10

Tak Mungkin Membeli Waktu (0)

Supadilah S.Si December 17, 2020
[Cerpen]

Salat Subuh telah selesai sejak tadi. Untaian zikir telah disambung doa. Setelah itu para jamaah undur diri meninggalkan masjid. Hanya tertinggal beberapa jamaah usia lanjut yang masih merasa perlu menyambung zikir. Mata mereka terpejam. Berusaha khusyuk pada munajat dan muhasabah mereka. Tapi Satya masih terpekur di sudut masjid, tanpa lisan mengucap zikir atau mata terpejam.

Pak Baka menghampiri Satya. Marbot masjid itu dengan pelan-pelan menepuk punggungnya. Yang ditepuk masih tetap terpekur sementara tatapan matanya kosong. ii

“Satya, hari akan hampir siang. Kau tak hendak pulang?”

Satya cukup hafal dengan suara itu. Satya mengenalnya dengan karib. Dulu dia sering mengundangnya ke rumah. Sekadar makan malam. Atau, kalau tidak, Satya yang mengantarkan makanan untuk Pak Baka. Jika begitu, dia sering berangkat ke masjid lebih awal. 

“Pulanglah, anak-anakmu menunggu. Kau pun perlu berkemas-kemas. Kau juga masuk kerja pula, kan?”

Berat mengawali hari ini. Seperti juga hari-hari kemarin. Bahkan hari-hari ke depan. Seberat kesendiriannya. Namun Pak Baka mengingatkannya, bagaimana pun sedihnya dia, ada kewajiban yang harus ditunaikannya hari ini. 

Usai mengucap salam, Satya pergi. Diantar tatap kasihan Pak Baka. Satya terlihat kehilangan semangat hidupnya. Meskipun pada setiap lima waktu salat tetap berada di barisan salat di jamaah salat.

Melangkah dengan pelan dan perlahan, Satya menutup pintu dengan hati-hati. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan anak-anaknya. Dari arah dapur ibunya menyambut. Setelah mencium tangan sang ibu, Satya menuju ruang makan. 

“Sudah ibu siapkan makanan pagi. Bekal untuk Ilman juga sudah siap. Seragam untuk hari ini sudah rapi di dekat tas.” Ibunya menjawab seperti tahu kerisauan Satya.

Satya menatap sang ibu penuh terima kasih. Kehadiran ibunya banyak membantu kewajiban yang harus di tunaikannya.  Meskipun Satya hendak mengerjakan dan menyiapkan kebutuhannya sendiri namun ibu tetap memaksanya dan membantunya. Seragamnya ke kantor sudah disiapkan dengan rapi. Tapi sudah tiga hari ini dia cuti masuk kantor. Sejak kehilangan isterinya Satya merasa perlu berada di rumah seharian. Diberatkan dengan banyak kewajiban yang harus dikerjakan.

Tidak terbayangkan jika tidak ada ibunya. Selepas kepergian sang istri, dia menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Mengerjakan semua pekerjaan yang selama ini menjadi rutinitas isterinya. Dia merasakan betapa berat menjadi seorang ibu rumah tangga. Mengerjakan pekerjaan rumah yang seakan tiada habis-habisnya.

Saat ada kurang disyukuri. Saat sudah tak ada baru terasa benar dibutuhkan. Meskipun dulu mereka sering terlibat pertengkaran, bahkan kadang terlintas betapa sulitnya menjaga keharmonisan rumah tangga dengan salah paham dalam keluarga, bagaimana pun juga itu masih lebih baik daripada kondisi saat ini. Satya benar-benar kehilangan. Separuh kebahagiaannya hilang bersama dikebumikannya sosok sang isteri.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar