7

Stand By Me Pak Guru : Muridku Penyejuk Hatiku (+4)

Johan Arifin May 11, 2015

Mengajar di kelas rendah seperti kelas 1 sekolah dasar merupakan sebuah tantangan, karena pada saat itu adalah saat-saat dimana mereka menghabiskan waktunya hanya untuk bermain, di rumah, di sekolah, bahkan ketika orang sedang khusuk beribadah mereka tetap asyik bermain. Kesenangan bermain itulah yang menyebabkan mereka susah untuk didisiplinkan khususnya di dalam kelas saat proses belajar mengajar.
Jum’at, 29/08/2014, adalah jadwalku mengajar Pendidikan Agama Islam di kelas 1. Entah aku yang bodoh, atau aku yang tidak bisa mengelola kelas, atau aku yang memang tidak berdaya, karena hari itu tidak seperti biasanya, kelasku seperti di lapangan bola saja, bukan untuk belajar seperti kelas pada umumnya.
Semua penuh dengan kesibukannya masing-masing, teriakan, gelak tawa, dan kejar-kejaran. Ketika kuucapkan salam hanya beberapa yang menjawab, sementara yang lain sedang asyik dengan aktivitas mereka sendiri. Aku mencoba memancing perhatian mereka, apakah mereka memperhatikanku atau tidak.
“Ada yang mau bermain sambil belajar”
“Sayaaaaa……”
Wow, semua siswa mengangkat tangan dan memandang ke arahku. Ternyata mereka menyadari keberadaanku di kelas, hanya saja mereka tidak memperdulikanku, mungkin karena terlalu senang sehingga mereka asyik sendiri-sendiri.
“Yah…. kalau diajak bermain pasti semua merespon dengan cepat” gumamku dalam hati.
Dengan nafas turun naik masing-masing siswa mulai menempati tempat duduknya, kubiarkan suasana tenang beberapa menit agar mereka konsentrasi dan membalas ucapan salam dengan baik.
Kubuat sebuah lingkaran kecil di lantai, namun belum sempat aku menyampaikan cara bermain, e…e…e…. ternyata mereka sudah bermain-main di lingkaran itu, ada yang melompatinya, ada yang keluar masuk lingkaran tersebut hingga ada juga yang berbaring di lingkaran tersebut, semakin lama gelak tawa dan riuh pun semakin tak terkendali.
Rupanya kegiatan kami di kelas 1 mendapatkan perhatian dari siswa lain, lagi-lagi siswa di kelas tetangga harus masuk ke kelasku dan menjadi penonton, bahkan mereka meminta ikut bermain. Aku sering menanyakan kepada mereka.
“Kelas kamu tidak belajar ya ?”
“Belum, Pak”
“Boleh di sini, tapi jangan mengganggu ya”
Mereka manganggukkan kepala sambil tersenyum. Memang, kelasku selalu saja mengundang siswa lain untuk ditonton (Ge er…. 🙂 )

Siswa kelas 1 Sekolah Dasar (Dokumentasi Pribadi, 29/08/2014)

Siswa kelas 1, SDN 1 Lunuk Ramba (Dokumentasi Pribadi, 29/08/2014)

Semua rencana pembelajaran yang kususun sedemikian rupa ternyata amburadul, dan garis bentuk lingkaran di lantai yang kugambar dengan spidol board maker ternyata pelan-pelan menghilang karena terinjak dan tersapu oleh kaus kaki-kaki mungil mereka.
Aku mulai menggaruk-garuk kepala meskipun tidak gatal, menarik nafas panjang, dan akhirnya duduk di bangku, sambil memandangi mereka yang penuh gelak tawa, kupegangi kepala sambil kuusap-usap jidadku karena kebingungan sendiri. Akhirnya aku hanya diam sebagai jurus ketidakberdayaanku.
Rupanya diamku mengundang perhatian mereka, salah seorang siswa berteriak.
“Hei….jadi bermain nggak ?”
“Iya, mau belajar nggak ?” sahut siswa lain
Perlahan-lahan semua mulai diam, permainan merekapun mulai berakhir dan mereka bergerombol berdiri mengelilingiku.
“Pak, jadi nggak belajar sambil bermain”
Aku tetap diam dan pura-pura tidak memperdulikan mereka, suasana mulai mencekam, para siswa terdiam dan nampak khawatir melihatku. Tiba-tiba kulempar senyum kepada mereka, mereka berteriak.
“Yeahhhh….”
“Horeeee….”
“Bermain….bermain…bermain” Teriakan mereka penuh kegirangan.
“Tapi minggu depan”
“Yah, Bapak….”
“Kan kalian sudah bermain, sebentar lagi kelas ini akan dipakai untuk belajar pelajaran agama lain”
Keceriaan diwajah mereka nampak memudar
“Dengan satu syarat, minggu depan kalian harus mau mengikuti dan mematuhi peraturan yang kita sepakati, siap…”
“Siap, Pak”
Senyum pun menghiasi wajah mereka lagi.
Terkadang, apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi di kelas, anak lebih memilih melakukan aktivitas sendiri daripada mengikuti peraturan gurunya. Ada saatnya guru perlu diam, bukan sebagai pembiaran, tapi sebagai protes atas tindakan mereka.
Apa yang mereka lakukan merupakan bentuk awal kedisiplinan mereka, mereka akan belajar dari apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya mereka menyadari dan tidak mengulang aktivitas yang sama.
Keributan dan kekacauan yang terbentuk dari antusias siswa belajar memberikan makna tersendiri. Segala masalah yang sudah memenuhi kepala ternyata tertutupi oleh keceriaan anak-anak di ruang kelas. Tawa, canda, dan sikap mereka yang begitu polos menjadikan aku semangat untuk mengajar dan rindu ingin bersua lagi di minggu depan.
Terkadang disitulah asyiknya menjadi seorang guru 🙂

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan Berhadiah Acer One 10”

 

Comments (7)

  1. Saya belum pernah mengalami mengajar anak kelas 1 SD ! Bagaimana rasanya? Kesabaran kunci utama yang perlu ada pada diri guru ! Selamat Pak bapak lulus dalam kesabaran untuk mendidik anak2 kita calon2 generasi emas di masa datang !

    Salam Persahabatan Dari One Sm !

  2. saya pernah mengajar kelas 1 bertahun-tahun tepatnya di kelas filial di daerah pegunungan
    walaupun letaknya jauh dan perlu perjuangan menuju ke sekolah juga perlu mental sabar menghadapi anak juga masyarakat yang minim edukasi tetapi itu menjadi penyemangat saya untuk terus berbagi, ada perasaan rindu kepada anak-anak bila tak bertemu anak2 saat liburan.

  3. Dengan hati yang ikhlas, tentunya situasi dan kondisi yang sulit sekalipun pasti terasa menyenangkan. Kesabaran muncul karena adanya keikhlasan 🙂

    Pak Umar, terima kasih sudah menyempatkan diri membaca artikel saya 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar