1

STRATEGI GURU KELILING SISIR SISWA (GULING SISI) PADA MASA PANDEMI COVID – 19 (0)

ASRI AZIS October 18, 2020

Sekolah tempat ku mengabdi di SMP Negeri 5 Kendari, salah satu dari 22 SMP Negeri yang ada di Kota Kendari. Sekolah ini terletak di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Siswa yang di terima tahun pelajaran 2020 / 2021 berjumlah 379 orang yang terbagi sebanyak 11 kelas dari kelas VII.A sampai dengan kelas VII.K.  Berdasarkan jadwal pembagian tugas, saya mengajar di kelas VII.C sampai kelas VII.G dengan jumlah siswa sebanyak 179 orang dan 38 orang (21,2%) orang tuanya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan 141 orang (78,8%) orang tuanya berprofesi bukan PNS.

Proses pembelajaran tahun ini mengalami perubahan, mengingat saat ini, Corona Virus Disease 19 atau yang lebih dikenal dengan nama Covid – 19 menjadi pembicaraan yang hangat di segala lapisan masyarakat dan mendominasi ruang publik. Covid -19 adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus yang baru ditemukan. Walaupun penyakit ini lebih banyak menyerang kaum manula/lansia, virus ini dapat pula menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar hamper ke semua Negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Sehingga badan dunia World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemik global.

Beberapa pemerintah daerah termasuk di Kota Kendari memutuskan untuk menerapkan kebijakan untuk meliburkan siswa dan mulai menerapkan metode belajar dengan nama Belajar Dari rumah (BDR). Hal ini sesuai dengan arahan Mendikbud RI terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Berdasarkan rapat dewan guru SMP Negeri 5 Kendari menetapkan proses pembelajaran untuk semua jenjang kelas VII, VIII dan IX dan semua mata pelajaran dilakukan secara daring dan luring. System pembelajaran daring merupakan system pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui media online yang menggunakan jaringan internet. Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah. Sistem pembelajaran luring merupakan system  pembelajaran yang memerlukan tatap muka.

Pelaksanaan pembelajaran baik di tingkat pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi di tahun 2020 ini mengalami perubahan di sebabkan merebaknya virus berbahaya yang melanda di dunia dan bahkan telah sampai di Negara kita yang tercinta ini yaitu Corona Virus Disease 19 atau yang lebih dikenal dengan nama Covid – 19. Perubahan pembelajaran yang awalnya siswa belajar melalui tatap muka yang dilakukan di kelas sekarang telah berubah menjadi belajar dari rumah bagi siswa dan mengajar dari rumah bagi guru untuk semua jenjang pendidikan. Belajar dari rumah atau pembelajaran jarak jauh ini baru di alami oleh siswa kelas VII pada tahun pelajaran 2020/2021, sehingga berimplikasi pada proses pelaksanaannya.

Sebelumnya bisa dikatakan bahwa hanya guru mengelola pembelajaran di sekolah dan orang tua siswa hanya menyerahkan putra putri nya di didik dan diberi pengajaran oleh guru, namun sekarang ini guru dan orang tua siswa bekerja sama memantau, mengawasi, membina  dan membimbing siswa agar selalu belajar di rumah. Interaksi dan komunikasi diantara guru dan orang tua siswa secara intens selalu di lakukan untuk memastikan proses pembelajaran di rumah berjalan secara efektif. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membuat rambu-rambu atau pedoman pelaksanaan pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 yaitu pembelajaran melalui daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan).  Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diberi kesempatan untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dan dapat di terima dan dilakukan oleh siswa. Guru pun diberi kebebasan untuk melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan kemampuan guru mengelola pembelajaran dan memperhatikan kemampuan siswa untuk menerima materi pelajaran. Dengan demikian cara pengajaran yang saya terapkan terbagi atas 3 (tiga) bagian, yaitu:

  1. Pembelajaran Daring

Berdasarkan hasil keinginan beberapa siswa, ketika di mintai pendapatnya mengenai cara penyampaian materi pelajaran matematika serta tugas yang diberikan, rata-rata siswa mengharapkan agar proses penyampaian materi pelajaran dan tugas-tugas melalui WhatsApp, mengingat aplikasi Zoom tidak dapat menjangkau siswa secara keseluruhan.

Setiap hari Kamis mulai pukul 08.00 – 09.20 WITA, sesuai jadwal pembelajaran BDR di SMP Negeri 5 Kendari, guru mata pelajaran matematika memberikan materi pelajaran dan tugas melalui WhatsApp di grup matematika untuk setiap kelas.

Melalui grup matematika di setiap kelas, guru menyiapkan daftar hadir untuk di isi oleh siswa ketika menerima materi pelajaran. Melalui media WhatsApp, siswa  bertanya kepada guru tentang isi materi pelajaran dan kesulitan yang di hadapi, guru memberikan penjelasan  melalui chatting ataupun video call. Begitu pula siswa mengirim tugas melalui media WhatsApp.

Ketika siswa bertanya kepada guru terkadang tidak mengenal waktu, bahkan di malam hari pun ada siswa bertanya mengenai kesulitan nya mempelajari materi pelajaran. Memang tidak di pungkiri, guru harus tetap melayani keluhan dan kesulitan siswa dengan penuh rasa kasih sayang, mengingat mereka siswa kelas VII. Rasa capek, lelah, dan emosi pun di tepis jauh-jauh.

Peran orang tua siswa diharapkan dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan proses belajar mengajar di rumah, melalui pemantauan kegiatan siswa selama belajar di rumah. Guru dan orang tua secara intens berkomunikasi untuk memastikan siswa belajar di rumah tanpa di amati oleh guru.

  • Pembelajaran Luring

Guru diharapkan dapat terus meningkatkan kapasitas untuk melakukan pembelajaran interaktif dan sekolah dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan metode paling tepat. Selain pembelajaran daring, guru menerapkan pembelajaran luring. Sistem pembelajaran luring merupakan system  pembelajaran yang memerlukan tatap muka. Pihak sekolah membentuk posko-posko luring di setiap jenjang kelas. Tujuan pembentukan posko tersebut adalah siswa datang ke sekolah untuk mengambil materi pelajaran di posko dan menyerahkan kembali tugas di posko tersebut. Guru setiap mata pelajaran menunggu siswa ketika ada siswa yang ingin bertanya mengenai tugas yang di berikan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

  • Guru Kunjungi Siswa

Selain menerapkan pembelajaran daring dan luring, guru juga menerapkan strategi guru kunjungi siswa. Bahkan dapat dikatakan guru “mencari dan mengunjugi siswa”. Guru mengidentifikasi siswa mana yang harus di utamakan di kunjugi. Guru berkunjung ke rumah siswa yang tidak memiliki alat bantu pembelajaran misalnya tidak memiliki hp android di sebabkan ketidakmampuan orang tua siswa untuk mengadakan hp android. Dengan cara guru berkunjung ke rumah siswa diharapkan siswa dapat terpenuhi hak nya untuk menerima materi pelajaran. Guru kunjungi siswa dilakukan di rumah siswa maupun di tempat yang telah di sepakati oleh  siswa maupun sekelompok siswa misalnya di mesjid yang terdekat dengan rumah siswa.

Hambatan yang di alami oleh siswa dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) antara lain: 1) ketiadaan handphone yang dimiliki oleh siswa, solusi yang ditawarkan adalah agar siswa belajar secara kelompok, setiap kelompok berjumlah maksimal 5 orang, 2) ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya tinggi, penghasilan orang tua yang rendah. Solusinya adalah agar masing-masing siswa menyiapkan dana untuk membeli pulsa paket data dan digunakan secara bersama-sama pula, 3) penyelesaian tugas dirumah dengan partisipasi orang tua. Orang tua sibuk dan tidak maksimal membantu anaknya, ada beberapa orang tua justru jengkel atau marah kepada anaknya mengingat materi atau tugas yang diberikan justru orang tua juga mengalami ketidaktahuan atas materi tersebut. Akibatnya ada orang tua siswa yang mengusul agar sang guru mangajar secara tatap muka. Solusi guru menindaklanjuti keluhan orang tua siswa dengan mendatangi rumah anak tersebut. Dengan catatan tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu belajar dengan tetap menggunakan masker, cuci tangan sebelum dan sesudah belajar dan menjaga jarak antara guru dengan siswa. Guru mengajar dengan mendatangi siswa yang bermasalah menyelesaikan tugas matematika, dan 4) system pembelajaran daring dan luring tentu tidak seefektif pembelajaran di sekolah. Guru yang mengajar mata pelajaran matematika yang biasanya memberikan materi pelajaran 5 jam seminggu di sekolah, sekarang hanya memberikan materi selama 80 menit. Akibatnya adalah siswa akan mengalami kesulitan memahami materi pelajaran khususnya mata pelajaran. Solusi guru tidak harus memaksakan siswa untuk mengetahui materi pelajaran 100%, 50%-60% saja sudah cukup, setidaknya mereka tetap memahami pelajaran khususnya siswa kelas VII.

Pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 telah menguras energi seorang guru, baik dari sisi waktu, tenaga, pikiran dan bahkan finansial. Guru memberikan materi pelajaran baik secara daring maupun luring tak mengenal batas waktu. hampir dapat dikatakan, seorang guru meluangkan waktunya untuk terus memantau aktivitas belajar siswa di rumah maupun menerima keluhan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Siswa mengirim tugas dan guru memeriksa tugas siswa dan saling berinteraksi kepada siswa agar siswa paham dan mengerti atas tugas yang di berikan. Guru berharap agar siswa tidak mengalami kesulitan dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Komitmen seorang guru dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa merupakan kebulatan tekad seorang guru yang paling penting untuk menunjukkan kepada siswa bahwa siswa tidak sendiri dalam menghadapi situasi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19. Guru dan siswa tetap semangat dan bekerja sama dalam proses pembelajaran. Pandemi Covid 19 tidak akan menyurutkan semangat siswa dan guru. Guru tetap memberikan materi pengajaran dan siswa pun tetap belajar dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Guru dan siswa tetap “fight” dan memiliki semangat 45 dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa berkomitmen pantang menyerah dalam mengarungi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19. Pembelajaran pada masa pandemi Covid 19  tidak membuat seorang guru hanya berpangku tangan saja, pasrah pada situasi yang membelenggu dirinya, namun guru akan bangkit dan tetap memberikan solusi yang terbaik  kepada anak didiknya dengan cara membuat bahan ajar yang dapat di pahami oleh siswa pada materi pelajaran yang diajarkannya. Siswa pun tetap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan cara menyetor tugas ketika guru berkunjung ke rumah siswa tersebut.

Strategi pembelajaran yang digunakan guru merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang cenderung membuat siswa pasif dalam proses belajar mengajar, dapat membuat siswa merasa bosan sehingga tidak tertarik lagi untuk mengikuti pelajaran tersebut, terlebih lagi pelajaran matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga pemahamannya membutuhkan daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan ketekunan, keuletan, perhatian, dan motivasi yang tinggi untuk memahami materi pelajaran matematika. Untuk itu ketika seorang guru memberikan pengajaran kepada siswa nya  amat lah penting guru memiliki rasa “ikhlas” dalam artian bahwa mengajar atau memberikan ilmu pengetahuan yang di milikinya untuk di transfer kepada siswa dengan penuh rasa tanggung jawab dan di sertai rasa kasih sayang. Dengan ilmu pengetahuan yang telah di miliki oleh siswa, maka guru berharap semoga dengan ilmu yang telah di berikan akan memberikan manfaat kepada siswa untuk di pergunakan dalam kehidupan sehari – hari. Guru akan merasa senang dan bahagia ketika di suatu hari nanti seorang guru akan bertemu dengan siswa yang telah berhasil dalam kehidupannya. Guru tidak akan mengharapkan imbalan jasa dari siswa yang telah berhasil, karena dengan keberhasilan siswa tersebut telah membuat guru akan bahagia dan itu tidak dapat di gantikan oleh nilai barang maupun uang. Selain itu, ketika siswa tidak mempunya dana untuk membeli paket data maka sang guru pun dengan rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membelikan paket data dan diserahkan kepada siswa yang membutuhkan.

Selama proses pembelajaran baik pembelajaran daring maupun luring, masyarakat dalam hal ini orang tua siswa selalu berinteraksi dengan guru mengenai masalah yang di hadapi anak nya ketika  pembelajaran daring dan luring di terapkan. Komunikasi antara guru dan orang tua siswa secara intens selalu di lakukan. Terkadang orang tua siswa bertanya kepada guru di saat sang guru sedang sibuk dengan urusan sekolah, namun tetap di layani. Bahkan di saat guru sedang ada urusan keluarga dan orang tua siswa bertanya mengenai sejauh mana perkembangan belajar anaknya apakah sudah berhasil menyelesaikan kompetensi dasar atau tidak. Melalui sarana telekomunikasi berupa hp siswa pun terkadang bertanya juga tanpa mengenal waktu. Namun dengan kesabaran yang dimiliki oleh guru tetap melayani segala keluh kesah siswa. Filosofi seorang guru dalam masa pandemi Covid 19 yaitu tetap semangat memberikan pembelajaran yang terbaik kepada anak didiknya baik pembelajaran daring, pembelajaran luring maupun pembelajaran melalui guru berkunjung ke rumah siswa. Guru tetap terus memikirkan langkah apa yang hendak di lakukan agar siswa dapat dan terus belajar baik di rumah maupun di luar rumah.

Dalam melaksanakan pembelajaran selama masa pandemi Covid 19 ini, saya mengalami beberapa kesulitan dan hambatan diantaranya: a) rumah siswa yang jauh dari sekolah sehingga saya melakukan kunjungan ke rumah mereka dengan menggunakan sepeda motor, b) cuaca musim penghujan dan kemarau menyebabkan saya rentan terhadap penyakit terutama flu dan demam. Oleh karena itu saya selalu menyiapkan dan mengkonsumsi vitamin dengan harapan agar kondisi kesehatan saya terjaga agar secara intens dapat mengunjungi rumah siswa, dan c) saya mengalami kesulitan mencari alamat rumah siswa. Namun demikian, saya tidak memperdulikan hal tersebut, hambatan dan rintangan yang menghadang tidak menyurutkan langkah sang guru untuk mengunjugi rumah siswa. Siswa di mata seorang guru bagaikan anak sendiri, yang perlu mendapat pelayanan pembelajaran secara maksimal.  Saya sama sekali tidak memikirkan tentang bahaya virus corona yang berseliweran di udara. Ketika saya berkunjugi dan sampai di rumah siswa, saya terlebih dahulu memakai masker sebelum masuk dan menemui siswa. Saya merasa senang dan bahagia ketika telah sampai di rumah siswa.

Komitmen seorang guru adalah suatu keterikatan diri terhadap tugas, tanggung jawab serta kewajibannya sebagai guru yang dapat melahirkan tanggung jawab dan sikap renponsif dan inovatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini tantangan dunia pendidikan yaitu pembelajaran pada masa pandemi Covid 19. Pembelajaran dalam kondisi normal yang awalnya pembelajaran tatap muka antara guru dan siswa secara klasikal, sekarang ini berubah menjadi pembelajaran berbasis on line. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR) adalah pembelajaran yang lagi marak di laksanakan oleh guru maupun siswa. Namun, pembelajaran tersebut tidak menjangkau siswa disebabkan karena masih ada siswa yang tidak mempunyai sarana belajar berupa handphone dimana alat tersebut amat penting untuk kelancaran dalam proses pembelajaran. Maka tidak mengherankan, guru lebih bekerja keras memikirkan bagaimana caranya agar siswa dapat belajar dalam masa pandemi Covid 19. Salah satu contoh komitmen saya agar siswa dapat belajar dengan cara saya mencari dan mengunjungi rumah siswa. Hal ini merupakan bentuk perhatian saya agar dapat berkomunikasi dengan siswa, dapat mendengarkan segala keluh kesah mereka, dan dapat mengetahui keadaan sosial ekonomi mereka. Guru yang bijaksana adalah guru yang peduli terhadap keadaan siswa – siswanya. Oleh  karena itu guru selalu memberikan pendapat dan solusi agar siswa dapat belajar dalam masa pandemi Covid 19.

Pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 memang menimbulkan masalah baik bagi guru maupun bagi siswa.  Masalah bagi guru adalah guru tidak secara maksimal memberikan materi pelajaran, apalagi materi yang saya ajarkan kepada siswa adalah mata pelajaran Matematika yang membutuhkan pemahaman konsep dan bersifat abstrak.  Masalah bagi siswa adalah siswa yang tidak mempunyai handphone tentunya mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Oleh sebab itu, saya mengunjugi siswa di rumah dan memberikan materi secara langsung dengan mengikuti protokol kesehatan. Mengingat banyak siswa yang hendak di kunjungi tentunya menguras energi dan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik tenaga, waktu, pikiran dan bahkan finansial. Pelaksanaan pembelajaran dengan cara saya berkunjug ke rumah siswa di amati, di pantau dan di evaluasi oleh kepala sekolah tanpa saya sadari. Hasil pemantauan kepala sekolah mengisyaratkan agar saya tetap dan terus melaksanakan apa yang saya lakukan. Beliau memberikan motivasi dan respek dengan apa yang saya lakukan. Begitu pula dengan rekan sejawat memberikan respon yang positif, dan bahkan ada beberapa diantara rekan guru yang melakukan hal yang sama. Pembelajaran guru keliling mencari dan mengunjugi siswa perlu di terapkan oleh guru pada masa pandemi Covid 19 dengan harapan agar siswa tetap belajar walaupun situasi saat ini dunia pendidikan mengalami cobaan dengan adanya pandemi Covid 19.

Pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk berkunjung ke rumah siswa yang saya lakukan dengan tujuan memberikan materi pelajaran kepada siswa yang kurang mampu di sebabkan tidak mempunyai handphone sehingga tidak dapat belajar melalui pembelajaran daring.Jadwal berkunjung ke rumah siswa dilakukan secara berkala dengan tujuan agar siswa dapat mempersiapkan diri ketika guru datang berkunjung di waktu yang lain. Kegiatan guru berkunjung ke rumah siswa menurut saya manfaatnya banyak sekali khususnya siswa kelas VII yang baru saja tamat dari sekolah dasar. Manfaat yang saya rasakan antara lain: 1) memberikan pengalaman belajar yang berbeda, sebelumnya belajar di kelas secara klasikal namun kali ini belajar di luar sekolah atau di rumah secara tatap  muka. Siswa mengetahui bahwa belajar itu bisa di mana saja,  2) belajar bukan hanya mendapatkan materi dari buku paket siswa, namun materi pelajaran bisa di peroleh dari alam sekitar, misalnya dari pekarangan dan lingkungan rumah siswa itu sendiri sehingga siswa dapat memahami materi pelajaran dengan mengamati lingkungan sekitar siswa, 3) belajar bisa kapan saja, tidak terpaku pada jadwal belajar di sekolah, dengan demikian siswa dapat memahami bahwa belajar sangat penting bagi dirinya untuk bekal di kehidupannya ketika dewasa kelak  tanpa mengenal waktu tetap dan terus belajar, dan 4) mengajari siswa bahwa ketika guru datang berkunjung di rumahnya maka guru adalah tamu yang perlu di hormati olehnya itu siswa sejak dini memiliki sikap yang baik serta  sopan dan santun ketika menerima kedatangan tamu.

Kondisi dan situasi dunia pendidikan di Negara kita saat ini yang terjadi akibat pandemi Covid 19 telah mengakibatkan perubahan tatanan khususnya bidang pendidikan salah satunya. Beberapa pemerintah daerah memutuskan untuk menerapkan kebijakan dan mulai menerapkan metode belajar daring dan luring. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan, masih terdapat siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan metode tersebut karena di sebabkan berbagai macam persoalan yang di alami oleh siswa. Hasil investigasi di lapangan ditemukan masih ada siswa yang belum tersentuh sama sekali untuk mendapatkan hak nya untuk memperoleh materi pelajaran dari guru. Oleh karena itu, saya sebagai guru mata pelajaran Matematika harus turun langsung memberikan materi ke rumah siswa yang belum mendapatkan layanan pendidikan.  Guru berkunjung ke rumah siswa, memang pernah juga di lakukan oleh guru yang lain, namun berbeda pelaksanaannya di lapangan dengan yang saya lakukan. Berkunjung ke rumah siswa merupakan hal yang baru bagi saya selaku guru mata pelajaran Matematika dan  bagi siswa itu sendiri.

Kebaruan pembelajaran yang saya lakukan adalah mencari siswa yang akan di kunjungi dan langkah selanjutnya adalah datang dan berkunjung ke rumah siswa untuk memberikan materi pelajaran. Pelaksanan pembelajaran bukan hanya di lakukan di rumah siswa, namun dilaksanakan pula  di masjid yang berada di sekitar rumah siswa jika ada beberapa siswa yang ingin datang bergabung untuk belajar bersama. Pemilihan masjid sebagai lokasi tempat belajar terlebih dahulu telah berkoordinasi dengan pengurus masjid tersebut Setelah menetapkan masjid sebagai lokasi pembelajaran, maka siswa diharapkan datang belajar dengan mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama proses pembelajaran. Sebelum belajar, terlebih dahulu guru menyampaikan beberapa hal yang terkait tentang bahaya dan pencegahan Covid 19 agar siswa sedini mungkin dapat menghindarinya. Langkah selanjutnya adalah guru dan siswa sholat Dhuha secara berjamaah sebelum memulai pembelajaran.   Setelah pembelajaran selesai, guru dan siswa sholat Zuhur secara berjamaah. Guru menerapkan hal tersebut dengan harapan siswa memiliki karakter yang baik dan keimanan yang baik pula. Dengan demikian, belajar di masjid merupakan hal yang baru dan perlu di lakukan oleh guru yang lain.

Membelajarkan siswa yang mengalami masalah dalam belajar dilakukan dengan cara guru mencari siswa dan datang berkunjung ke rumah siswa serta menggunakan teras masjid sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran pada mata pelajaran matematika. Pemilihan lokasi masjid yang berada dekat dengan tempat tinggal siswa dengan tujuan agar siswa tidak mengalami kesulitan serta menghemat waktu, tenaga dan biaya. Selain tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai tempat kegiatan proses belajar mengajar. Pemilihan teras masjid dengan harapan siswa merasa nyaman belajar. Pandangan siswa tidak hanya terpaku pada buku pelajaran, namun dapat mengamati lingkungan sekitar masjid yang indah. Suasana pembelajaran terasa nyaman, apalagi hembusan angin sepoi-sepoi menyejukkan hati dan perasaan siswa. Pemilihan  teras masjid yang saya lakukan sebagai tempat belajar telah mendapat petunjuk dan arahan dari kepala sekolah agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sebagaimana mestinya. Selama proses pembelajaran berlangsung, siswa dengan antusias dan gembira menerima materi pelajaran. Materi pelajaran dengan mudah di terima oleh siswa. Hal ini dapat di lihat dari siswa mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Masjid sebagai tempat belajar di pandang perlu di budayakan dalam keseharian siswa, dengan kata lain siswa secara mandiri dapat menggunakan teras masjid sebagai alternatif lokasi tempat siswa belajar baik perorangan maupun berkelompok.

Pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 dengan menerapkan model pembelajaran daring dan luring berdasarkan data keikutsertaan siswa kelas VII mengikuti materi pelajaran Matematika masih terdapat siswa yang belum mengikuti pelajaran secara maksimal. Setelah ditelusuri ternyata siswa tersebut kekurangan informasi bahwa proses pembelajaran telah berlangsung sesuai jadwal pada kalender pendidikan tahun pelajaran 2020/2021. Pembelajaran dengan program guru berkunjung ke rumah siswa sebagai salah satu alternatif yang harus saya lakukan agar siswa tersebut dapat menerima layanan pendidikan supaya tidak terlambat materi pelajaran dengan siswa yang lainnya.

Pembelajaran guru berkunjung ke rumah siswa memang hal baru yang saya lakukan dan siswa merasa senang dan semangat belajar di sebabkan siswa dapat belajar dengan nyaman di rumahnya sendiri. Kenyataan yang terjadi di lapangan bukan saja di rumah siswa saja sebagai tempat belajar, karena ada beberapa siswa yang mau bergabung untuk belajar maka ditetapkan belajar di masjid yang dekat dengan rumah siswa tersebut.

Pembelajaran yang saya lakukan ternyata di ketahui oleh beberapa rekan guru baik di sekolah tempat saya bertugas maupun dari sekolah lain. Langkah yang saya lakukan ternyata ada rekan guru melakukan hal yang sama, dengan yang saya lakukan. Saya merasa senang, karena dengan demikian siswa tersebut dapat menerima materi pelajaran yang lain selain mata pelajaran Matematika yang saya ajarkan. Kepala sekolah mendukung dan  menghimbau kepada guru untuk melakukan kunjungan ke rumah siswa. Semoga pengalaman saya mengajar memberikan warna baru dalam dunia pendidikan bahwa masjid bukan hanya tempat orang beribadah dan belajar mengenal serta membaca Al Qur’an, namun masjid dalam hal ini teras masjid bisa pula sebagai tempat belajar yang nyaman bagi siswa.

#WritingCompetition
#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Sore 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar