan dijemput ayah. Setelah itu istirahat dulu di rumah. Besok sekolah lagi,”

Esoknya Fadhil tidak sekolah lagi. Ibunya mengatakan bahwa kondisinya menurun lagi. Berkali-kali aku minta maaf, karena Fadhil masuk bertepatan dengan ulangan.

Sampai seminggu kemudian dia belum masuk lagi. Akhirnya kuberanikan diri menghubungi Bu Nina, yang kemudian membuatku galau dengan jawabannya itu. Bu Nina mengatakan bahwa kondisi Fadhil semakin memburuk, baik mental maupun fisik. Bahkan oleh dokter disarankan untuk melakukan CT scan untuk mengetahui kondisi syarafnya. Tetapi itu pun masih belum bisa dilakukan sekarang, karena fisiknya masih belum memungkinkan, dia sedang sakit flu.

Aku sedih mendengar berita ini. Seharian itu aku ingin menangis. Kutumpahkan uneg-unegku ini pada salah seorang rekan. Kami berencana besok sepulang sekolah akan menengok Fadhil lagi. Menjelang pulang, aku minta anak-anak untuk berdo’a demi kebaikan saudara mereka, Fadhil. Namun, sampai di rumah dan menjelang malam pun perasaan saya masih tak enak. Air mata selalu mengambang di sudut mata setiap kali saya mengingat Fadhil. Yaa Allah, berikanlah yang terbaik untuk anakku, Fadhil.

Hari Jum’at pagi aku berangkat ke sekolah dengan semangat, mengingat nanti akan menengok Fadhil. Tetapi …. 1 jam kemudian sampailah berita duka itu. Fadhil meninggal pagi ini di rumah sakit. Seketika meledaklah tangis seluruh teman-teman sekelasnya, termasuk aku yang hampir tak bisa menguasai diri. Segera aku kuatkan diriku dan tenangkan anak-anak yang lain. Kuajak mereka untuk mendo’akan Fadhil yang kita sayangi. Yaa Allah, ternyata ini rencanaMu. Belum Kau beri aku kesempatan untuk menengok Fadhil, sudah Kau panggil dia.

Setelah berdo’a bersama kami berangkat ta’ziyah ke rumah Fadhil. Ibunya terlihat shock sekali dengan kepergian Fadhil yang begitu cepat dan tak disangka-sangka. Melihatku datang ibunya langsung memeluk dan berbisik di telingaku,

“Ustadzah, Fadhil kangen sama ustadzah,” ujarnya sambil berurai air mata.

Hatiku bagai dihantam palu godam, aku belum sempat bertemu dengannya lagi. Aku hanya bisa balas memeluk ibu Fadhil dengan air mata menderas. Ibunya melanjutkan bahwa seharian kemarin Fadhil merindukanku, mengulang-ulang kata-kata yang sering kuucapkan, dan ingin segera masuk sekolah lagi.

Ya Allah, inikah yang namanya firasat? Kondisi hatiku yang galau dan sedih kemarin, itukah pertanda bahwa dia ingin bertemu aku untuk terakhir kali? Ampuni hambamu yang lalai dan kurang peka ini, Yaa Allah.

Saya hanya bisa minta maaf kepada ibu Fadhil bahwa saya belum sempat menjenguknya lagi di saat-saat terakhirnya. Rencana kami untuk menjenguknya hari itu malah berganti menjadi ta’ziyah. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk Fadhil, Dia lebih menyayanginya, karena Fadhil anak yang sholih dan taat pada orangtua dan guru.

Mas Fadhil, maafkan Usatdzah tidak menemuimu disaat kamu merindukan Ustadzah. Tapi Ustadzah tetap mencintaimu. Karena kau telah memberi banyak pelajaran untuk Ustadzah. Bahagialah kau di surga bersamaNya. Kelak, tariklah tangan ini, agar Ustadzah bisa menikmati indahnya surga bersamamu.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar