9

Tak Mungkin Membeli Waktu (2) (0)

Supadilah S.Si December 17, 2020
[Cerpen]

Saat ada kurang disyukuri. Saat sudah tak ada baru terasa benar dibutuhkan. Meskipun dulu mereka sering terlibat pertengkaran, bahkan kadang terlintas betapa sulitnya menjaga keharmonisan rumah tangga dengan salah paham dalam keluarga, bagaimana pun juga itu masih lebih baik daripada kondisi saat ini. Satya benar-benar kehilangan. Separuh kebahagiaannya hilang bersama dikebumikannya sosok sang isteri.

Satya membayangkan setiap pagi dia harus menyiapkan perlengkapan sekolah sulungnya. Menyiapkan bekal makan, memandikan, memakaikan seragam, dan mengantar ke sekolah. Lalu bagaimana dengan si bungsu? Apa yang terjadi jika saat dia menghadapi si sulung lalu si bungsu rewel dan butuh penanganan saat bersamaan? Bagaimana jika dia harus memandikan si sulung tiba-tiba si bungsu menangis karena haus atau lapar? Bagaimana dengan kebutuhan ASI si bungsu? Pemberian susu formula bisa menjadi alternatif tapi dia tahu pemberian ASI kepada bayi penting menjadi imunitas alami sang bayi.

Semua pekerjaan yang selama jarang disentuhnya tiba-tiba kini harus dilakukannya. Tak ada lagi yang membangunkan untuk segera salat. Tak ada cerewet yang meminta merapikan sandal atau sepatu yang sering asal saja diletakkan. Tak lagi ada pijatan mesra di malam hari menjelang tidur. Dia merindukan telaten isterinya memasang dasi dan merapikan kemeja kerjanya. Siapa  yang akan menyiapkan kopi untuknya? Siapa yang akan menyiapkan air hangat untuknya mandi? Tapi diluar itu semua, terberat yang dirasakannya adalah jika si sulung merengek dan bertanya keberadaan sang bunda.

“Bunda kemana, Yah? Sudah sore begini kok Bunda belum pulang? Kemarin di bawa orang belum pulang, Yah?”

Jika sudah begitu, tak sanggup Satya menjawab. Tak mampu Satya menghadapi. Selalu begitu setiap sang sulung merengek. Lalu ibunya yang datang sebagai malaikat penolong. Beruntung, ibunya selalu berhasil membujuk. Jika si bungsu merengek kehausan, Satya masih tegar membuatkan susu formula dan memberikannya kepada si bungsu. Walaupun dengan hati remuk redam mengingat dia memberikan bukan yang terbaik.  Namun setidaknya si bungsu tidak bertanya yang membuat matanya gerimis. 

Tapi Satya bertekad, tidak boleh ada tangis yang terlihat oleh kedua anaknya. Dia harus tegar di hadapan mereka. Dia harus memberikan keteladanan tentang ketegaran.

Disaat itulah dia merasakan begitu berartinya keberadaan sang isteri. Disaat itulah dia mengakui betapa berharga sosok istri. Peran lengkap yang sering kali disepelekannya.

Maka saat itu dia berharap seandainya sang istri masih ada. Seandainya saja isterinya masih hidup. Mau dia memberikan segalanya untuk kehadiran kembali sang isteri. Saat ada tak dirasa, saat tiada baru terasa. Bahkan jika kebersamaan mereka acap kali dibumbui pertengkaran, itu jauh lebih baik daripada ketidaklengkapan mereka.

Satya, untuk apa menyesali hal yang sudah terjadi dan tak akan kembali lagi? Penyesalan selalu memberikan pelajaran. Dengan begitu kau harus menghargai apa yang kau miliki.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar