3

Stop Mencela, Mencaci, Menghina, dan Mengumpat (0)

Zubaili January 26, 2021

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan” (QS Al-An’am: 108)


 Tidak sedikit dari kita terkadang disaat berkumpul bersama, baik dengan keluarga, ataupun dengan kawan sejawat, kita selalu berbincang-bincang tentang berbagai masalah, masalah di sekolah, masalah di rumah, masalah di desa, pokoknya pembahasannya dalam dan luar negeri,  hingga terkadang ‘lupa’ sampai mengupat, menghujat, menghina orang lain yang tak tahu apa-apa, ya ‘biar hidup suasana’ begitu celoteh kita saat itu.

Bagi sebagian orang, mencela adalah sudah menjadi hal lumrah dan ‘makanan pokok’, mereka akan terasa ‘lapar’ tatkala hari-hari mereka tanpa upat, caci maki, mengejek. Mereka akan sangat gelisah kalau hal ini tidak dilakukan. Seolah-olah ada yang kurang didalam hidupnya kalau tidak mengupat, dkk.

Apalagi selama ini mengupat, mencaci, dkk cukup sering kita melihat dan mendengar yang dilontarkan oleh seseorang  (atau bahkan kita sendiri pelaku utama), baik ditujukan kepada pribadi seseorang atau kelompok. Apalagi sampai mengejek para alim ulama. Na’udzubillah!

Cacian dan hinaan ini terjadi seiring demokrasi yang kebablasan ataupun salah dalam memaknai arti demokrasi itu sendiri. Bagi orang yang suka mencaci dan menghina, mereka menganggap semua orang sama dan boleh dicaci. Padahal tentunya manusia itu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Misalnya, para ulama mempunyai kelebihan dengan ilmunya. Dan wajjb kita memuliakan dan menghormati mereka. Para ulama adalah pewaris para Nabi.

Di zaman yang serba online, membuat orang-orang semakin mudah untuk saling mencela, mencaci, menghina, dan mengupat. Memiliki Laptop atau android kemudian mengisi pulsa atau paket intenet/wifi, aktitifitas saling mencela, mencaci, menghina, dan mengupat sudah bisa dikerjakan dengan menekan tombol keyboard hp atau laptop. Tanpa perlu harus ke tempat orang yang hendak di caci maki, dkk untuk bertatap muka.

Anehnya lagi, terkadang aktifitas yang sangat dilarang agama ini juga tak mengenal batas interaksinya, dan terkadang yang dihujat tidak saling kenal antara satu dengan yang lain. Tak saling kenal di dunia maya, apalagi di dunia nyata lebih tak ia kenali dan tak pernah bertemu. Ia berani menghina dan mengupat padahal hanya mendengar cerita dari orang lain yang belum tentu benar apa yang diceritakannya. 

Coba kita perhatikan, cukup banyak di medsos orang saling menghujat, menghina, mengupat bahkan anak ingusan pun yang belum tahu apa-apa ikut saling mencela menghujat. Bahkan terkadang berani menghujat pemimpin atau para ulama. Mereka seolah-olah melebihi ilmunya dari para ulama. Tugas kita guru untuk meluruskan atau membimbing mereka untuk menjadi pribadi yang baik, berakhlak mulia mencontohkan akhlaknya Rasulullah Saw.

Padahal dalam Islam, jangankan kepada sesama manusia, kepada binatang saja agama melarang mencaci. Sebagaimana ada hadits yang mengatakan:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : لاَ تَسُبُّوا الدِّيكَ ، فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى الصَّلاَةِ

“Jangan engkau menghujat ayam, karena sesungguhnya ia mengajak untuk shalat”.

Semoga Bermanfaat.

Akhii | Zubaili

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar