7

Sukses Belum Ditentukan Prestasi di Sekolah (+3)

Mushlihin September 28, 2013

Di pelataran masjid selepas Jumatan kemarin, tak kusangka bertemu dengan teman sekelas waktu SD, SLTP, bahkan sampai Perguruan Tinggi. Pertemuan yang mengharukan, selain ini pertemuan pertama sejak meninggalkan fakultas, teman saya ini juga saingan saya semasa sekolah. Bisa dibayangkan, dia bersusah-susah menggeser predikat rangking kelas saya tiga tingkatan, ditambah ketidakmampuannya memanjat, melompat, dan menyontek melebihi keahlianku 🙂 Maaf iklan sejenak…

Bukan hak saya menghakimi orang sukses atau tidak, tapi setidaknya orang sukses bisa dilihat dari tanda yang ditampilkan. Banyak senyum, muka cerah tanpa beban, ditambah materi yang meliputi plus info penghasilan dan tertuang dalam perilakunya. Komplit, itulah yang ditampilkan oleh teman saya itu. Dia kini sudah memimpin perusahaan dengan 700 lebih karyawan, berkeluarga (istri dan anak), mobil yang bermerek, dan seabrek kisahnya, yang membuat aku termangu.

Sepertinya, kesuksesan tidak ditentukan oleh prestasi di sekolah. Ketika duduk di bangku sekolah, kita sebagai siswa dijejali dengan sejumlah teori, yang diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pendidikan formal memang pada kenyataannya lebih menekankan pada proses pemintaran secara teori. Namun, ketika masuk dalam aplikasi kehidupan nyata, keadaan bisa berubah, dan tidak selamanya teori sejalan dengan kondisi lapangan. Selalu ada faktor “x” yang menentukan kesuksesan seseorang diluar kemampuan akademisnya.

Dari sinilah muncul istilah emosional quetion (EQ) atau kecerdasan emosional, yang tak kalah penting dari IQ atau kecerdasan intelektual. Para psikolog pendidikan dan ilmu sosial bahkan memberi rung besar pada sistem pendidikan terhadap kecerdasan emosional, kecerdasan melihat dan menangani situasi, maupun kecerdasan sosial atau kepintaran bergaul.  Sukses dalam kehidupan itu memang tidak semata mata ditentukan oleh cemerlangnya nilai akademis, tapi bagaimana seseorang itu dapat  menggabungkan semua ilmu dan keahlian sehingga menjadi  pribadi yang mumpuni.

Copy of PICT0141

Bagaimana dengan sekolah dan sistem pengajaran kita di kelas?. Saya merasakan ada benturan sistem terpusat dengan olahan metode dan kondisi guru di lapangan. Saya sulit membayangkan acuan kurikulum 2013 yang belum diterapkan di sekolah saya, bisa diberdayakan oleh guru dengan maksimal, jika membandingkan hasil KTSP kemaren. Panduan terpusat, dengan materi plus percetakan anti daerah semakin menyulitkan guru meramu siswa untuk digjaya di kehidupan nyata kelak.

Ini kekhawatiran saya, karena saya tak ingin siswa itu termenung ketika kelak mereka reuni dengan temannya, seperti kisah saya di atas.

Tagged with: ,

Comments (7)

  1. Terimakasih pak Mushlihin atas sharingnya. Betul sekali pak bahwa kecerdasan akademik belum tentu menjamin kesuksesan setelah terjun di masyarakat.

    Saya sepakat dengan pak Ramdhan bahwa Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kecerdasan sosial dan emosional justru berperan lebih penting daripada kecerdasan akademik.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar