6

Suatu Saat Tulisanmu akan Bertemu dengan Pembaca Setianya (+2)

Rosiana Febriyanti June 12, 2015

menbaca catalog

 

Teman, aku pernah dikirimi surat balasan dari sebuah surat kabar. Rasanya bahagia sekali, jantungku berdebar-debar saat membukanya. Sayang, isinya berupa surat penolakan. Apakah aku kapok menulis dan kapok mengirim tulisan lagi? Tidak, kuendapkan dulu tulisanku yang lain, kubaca kembali, kemudian kurevisi dengan editan di sana-sini. Terkadang jika menurutku tulisan itu kurang bagus, aku menunda pengirimannya.

Teman, aku mendapat nasihat ini dari sesama penulis. Nasihat itu kurang lebih seperti yang kutuliskan sebagai berikut. Sebelum menulis, perbanyaklah membaca buku, lihat sekeliling, dengarkan kata hati agar tulisan kita memiliki makna. Jangan pedulikan jumlahviewer. Semakin sering kita menulis, semakin membaik kualitas tulisan kita. Walaupun sedang tidak mood menulis, tetaplah menulis. Tak peduli seringan apapun yang kita tulis atau kita merasa kehilangan feel dalam tulisan kita, menulislah tanpa beban. Anggaplah menulis itu refreshing, karena bagiku menulis itu adalah hiburan yang mengedukasi pembaca. Suatu saat tulisanmu akan menemukan pembaca setianya. Suatu saat, buku yang kamu susun sekarang akan berjodoh dengan penerbitnya yang menyukai tulisanmu.

dear_diary1

 

Bersabarlah, tidak semua apa yang kita tulis akan dibaca orang saat pertama kali kamu mengunggahnya. Mungkin kamu perlu menghirup napas sejenak untuk mengumpulkan energi yang lebih besar karena menulis membutuhkan stamina yang kuat agar bisa menghasilkan karya yang berkualitas.

DP BBM Orang Sabar

 

Sebuah buku belum menjadi bestseller, mungkin bukan karena isinya yang kurang berkualitas, tapi bisa jadi karena momennya belum pas dengan isu yang sedang berkembang saat buku itu diterbitkan. Aku sering menemukan judul buku yang terinspirasi dengan jargon-jargon yang sedang marak di sosial media, seperti Jomblo Sampai Halal, Sakitnya Tuh Di Sini, Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih, dan sebagainya. Dengan judul buku seperti itu bukanlah jaminan menjadi bestseller, tapi aku yakin buku itu pasti akan bertemu dengan pembaca setianya sendiri.

Semangat

 

Jika kamu tipe orang yang idealis, menulislah tanpa peduli selera pasar. Walau sepi pembaca, kamu akan terus menulis tiada henti sampai akhirnya ada juga orang yang menghargai karyamu sebagai karya yang bernilai dan berhak mendapat apresiasi atau pengakuan dari komunitas perbukuan atau komunitas yang merasa satu idealisme atau sepemikiran denganmu. Jangan kecil hati jika saat ini belum ada yang bisa menghargai karyamu, mungkin besok karyamu menjadi karya gemilang yang mengharumkan namamu. Insya Allah.

Tulisan ini kubuat untuk teman-teman gurarues yang sedang bersemangat menyusun buku. Ohya, penerbit indie berbeda dengan penerbit besar, ya. Jadi teman-teman yang berniat menerbitkan di penerbit indie harus membayar sejumlah uang ke pihak penerbit tersebut karena menyerahkan sepenuhnya segala ongkos cetak, biaya editing, biaya pembuatan cover buku, dan harus menyerahkan setidaknya tiga buku ke perpusnas untuk dibuatkan ISBN. Berbeda dengan penerbit besar yang membayar penulis. Jadi, terserah teman-teman. Jangan sampai ada salah paham di kemudian hari. 🙂

Tulisan yang sama juga diunggah oleh Rosiana Febriyanti di sini 
Bogor, 12 Juni 2015 pada pukul 14.50 WIB

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar