2

CERPEN “ TANDA PERPISAHAN ” (1) (0)

Adit Tristian January 14, 2021

“ TANDA PERPISAHAN ” (1)

Oleh : Adit “Kantashura” Tristiana

Sumber: Tumblr

Kejadian ini bermula saat sekolah kami hendak mengadakan kegiatan CPD (Camping Pendidikan Dasar) yang memang diwajibkan bagi seluruh peserta didik baru. Sore itu tepat pada hari Selasa seluruh panitia kegiatan yang dipercayakan oleh Wakasek Kesiswaan kepada para pengurus Organisasi Intra Sekolah alias OSIS dituntut untuk merampungkan semua persiapan guna pelaksanaan CPD agar berjalan dengan lancar, meskipun pada pelaksanaannya pasti tak akan sempurna,, yaa setidaknya dapat meminimalisir hal-hal negatif yang mungkin timbul.Aku masih ingat, waktu itu rapat yang sedianya dimulai dari pkl.13.00 WIB, akhirnya molor hingga ± 45 menitan. Mengesalkan memang, karena penyebab dari tertundanya rapat tak lain dan tak bukan menunggu kehadiran sesosok manusia yang bernama Ohang.Ya,,Ohang lah yang membuat para panitia lain yang telah duduk ber jam-jam di ruang OSIS saat itu mendongkol dan kesal setengah hidup. Kedongkolan kami semakin “merupa” saat Ohang mengutarakan alasan dirinya terlambat datang hanya karena dia kelupaan waktu ketika ia selesai mengantarkan sang pujaan hatinya, Ohang bukannya langsung balik ke sekolah, ehh malah keasyikkan bercengkrama, akhirnya kami yang telah setia menantinya guna memulai rapat,,terlupakan dalam ingatannya.Memang prinsip kami sebagai anggota  OSIS “tidak akan memulai suatu kegiatan sebelum semuanya hadir lengkap” dan tak terkecuali prosesi rapat.Akhirnya rapat pun dimulai, dan dipimpin langsung oleh Pembina OSIS kami Pak Masturin Romadona yang juga merangkap sebagai guru matematika. Satu persatu koordinator setiap seksi mengungkapkan sekaligus membeberkan kesiapannya masing-masing, dari mulai hal atau barang apa saja yang sudah ada maupun yang belum. Prosesi rapat kala itu tidak seperti rapat sebelum-sebelumnya, karena menyangkut sukses atau tidaknya kegiatan yang hendak kami laksanakan tersebut, waktunya sudah H-1, dalam kata lain kegiatan CPD ini akan dilaksanakan pada esok hari, ketelitian dan kecermatan dari tiap-tiap panitia sangatlah dibutuhkan. Dengan kondisi demikian maka tak heran rapat berlangsung hingga hari larut malam.Rapat berakhir pada pkl.17.00 WIB, namun itu bukanlah akhir dari kesibukan kami. Karena setelah rapat berakhir, semua panitia dituntut untuk merapihkan semua peralatan yang telah tersedia, dan mencari yang belum ada.Namaku Karmelia Siti Alifah biasa disapa Amel, pada kegiatan CPD ini aku dipercaya mengemban amanah sebagai sekretaris, di mana segala hal yang berhubungan dengan kesekretariatan tentulah menjadi tanggung jawabku. Waktu telah menunjukkan pkl.19.00 kurang seperempat, dari masing-masing koordinator seksi melapor kepada Pak Masturin, bahwasannya mereka telah  merampungkan semua kewajiban dan tugasnya. Tanpa banyak berkomentar Pak Masturin menginstruksikan kepada semua panitia untuk sesegera mungkin pulang ke rumah masing-masing, sebelum pulang kami berdoa terlebih dahulu, bersyukur karena telah menunaikan kewajiban dan tugas yang diberikan kepada kami hari ini, dan berharap agar di hari esok tepat hari pelaksanaan kegiatan diberi kemudahan dan kelancaran, doa dipimpin langsung oleh Satria Maheswara selaku ketua OSIS kami.Selesai berdoa kami melakukan ritual rutin setiap kali selesai melaksanakan kegiatan. Yakni membentuk lingkaran dan mengumpulkan telapak tangan kanan masing-masing di tengah, setelah berkumpul semua menghentakkannya ke bawah sembari mengucapkan yel sakti “OSIS SMA YKS…JUARAAA!!!”.Saat semuanya berpamitan untuk pulang,,tiba-tiba aku teringat akan satu tugasku yang terlupakan, yaitu membuat daftar hadir kegiatan untuk peserta, panitia dan tamu.“Hadeuhhh sial,, aku lupa membuat daftar hadir buat besok” (sambil menepok jidat). Semua rekan-rekan sudah beranjak pulang, dalam kebingungan, kepalaku menengok ke segala arah untuk menemukan sosok sahabatku Niken. Kondisi saat itu sudah beranjak sepi, aku benar-benar tengah seorang diri. Saat kebingunganku tengah memuncak, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, sontak aku pun terkaget. “Astagfirulloh” ucapku,,ternyata itu adalah sahabat aku Niken. “Gue pikir lu udah balik ninggalin gue Ken?”“ Nggak koq, gue baru dari kelas ngambil barang yang ketinggalan. Lu kenapa masih di sini?” Tanya Niken.“Aku lupa bikin daftar hadir buat besok Ken!” keluhku“Jiahhh,,elu Mel ada-ada aja. Yaudah Lu buat dulu, biar gue temenin” timpal Niken.“Lu gak apa-apa Ken? Ini kan udah malem?” tanyaku“Ya gak apa lah,, masa gue tega biarin lu di sekolah sendiri” jawab Niken meyakinkanku.“Makasih ya Ken..Lu emang sahabat gue dunia akherat”“Emangnya jodoh?? Dunia akherat” ucap Niken sambil mengernyitkan keningnya.“Yaudah ayo kita balik ke ruang OSIS,,lu punya kuncinya kan Mel?”“Hooh hooh, tenang aja…gue punya koq” jawabku pada Niken.Kami pun melangkahkan kaki berbalik arah menuju ruang OSIS. Sebelumnya kami menuju pos satpam sekolah yang pada saat itu dijaga oleh Pak Karman dan Pak Ending, hendak memberitahukan agar gerbang sekolah jangan dulu dikunci.Suasana sekolah saat itu sudah benar-benar lengang,,hanya suara jangkrik dan binatang malam lain yang menemani. Tak ayal kondisi tersebut sempat membuat nyali kami ciut,, namun apa mau dikata, daripada kami kena semprot Pak Girwanto Bayu Prakoso Sulistyo Mangundiredjo yang bisaa disapa Pak Girwan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA YKS yang terkenal disiplin galak dan tak kenal kompromi, mau tak mau aku dan Niken harus merampungkan tugas kami.Baru saja aku menyalakan komputer yang berada di ruang OSIS, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara seorang laki-laki.“Heyy,,Amel, Niken..kalian lagi apa?” ucap suara itu.Aku dan Niken menengok secara bersamaan ke arah pintu dengan jantung yang berdebar-debar….Niken: “Ehh,, kamu Ardi..kirain siapa”Aku: “Kamu ini ya Di,,,ngagetin orang aja.. gimana kalo aku kena serangan jantung”Ternyata sumber dari suara yang sempat mengagetkan Aku dan Niken adalah Ardi yang merupakan wakil dari ketua OSIS.Ardi: “Hhe,, maaf maaf,,aku gak bermaksud mengagetkan kalian.. Lagian,, kenapa kalian berdua masih disini? Bukannya tadi udah pulang barengan sama anak-anak yang lain?”Aku: “Iya nihh,, pas tadi mau cuss balik,, aku keingetan ada tugas yang belum dikerjain. Akhirnya kepaksa deh balik ke sini buat ngetik dan print daftar hadir kegiatan besok.”Ardi: “ Oooh, gitu ya… yaudah biar aku temenin juga”Niken: “Thanks ya Di.. Kalo ada Cowok kita-kita jadi bisa lebih tenang.”          “Oh iya..kamu sendiri koq masih disini? Bukannya tadi Kamu balik bareng   Jimi?”Ardi: “Hmmm,,,tadi pas mau balik tiba-tiba aku kebelet jadi ke toilet dulu..pas balik lagi ke gerbang..ehh si Jimi udah lenyap…Lagian kayanya aku udah gak bisa balik lagi deh”.Niken : “ Hahh,,,kenapa Di??? Lu diusir sama orang tua lu??” ucap Niken penuh Tanya.Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan dengan saksama obrolan antara Niken dan Ardi, karena saking khusyunya menggerakkan jari jemari ini di atas papan ketik.Ardi : “ Ahh,,enggak Ken.. Masa orang tua aku tega ngusir anak kesayangannya sendiri..Hahaha” jawab Ardi dengan sedikit nada berguyon.Niken : “ Abissnya statement kamu yang tadi itu aneh banget Di”            “ Gimana Mel,,udah beres bikin daftar hadirnya??”“ Dikit lagi nihh Ken,,,tinggal daftar hadir buat tamu” jawabku atas pertanyaan Niken.Saat aku masih sibuk ngelarin gawean,,dan Niken sibuk berbalas BM dengan seseorang yang aku pikir sang pujaan hatinya Rinaldy, Ardi terlihat tengah berbaring di pojokan ruang OSIS yang memang tepat disitu terdapat kasur Palembang yang sengaja disediakan oleh kami para anggota OSIS dengan fungsi sebagai alas kami beristirahat di kala kelelahan, memang sih tidak terlalu besar tapi cukup-lah untuk 3 orang melepas rasa letih. Ardi baringan dengan wajah menghadap tembok.Malam semakin menjadi jadi,, tak terasa jarum panjang jam di dinding tengah ruang OSIS telah menunjukkan tepat di angka 8 dan jarum pendek di angka 6. Niken yang sadar dengan kondisi itu langsung tersentak “waduhh,,udah jam setengah Sembilan nihh Mel..buruan napa!!” pinta Niken agar aku sesegera mungkin membereskan kerjaan yang merupakan andil keteledoranku. “iya iya,,udah nih Ken,,tinggal diprint” jawabku sedikit menenangkan, walaupun sebenarnya dalam hatiku mulai tidak tenang juga..ya takut dimarahin lah,,takut nanti di angkotnya lah…dan takuuuttt….hiiiiiii. aku tidak berani melanjutkan penerawangan bayangan kemungkinan-kemungkinan yang bakalan terjadi berikutnya nanti. Aku pun lekas menyalakan mesin printer,,dan memulai proses penge-print-an semua data-data yang telah aku ketik. Tak membutuhkan waktu lama,,hanya dalam 5 menitan saja proses penge-print-nan pun selesai.Aku : “Alhamdulillah,,akhirnya kelar juga”Niken : “syukur dehh…yaudah,,yu..yu buruan kita balik!”Aku : “Iya iya..ini gua mau matiin komputernya”Dengan gesit aku mencari tombol shutdown di layar komputer dan mengkliknya,,sekejap mata komputer pun mati.Aku : “Yu,,balik!!”Niken : “yu!!!” Niken menuju ke tempat Ardi berbaring. “Di…Di…Ardi bangun!!! Kita udah kelar nihh,,,ayo balik!!”Mendengar suara Niken yang berusaha membangunkan dengan gigihnya,,akhirnya Ardi pun terbangun.Ardi : “ udah beres ya. Kalian cepetan pulang sana!!!” ucap ArdiHeran dengan ucapan Ardi.. “Lha,,,,emangnya kamu gak bakalan balik???” tanyaku dengan nada penasaran. “Lu mau nginep di sini Di??” Niken menimpali.Ardi hanya membalas dengan senyuman. Namun bukan senyuman biasa,,senyuman yang dilepaskan Ardi kala itu seperti menyiratkan sesuatu yang tersembunyi dan mendalam.Tak mau lagi mengulur-ngulur waktu, akhirnya kami pun memutuskan pulang duluan dan terpaksa meninggalkan Ardi yang bersikap aneh dari tadi saat awal kemunculannya, tentunya tak lupa aku dan Niken berpamitan dan mengucapkan salam kepada Ardi.Kami berpikiran bahwa Ardi memang sedang banyak masalah,,dan masih ingin menenangkan diri di ruang OSIS yang memang sedikit banyak bisa menentramkan jiwa yang tengah galau ataupun kalut. Meskipun tanda Tanya kami belum sepenuhnya terjawab. Sepanjang jalan menuju gerbang, kami terus berbincang seputar Ardi,,sekadar menerka-nerka dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada wakil ketua OSIS kami ini.Saat tiba di pos kami langsung menghampiri Pak Karman yang ternyata telah ditinggal pulang oleh soulmate-nya, siapa lagi kalau bukan Pak Ending. Kami bermaksud hendak pamit pulang.Pak Karman : “Gimana,, udah beres neng kerjaannya??”Aku : “Udah pak…ini mau pamit pulang”.Pak Karman : “Ohh,syukur atu..ya udah sok enggal-enggal parulang tos weungi..hati-hati ya di jalannya!!! Nyari angkotnya yang banyak penumpangnya!!” pesan Pak Karman kepada kami sekadar mengingatkan. Karena memang sangatlah rawan bagi kami perempuan pulang dengan menggunakan angkutan umum.“Muhun pak,, haturnuhun” jawabku ketika aku hendak mengucapkan salam, tiba-tiba Niken Berkata kepada Pak Karman “Pak, nitip Ardi ya.. dia masih di ruang OSIS!”Dengan penuh heran Pak karman pun bertanya “Ardi??? Ardi kelas XI temen kalian?” sambil menggaruk-garuk kepala dan ekspresi mengernyitkan keningnya,seakan ada sesuatu yang salah.“ Iya atu Pak,,,masa Ardi temennya Pak Karman..hahaha” jawabku dengan sedikit bercanda. Tanpa mau memperpanjang obrolan pak Karman pun menganggukkan kepala tanda ia sudah mengerti dengan apa yang dikatakan Niken.Pak Karman : “ ya udah sok sana pulang!!! Inget pesan Bapak tadi!!”Kami berdua pun menjawab “Iya pak…Assalamualaikum Warohmatulohi wabarokaatu”“Waalaikumsalam” balas Pak Karman. Kami pun berlalu menjauhi sekolahNiken : “Duuhhh,,pada kemana ya ini angkot? Kita udah nunggu 15 menit tapi koq gak ada satu pun angkot yang lewat,, bisa-bisa nyampe rumah jam 10 nih .”Aku : “Iya Ken,,apa udah gak bakalan ada yang lewat lagi gitu?? Alamat kena omelan si Bunda nihh”Aku : “Udah gini aja,,,gimana kalo kita pake jasa ojek online??”Niken : “Iya iya dehh,,daripada terus menunggu yang tak pasti”Aku : “Cieee…cieee nyambi curhat nihh..hahahaha” ucapku sedikitt menggoda Niken,,sekaligus sedikit mencairkan suasana.Niken : “Apa sihh lu?? Keadaan lagi genting gini masih sempet-sempetnya bercanda” jawab Niken dengan ketusAku : “Iyaa maaf Ken,,,sedikitt bercanda aja koq,,biar gak terlalu tegang.. Yowiss sekarang aku pesen dulu ya ojek online-nya.”Dengan segera aku menyalakan androidku dan langsung menuju pada aplikasi ojek online yang memang sudah terinstal di HP-ku,,,tanpa menunggu lama pesananku pun terkirim. Saatnya menanti datangnya ojek yang telah aku pesan, aku sengaja memesan satu ojek saja dengan maksud agar aku dan Niken bisa berbarengan terus hingga sampai di rumah juga meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, lagian jarak rumah Aku dan Niken tidaklah jauh, hanya dipisahkan oleh 4 rumah saja.Setelah menunggu hampir 10 menit, akhirnya tukang ojek yang telah kami nantikan pun datang.“Maaf,,neng Karmila ya??” Tanya si tukang ojek memastikanAku : “Iya Mang,,saya Karmila, yang pesan ojek tadi.”Setelah si tukang ojek itu yakin bahwa aku yang telah memesan ojeknya tadi, langsung saja ia memberikan helm untuk aku kenakan. Namun, sebelum aku menaiki motor, aku meminta kepada Si Tukang ojek agar membawa serta Niken menumpang bersama. Meskipun pada awalnya ia keberatan dan menolak dikarenakan prosedurnya satu ojek satu penumpang, tapi akhirnya setelah kami beri pengertian dan iming-iming ongkos tambahan, akhirnya driver ojek itu pun mau.Driver ojek : “Ya sudahlah neng sok naik,,kasihan juga kalau ditinggal sendiri.”Tanpa basi-basi lagi kami berdua pun langsung naik ke motor. Dan ojek pun melaju.Driver : “ ke Jl. Inhoftank, Gg.Perikanan 2 kan neng???’’Aku : “Iya mang”, sahutku menjawab pertanyaan driver ojek tersebut. Mulai dari memesan ojek sampai saat itu akulah yang berperan sebagai juru bicara,,semua dikarenakan aku melihat dan menilai bahwa Niken sudah tidak ada lagi mood untuk berbicara, mungkin memang sudah terlalu kecapean saat menungguiku tadi. Yaa,, aku harus paham dengan kondisi tersebut.Ketika kendaraan kami melintasi jalan caringin,,lebih tepatnya depan Gg. Porib, samar-samar aku melihat seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah memandang ke arahku, tatapannya cukup tajam dan sedikit dihiasi senyuman. Akupun terus mencoba mengingat-ingat wajah dari pemuda tersebut yang sangat familiar. Cukup lama aku berpikir daaaaan..“ Astagfirulloh,,,” pemuda yang aku lihat tadi di jalan tak lain dan tak bukan adalah Ardi, temanku yang tadi masih berada di ruang OSIS tatkala Aku dan Niken memilih untuk cepat-cepat pulang. Aku belum tahu persis apakah Niken juga melihat apa yang Aku lihat tadi. Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan beristirahat selekas-lekasnya.Akhirnya kami tiba di gang menuju rumah pkl.21.43 WIB. Aku dan Niken turun dari ojek dan membayar ongkos kepada Si Tukang ojek.“ini mang ongkosnya,, makasih ya” ucapku“ iya sama-sama neng”. Setelah mengembalikan helm, aku dan Niken berjalan menuju rumah, jarak rumah kami dari gang sekitar 200 meter-an. Saat di jalan menuju rumah tersebut, akhirnya saya menanyakan hal yang saya lihat tadi di jalan kepada Niken.Aku : “Ken,,apa lu tadi pas di Gg. Porib Caringin liat Ardi???”Niken : “Hahh,,Ardi?? Enggak lah, kan lu dan gue tau Si Ardi tadi masih di ruang OSIS sekolah.. Lu berhalusinasi kali.”Tak berapa lama setelah Niken mengatakan itu, tiba-tiba hape-nya berbunyi. Ya,,,tanda bunyi pesan masuk di BBM-nya.Aku : “Cieeee,,,BM dari siapa tuh??”Niken : “Ini dari Ardi, Mil”Aku : “Hahh,,Apa isi BM-nya??”Niken : “Dia nanya,,apa lu udah nyampe rumah..terus dia bilang,dia udah merasa lebih tenang sekarang. Katanya dia nge-BM lu, tapi hape lu gak aktif”Aku : “Iya nih Ken, hape-ku keabisan batre… Tapi koq, dia nanyain gue ya?? Berarti bener yang gue lihat di jalan tadi itu Ardi. Tapi kalo benar Ardi,,kenapa dia ada di Porib ya?? Kan rumahnya di daerah Cimahi..lagipula dia terakhir masih di ruang OSIS, dan kami berdua lebih dulu balik”.Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benakku seputar Ardi. Saat aku masih berusaha menganalisis kejanggalan dan keanehan yang ku alami hari itu, Niken dengan segera menenangkanku.Niken : “Hheeyyy… udah-udah lu jangan pikir yang macem-macem,,mungkin aja Ardi memang ada perasaan sama lu. Udah gue bales koq, bahwa Mila Karmila sudah sampai di rumah dengan selamat sentosa..hehehehe”.Aku : “Ahh,, lu Ken ada-ada aja dari mana tahu Ardi memendam rasa ama gue??  Toh selama ini sikap dia ke gue di sekolah biasa-biasa aja, tak ada gerak-gerik yang menandakan Ardi suka ke gue”.Niken : “Yaa,, itu cuma hipotesis gue aja ”Aku : “Gaya amat lu,,pake bahasa hipotesis segala,,mentang-mentang lu nge-fans berat sama Pak Adgan guru bahasa Indonesia kita”.Niken : “Yaiya dong,,,Pak Adgan yang kece dan berkarisma itu kan idola gue!! Yaudah sana lu balik ke rumah lu.. besok kita lanjutin ngobrolnya di sekolah.. Makasih ya udah baik hati nganterin gue sampe pintu depan rumah..hahahaha”Ternyata tanpa sadar aku telah melewati rumahku,,saking terlalu asiknya bercengkrama dengan Si Kenken sar Niken. Ada perasaan mendongkol disitu.“Jiahh,,elu bukannya ingetin gue kalo rumah gue udah kelewatan,,dasar Sar Niken..yo wiss gue balik dulu. babaaayyyy” Pamitku pada Niken. “Tapi koq rumahmu sepi Ken? Hening kayak di kuburan??” Niken tak merespon uacapanku tersebut, justru tatapan dingin yang ditunjukkannya padaku.Niken : “Hati-hati ya Mil,,,barangkali Ardi udah ada di depan gerbang rumah lu” ujarnya seperti hendak menggodaku.Aku merespon statement Niken dengan menggunakan bahasa tubuh yang mengolok-olok seakan aku tidak percaya dan tidak takut dengan apa yang diucapkan Niken.Saat aku berjalan menuju rumah, dan telah sampai di depan gerbang rumah, semerbak tercium aroma dari parfum yang tidak asing bagiku,, namun aku masih membuka-buka memori di ingatanku tentang siapa pemilik dari wangi parfum ini.“Oh iya,,kalo gak salah ini wangi parfum dari Ardi!!!” sadar akan hal itu,,secepat kilat aku masuk ke rumah, membuka pintu mengucap salam dan langsung mengunci kembali pintu.Saat aku hendak menuju kamar tidur, aku melihat di ruang tamu, ayah dan bundaku masih seru menonton TV. Aku sendiri sedikit takut akan dimarahi oleh kedua orang tuaku ini, alasannya sudah pasti karena aku baru pulang jam setengah 11 gini. Tapi apa daya aku harus menerima konsekuensi, gara-gara kelupaan ngasih kabar kepada keluargaku di rumah.“Assalamualaikum,,ayah…bunda”. mendengar salamku,, kedua orangtuaku pun menjawab “Waalaikumsalam…gimana pekerjaan kamu di sekolah sudah beres??” Tanya ayah. “Sudah yah” ibuku menimpali “Tapi lain kali jangan sampai malem gini ngerjain tugas-tugasnya!!”. Dalam hatiku berkata (tumben ayah dan bunda tidak marah aku pulang selarut ini, padahal aku tak memberi kabar sama sekali)“Iya Bunda… Maaf ya aku pulanganya kemaleman.. maaf juga tak memberi kabar”.Bunda menjawab ugkapan penyesalanku tersebut “Iya gak apa-apa..Lagian tadi temanmu kemari memberitahu Bunda, kalo kamu bakalan pulang larut malam karena ada pekerjaan yang harus dibereskan”.Mendengar penjelasan dari bundaku sontak aku pun terkaget dan berkata “Hahh,,temanku?? Emangnya siapa Bun teman Karmel yang ngasih tahu kalo Karmel bakalan telat pulang?” kembali bundaku menjawab “Bunda lupa lagi namanya,,tapi ciri-ciri orangnya agak tinggi,kulitnya hitam manis rambutnya pendek ikal dan ada sedikit tanda goresan di pipinya”. Aku kaget sekali dengan jawaban yang dilontarkan bundaku,, dan aku lebih-lebih terkaget mendengar kelanjutan jawaban dari bundaku berikutnya “temanmu tadi kesini sekitar pkl.19.30, di saat Bunda dan Ayah sudah sangat khawatir, karena kamu belum pulang-pulang pada jam segitu”Dari ciri-ciri yang diungkapkan bunda,,aku meyakini bahwa teman aku yang dimaksud oleh bunda adalah Ardi, tapi yang menjadi pertanyaan dalam benakku bagaimana bisa Ardi datang ke rumah pada jam tersebut, padahal ia ada bersama aku dan Niken di ruang OSIS sekolah pada jam yang disebutkan tadi.Sudah terlalu bingung dan penuh keheranan pada hari itu, aku pun memutuskan untuk segera tidur dan mencari jawaban atas pertanyan-pertanyaanku pada hari esok di sekolah.
KEESOKAN HARINYA DI SEKOLAH

Begitu pagi aku berangkat ke sekolah, dikarenakan ingin segera mengusir rasa penasaranku di saat hari kemarin. Waktu menunjukkan pkl.06.22 WIB ketika aku sampai di sekolah, masih bisa dihitung dengan jari jumlah murid yang hadir pada jam-jam tersebut. Bahkan di kelasku baru ada 3 orang yang sudah tiba antara lain; aku, Yoga, dan Isna, paling sepuluh menitan lagi yang lain akan baru tiba.Tepat sekali prediksiku,, pas sepuluh menitan mereka datang secara bergerombol… Namun, kedatangan teman-temanku itu diwarnai dengan raut kesedihan dan isak tangis. “Ada apa gerangan???” tanyaku dalam hati. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung menghampiri Caca yang terlihat seperti paling bersedih.Aku : “Caca,,kamu kenapa? Kawan-kawan yang lain juga kenapa??? Kenapa kalian datang secara bersamaan dengan berselimut kesedihan yang begitu mendalam??”Dalam keadaan masih terisak  Caca mencoba menjawab dengan terbata-bata.Caca : “ Ar..heu,,,heu Ar….. Ardi Mel” dari sepotong kalimat itu,,aku mulai berfirasat buruk, namun aku menahannya dan terus mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Caca.Aku : “Ardi kenapa???”Caca : “Ardi….su,,,dah nggak adaaa Melllll!!!!”Aku : “Maksudnya apa, nggak ada gimana Ca??” tanyaku untuk mempertegasCaca : “ Ardiii,,meninggaaallllll.” Jawab Caca diiringi dengan tangisan yang semakin keras dan menjadi-jadi.Bagai petir di siang bolong,, jawaban yang meluncur dari mulut Caca membuat tubuhku seketika lunglai dan tak mampu berkata-kata lagi. Melihat kondisiku yang gontai dan hendak roboh ke lantai, Ravin dengan segera menopang tubuhku, dan disandarkannya ke tembok kelas, seketika kawan-kawan yang lain menghampiriku dan mencoba menenangkanku yang memang paling baru mendengarkan kabar memilukan itu,ada yang mengipas-ngipasiku untuk memberi sedikit rasa segar, dan ada pula yang mengusap-usap pudakku dengan maksud memberikan sedikit ketenangan. Perasaanku ketika itu benar-benar sedih dan pilu. Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi, padahal baru semalam kami masih bertemu dan bahkan sempat berbincang-bincang. Dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki, akupun menanyakan kronologis perihal kejadian tersebut.Aku : “ Gimana,,gimana kejadiannya, koq bisa Ardi meninggal??”Seorang siswa lelaki terlihat samar-samar mencoba menjawab pertanyaanku. Setelah aku perhatikan dengan jelas, lelaki itu adalah Jimi sahabat karib dari Ardi.Jimi : “ Kemarin pas kita mau pulang aku memutuskan untuk pulang menggunakan angkot, karena aku harus ke Rumah Sakit Al-Islam dulu menengok kakekku yang sedang dirawat, jadi aku tidak bareng dengan Ardi seperti biasanya, kebetulan waktu itu Niken ada perlu dulu untuk membeli obat ke apotek Kimia Farma yang di Jl. Buah Batu. Ketika aku pulang ke rumah ternyata di depan gangku sudah terpasang bendera kuning, tak disangka ternyata yang meninggal adalah sahabat karibku sendiri”.Aku : “Jam berapa kejadiannya?”Jimi : “Sekitar jam setengah 8an Mel,,kata saksi mata yang melihatnya. Saat kejadian Ardi langsung meninggal di tempat, sedangkan Niken sempat dibawa dan diberi pertolongan di RS terdekat. Namun, sekitar jam 11 lebih seperempat Niken pun menghembuskan nafas terakhirnya” pungkas JimiMendengar pemaparan dari Jimi yang mengatakan bahwa Niken juga telah meninggal, membuatku menangis sejadi-jadinya, bagaimana tidak? Niken merupakan sahabatku sedari umur kami masih balita. Bahkan Niken sudah seperti saudara sendiri bagiku, begitupun sebaliknya. Namun, selain kesedihan yang menghinggapiku, rasa merinding pun tak dapat tertepiskan, karena kemarin kami bersama-sama seharian hingga pulang larut malam bareng. Nyatanya Niken pulang duluan bersama Ardi setelah merampungkan tugasnya. Lalu, siapa yang kemarin bersamaku hingga larut malam, setia menungguiku hingga pulang kembali ke rumah???Singkat cerita kami meluncur ke rumah duka Almarhum Ardi yang ternyata akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum PORIB!!! Ya TPU Porib, tepat di mana ketika semalam aku melihat Ardi.Di waktu bersamaan jenazah sahabatku Niken akan dibawa ke daerah Tasikmalaya dan akan dikebumikan di sana yang merupakan kampung halaman ayahnya.Aku menutup rapat-rapat tentang kejadian yang aku alami kemarin. Biarlah kebersamaan kami kemarin menjadi sebuah kisah pertemuan tiga orang sahabat yang ingin melepas rindu sebelum Niken dan Ardi benar-benar meninggalkan dunia ini.
TAMAT

Comments (2)

  1. Sungguh berat ya kehilangan orang terkasih..
    Cukup sulit dilepaskan, namun inilah hidup yang semuanya akan berujung dengan perpisahan. Tinggal bagaimana kita melukiskannya dengan manis atau pahit selama masih bersama..

    Nice story 😉

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar