1

Tahapan-Tahapan Pendidikan Karakter (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 10, 2020

Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan membentuk karakter anak melalui orang tua dan lingkungannya.

Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar peserta didik dan atau warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan (mengerjakan) nilai-nilai kebajikan (moral), sehingga tentu akan terhindar dari prilaku amoral seperti korupsi.

Dalam kasus korupsi misalnya, Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau partainya/kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisahan keuangan pribadi dengan masyarakat.

Tindakan-tindakan korupsi ini terjadi bisa saja disebabkan oleh banyak faktor, namun faktor yang paling mendasar karena para koruptor tersebut memiliki tingkat keimanan dan ketaqwaan yang sangat rendah. Dan ditambah lagi tingkat kesadaran dan tanggung jawab, kejujuran yang tidak diterapkan dalam menjalankan wewenang yang ditetapkan. Dalam salah satu makalahnya mengenai masalah korupsi di Indonesia dan solusinya, dosen FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Erika Revida mengungkapkan bahwa faktor penyebab terbesar terjadinya korupsi adalah terkait dengan masalah moralitas yang rendah. Dengan mengutip hasil penelitian mengenai korupsi yang dilakukan oleh Singh (1974) di India, Erika menyebutkan bahwa 41,3 % penyebab korupsi adalah karena lemahnya moralitas seseorang. Sisanya, adalah karena faktor tekanan ekonomi (23,8 %), hambatan struktur organisasi (17,2 %), dan hambatan struktur sosial (7,08 %).

Maraknya kasus pidana korupsi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pembentukan lembaga super (KPK) dengan hak yang lebih ekstra dan ancaman hukuman ternyata tidak dapat menghentikan laju dan perkembangan korupsi itu sendiri.  Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah kasus, kerugian negara dan jumlah tersangka dalam kasus pidana korupsi itu sendiri.

Kondisi ini semakin terdengar ironis ketika kita mengingat bahwa konon katanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, tetapi faktanya ternyata menjadi gudang para koruptor. Dari survey yang dilakukan oleh transparency.org, sebuah badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup Indonesia menempati posisi ke-lima negara terkorup di dunia, dan yang lebih memprihatinkan lagi,  di tingkat asia pasifik, negara kita adalah negara terkorup pertama dari empat negara lainnya yaitu Kamboja, Vietnam, Filipina, dan India.

Yang lebih memprihatinkan lagi, korupsi kini telah merambah ke generasi muda yang menjadi aset jayanya negeri ini. Contohnya saja kasus korupsi dengan tokoh Gayus Tambunan dan skandal pembangunan wisma atlet di Palembang yang dilakukan oleh Nasaruddin, yang juga menyeret beberapa nama politikus muda rekan separtainya. Kasus semacam ini menguatkan persepsi bahwa politisi muda sangat rawan terhadap serangan korupsi, yang berimbas  pada menurunnya kadar kepercayaan masyarakat terhadap politisi muda. Selain itu, korupsi terjadi diberbagai bidang, bahkan Departemen Agama yang seharusnya menjadi departemen teladan ternyata menjadi tempat dimana korupsi paling besar terjadi.


Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar