10

Stand By Me Pak Guru (+5)

Johan Arifin May 8, 2015

Sudah hampir dua minggu kelas 1 ditinggal wali kelasnya karena harus mengikuti PLPG di ibu kota Kalimantan Tengah yakni Palangkaraya. Itu berarti sudah dua minggu pula kelas satu tidak belajar, padahal sudah minggu kedua awal tahun ajaran baru. Oleh karena itu untuk sementara digantikan oleh guru lain secara bergantian. Kebetulan hari itu hari rabu, tanggal 13/08/2014 aku yang menggantikan mengajar di kelas 1.
Dari informasi yang aku peroleh dari guru lain, bahwa masih ada beberapa murid baru yang enggan masuk ke ruang kelas. Dan ternyata betul, 3 orang murid baru, yaitu Putu Andika, Wisnu, dan Putu Rhendra. Mereka masih saja tidak mau masuk ke ruang kelas dengan berbagai macam alasan.
Tersenyum aku melihat wajah suci mereka yang sedang meringis pilu, sepertinya sakit hati yang sangat berat ketika harus ditinggal kerabatnya yang mengantar ke sekolah. Ada yang mencari kakanya, ada yang tidak mau berpisah dengan ibunya, dan ada juga yang tidak mau masuk sama sekali dari hari pertama sekolah sampai sekarang (13/08/2014), kalau dibujuki pasti nangis, kalau dipaksa pasti mengamuk. Hmm…. jadi serba salah.
Putu Andika, seorang anak berkulit gelap dan berpenampilan rapi masih saja menempel dan menggandeng ibunya. Dia tidak mau masuk karena tidak mau terpisah sama ibunya, dia khawatir ditinggal ibunya pulang. Berkali-kali kubujuki, namun dia masih saja menangis dan memegang erat tangan ibunya,
“Masuk kelas yuk ! mau bermain nggak ? ayo bermain sama bapak dan teman-teman”
Putu Andika masih saja tidak perduli dengan tawaranku, dia tetap memegang tangan dan menarik-narik daster kumal ibunya, nampak raut wajah ibunya hitam kemerahan menahan amarah pada anaknya. Beberapa kali sang ibu memaksa melerai tangan Putu Andika yang selalu melingkar di tangannya, beberapa kali juga terlepas, namun Putu Andika tetap berusaha menjangkau tangan ibunya. Terkadang ibunya berusaha meninggalkan dia, Putu Andika tetap saja mengejar dan memegang tangan ibunya (hehe…maunya nempel terus seperti prangko)
Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya, anak seumuran Putu Andika memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, mereka harus dibantu beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru, kelas baru, dan teman-teman yang baru.
“Ibu, tolong antar dulu ketempat duduknya sebentar, nanti baru ditinggalkan”
“Iya, Pak”
Ibu itu berjalan menuntun tangan anaknya dan menyuruhnya duduk di depan, namun Putu Andika masih saja merengek sambil menarik-narik pakaian ibunya. Tidak berapa lama ibu Putu Andika kuminta untuk meninggalkan ruangan, si anak tetap saja memaksa, bangkit dari tempat duduknya mau berlari keluar dan berusaha memegang tangan ibunya, bahunya segera kupegang, kuusap-usap dan mengajaknya duduk.
“Yuk, kita bermain, mau ikut nggak ?’
Andika hanya mengangguk sambil menahan tangisnya dan berjalan ke arah tempat duduknya. Kayaknya bujukanku mulai berhasil, tinggal membujuk siswa yang lain.
Sementara Wisnu berdiri di depan pintu sambil menangis memandangi ke ujung sekolah, aku menghampirinya dan mengusap kepalanya.
“Kok menangis, kenapa?”
Bibirnya masih saja meringis matanya bercucuran sementara tidak terdengar sedikitpun isaknya.
“A’a…..”
Dengan suara serak dia memanggil kakaknya, kulihat seorang anak perempuan berlari ke arah kami, dan menyapaku.
“Dia adik kamu ?”
“Iya, Pak”
“Nah, sekarang kakak Wisnu sudah ada di sini, dan tidak ke mana-mana karena kakak Wisnu juga sekolah di sini, nanti bila waktunya istirahat boleh menghampiri kakak lagi, karena kakak juga mau belajar”
Wisnu mengangguk sambil mengucurkan air mata dengan wajah memelas, Wisnu kuajak masuk, kurengkuh bahunya dan kuminta untuk duduk di tempat duduk. Alhamdulillah dia menurut.
Dari hari pertama masuk Putu Rendra tetap kekeh tidak mau masuk dan bertahan di luar bersama bibinya. Aku beberapa kali membujuknya, namun sepertinya Putu Rendra bertahan dengan pendiriannya. Sementara setiap hari bibinya marah-marah kepada Putu Rendra karena tidak mau ditinggal. Ibu guru yang lain sering mengeluhkan anak yang satu ini karena memang tidak mau masuk sama sekali dari awal aktif sekolah.
Kubiarkan Putu Rendra di luar ruangan, kubuka pintu ruang kelas lebar-lebar, dengan maksud agar dia menyaksikan kegiatan kami belajar, siapa tau dia tertarik dan mau ikut belajar.
“Ayo semuanya, perhatikan dulu”
Teriakanku diacuhkan mereka, hmmm…. namanya juga anak-anak, ada yang duduk sambil melipat kedua tangannya, ada yang masih ngobrol dengan teman sebangkunya, ada yang masih bermain dengan temannya, dan tidak ketinggalan para muka meringis menangis.
“Semua mata memandang ke arah bapak, yang punya mainan disimpan dulu, kalau tidak bapak ambil, yang berbicara selesaikan dulu ngobrolnya, yang membawa makanan silahkan dihabiskan dulu atau disimpan”
Suasana masih riuh, kuhampiri satu persatu dan kuingatkan, hingga akhirnya semua siswa mulai nampak tenang dan memandangku.
“Sekarang kita bermain sambil belajar, yang mau ikut angkat tangan”
“Aku, Pak !”
“Saya, Pak !”
Semua pada mengangkat tangan, termasuk Putu Andika dan Wisnu, mereka mulai berhenti menangis dan senyum mulai menghiasi bibirnya, wah….senang sekali rasanya karena wajah sedih dan takut sudah pudar.
Karena situasi dan kondisi sedang tidak memungkinkan, aku mengambil kertas quarto putih dan kutulis huruf abjad dari A sampai Z, Setelah selesai kubagikan kepada mereka.
“Kita mulai bermainnya ya ! caranya setiap bapak tuliskan huruf abjad di papan tulis, yang memegang huruf tersebut harus berlari ke depan kelas, mengangkatnya, dan menyebutkan huruf tersebut sambil berteriak, bapak kasih waktu lima detik, siapa yang sudah berdiri sebelum lima detik itulah pemenangnya, yang terlambat dihukum tidak boleh pulang”
Permainan pun di mulai, beberapa kali harus diulang karena mereka masih belum mengerti, namun setelah didemonstrasikan ternyata permainan mulai teratur, suasana mulai kondusif, anak-anak mulai rileks dan gembira.

Siswa Kelas 1

dari kiri; Putu Andika, Putu Rhendra, Wisnu, Indah, dkk (Dokumentasi Pribadi)

Terkadang aku mengamati Putu Rendra yang masih di luar kelas, sesekali dia menengok ke arah kami yang sedang bermain dan sedikit tersenyum simpul.
Setiap kali dia melirik ke arahku, aku mengedipkan mata kearahnya, rupanya strategiku mulai dilirik Putu Rendra, ughhh…semoga saja Putu Rendra mau masuk ke kelas dan ikut belajar.
Hari pertama aku menggantikan wali kelas satu, aku gagal membujuk Putu Rendra. Keesokan harinya, kejadian itu terulang lagi ketiga siswa ini masih ngeyel, namun dengan bujukan maut akhirnya Andika dan Wisnu dengan senang hati masuk kelas. Sementara Putu Rendra dia masih menempel di ketiak bibinya, terus kubujuk masuk, dengan iming-iming bermain sambil belajar, Putu Rendra masih saja tidak mau masuk.
“Rendra, sukanya apa ? menggambar, menulis, membaca, bercerita, atau yang lain ?
Dia menyahut dengan suara kecilnya yang hampir tidak kedengaran, aku mendekatkan telingaku ke mulut Rendra, dia setengah berbisik.
“Menggambar”
“Oke deh, ayo kita menggambar, tapi sambil belajar ya, mau nggak ?”
Putu Rendra menganggukkan kepala, dengan senang hati dia masuk dan duduk di tempat duduknya.
Aku memberi waktu selama 15 menit kepada mereka untuk melakukan aktivitasnya sesuai kesukaannya, ada yang menulis, ada yang ngobrol, namun lebih banyak yang menggambar.
Suasana mulai tenang, mereka mulai asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba seorang ibu guru S masuk ke kelas kami dan langsung menutup pintu, alhasil Putu Andika menangis lagi dan berlari ke luar, dia sempat marah dan membanting pensilnya karena ditangkap dan dipaksa oleh guru S bertahan di dalam kelas. Dia berlari keluar mendatangi ibunya yang masih duduk menunggu di luar. Rupanya Putu Andika tidak mau ibunya hilang dari pandangan matanya.
Aduh….susah-susah aku membujuknya, tiba-tiba ibu guru S masuk, maksudnya mengambil hati ikut menenangkan siswa kelas 1, namun ternyata sebaliknya yang terjadi.
“Biarkan saja bu, yang penting anak mau masuk dulu”
“Anak ini kalau di rumah nakal banget, Pak”
O, ternyata ibu guru S adalah tetangga Putu Rendra.
“Hehee….biarkan saja bu”
Kemudian ibu guru S tersebut keluar ruangan meninggalkan kelas.
Akhirnya aku kembali lagi berjuang untuk membujuknya, setelah kegiatan bermain sambil belajar mulai berjalan, ternyata tiba-tiba ibu guru S masuk dan berusaha menutup pintu lagi, akhirnya acara tangis-menangis pun terulang kembali  disitu terkadang saya merasa sedih.
Kubiarkan keadaan yang meriah tapi mencekam hingga perlahan mulai tenang.
“Permainannya kita ulang ya…. !”
“Horeee….horeee….!” tiba-tiba anak-anak berteriak dengan senangnya.
Rupanya interaksiku dengan para siswa baru di kelas 1 mulai membekas di hati mereka. Bila waktu istirahat, aku sedang berada di kantor, ketiga siswa ini sering sengaja lewat di depan pintu hanya sekedar mencari simpatiku, matanya selalu kearahku, aku mengerti sikap mereka, kulempar senyum dan kulambaikan tangan kepadanya, merekapun membalasnya.
Bila waktunya pulang sekolah, mereka beramai-ramai melambaikan tangan sambil memanggilku.
“Pak guru, Pak guru !”
“Besok belajar sambil bermain lagi ya !”
Bahagia sekali rasanya melihat wajah lucu mereka. Sepertinya hal-hal yang dianggap kecil ternyata butuh perjuangan yang besar agar mereka belajar dengan ikhlas dan gembira. Tidak semua anak sama, namun semua anak sama membutuhkan adaptasi dengan lingkungannya yang baru. Hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang cepat beradaptasi bahkan ada yang membutuhkan proses lebih lama. Jadi, paksaan tidak akan merngubah apapun, harus didekati dengan cara mereka sendiri dan dengan minat yang mereka senangi.

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan Berhadiah Acer One 10”

Comments (10)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar