1

STOP PERDEBATAN (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto February 26, 2021

            Lagi, kemarin saya temukan postingan di media sosial yang berkeluh kesah tentang pembelajaran daring. Sebenarnya keluhannya wajar saja, tentang anaknya yang sering tidak mengerjakan tugas sehingga beliau dipanggil guru ke sekolah. Tetapi ada satu komentar yang menyakitkan hati, menyalahkan guru dan pihak sekolah karena tidak kunjung melakukan pembelajaran tatap muka. Ketika ada yang mengingatkan bahwa kondisi begini bukan kemauan guru, malah tambah kasar kata-katanya, menganggap pandemi ini hanya konspirasi tingkat tinggi. Sebagai orang yang bisa disebut mewakili pihak sekolah, terus terang saya sedih dan sakit hati jika dibilang sekolah lah yang menginginkan pembelajaran moda daring begini. Karena kami sendiri juga merasakan kelelahan dan kejenuhan dengan system daring ini.

            Sudah hampir satu tahun sekolah tutup. Sebagus dan sekreatif apa pun pembelajaran dengan moda daring tetap tidak akan bisa menandingi efektifitas pembelajaran tatap muka di sekolah. Di sekolah guru dan murid bisa berinteraksi langsung, mencurahkan segala perhatian, bertanya jawab tentang apa saja, bahkan saling berbagi dengan teman lain dalam suasan cinta dan kasih sayang. Kalau boleh memilih, tentu kami akan memilih untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran secara normal di sekolah. Kami memahami jika tidak semua wali murid memiliki gawai yang layak untuk mendukung anaknya belajar daring, kadang-kadang 1 gawai masih harus dibagi waktu untuk 4 anak yang sama-sama belajar daring. Belum lagi jika orang tuanya semua bekerja dan harus menunggu mereka pulang untuk dapat belajar dengan gawainya.

            Jika dulu sekolah bisa membuat aturan yang seragam untuk semua siswanya di kelas, maka sekarang tidak lagi. Aturan harus disesuaikan dengan kondisi siswa dan keluarganya. Bahkan saat tatap muka sudah boleh dilaksanakan pun, jika ada wali murid yang tidak berkenan anaknya ikut pembelajaran tatap muka di sekolah, maka sekolah harus memfasilitasi dengan pembelajaran daring.

            Ya, kondisi pendidikan sekarang ini memang serba tidak ideal, apalagi kita melaksanakannya dalam kondisi terpaksa, karena pandemi yang melanda. Di masyarakat sendiri ada dua kubu yang saling berseberangan. Kubu yang menganggap bahwa pandemi ini adalah konspirasi tingkat tinggi yang entah apa tujuannya, berlawanan dengan kubu yang percaya bahwa virus ini nyata dan sudah merenggut ratusan ribu jiwa. Kedua pihak saling berdebat tentang siapa yang paling benar.

            Menurut saya sekarang ini sudah tidak ada gunanya lagi berdebat, hanya akan menghabiskan energi dan waktu. Masing-masing pihak akan merasa benar sehingga tidak aka nada penyelesaian. Sekarang tinggal pilih saja mana yang diyakini. Jika yakin bahwa virus ini nyata, dan memang itulah yang sebenarnya yang terjadi, maka tetaplah waspada. Jaga keluarga kita dari kemungkinan terpapar virus, dan jangan ladeni orang-orang yang masih kekeuh dengan pendapat bahwa virus ini adalah hasil konspirasi, karena akan mempengaruhi imunitas kita. Dan untuk para pemegang keyakinan bahwa virus ini adalah hasil konspirasi, silakan saja berpendapat apa pun. Kalau marah dengan pihak sekolah silakan tarik anak anda, tidak usah sekolah, atau cari sekolah yang bisa mengakomodir keinginan anda.             Kami para guru tidak berharap pujian atau semacamnya atas kerja keras kami. Cukup saling memahami saja antara wali murid dan pihak sekolah atas kondisi yang terjadi. Stop perdebatan yang tidak berujung pangkal, mari jaga imunitas Seperti kata Mas Menteri Nadiem Makarim, yang paling penting di masa pandemi ini adalah mengutamakan kesehatan

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar