4

Sosmed Sebagai Media Pembelajaran… Mengapa Tidak…?! (+4)

ibnufajar75 May 7, 2015

social-mediaMasih banyak guru beranggapan bahwa social media seperti facebook dan twitter mengganggu belajar siswa. Bahkan banyak sekolah yang alergi dengan adanya social media tersebut, sampai-sampai melarang siswanya untuk membawa HP. Padahal apabila seorang guru dapat memanfaatkannya, maka proses pembelajaran akan lebih menyenangkan.

Contohnya begini, jika sebelumnya tanya jawab soal pelajaran hanya berlangsung di ruang kelas, maka dengan adanya social media, hal itu bisa dimungkinkan kapan saja dan dimana saja.  Bayangkan, bertanya soal PR atau tugas-tugas yang kurang jelas cukup melalui Twitter dengan me-mention guru, asyik bukan?  Atau jika ada rumus yang bikin pusing, bisa tanya ke teman yang jago matematika lewat FB.

Agar penggunaan social media dapat digunakan tepat sasaran, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan guru untuk mengarahkan pemanfaatan social media ini untuk kepentingan belajar mengajar, antara lain :

1. Tanyakan pada siswa social media apa yang paling banyak dipakai ?

Ini penting, sebab sia-sia saja seorang guru aktif di twitter kalau ternyata muridnya sebagian besar lebih aktif di facebook, atau kebalikannya.  Caranya buat saja survei saat di kelas, dengan demikian guru tahu jenis social media mana yang paling banyak diminati muridnya.  Jika twitter paling banyak dipakai, maka ajaklah murid yang belum pakai twitter untuk membuat akun di sana. Kemudian ajak untuk saling follow. Demikian juga apabila facebook lebih banyak disukai, ajak murid lain bergabung di FB.

2. Optimalkan Groups dan Komunitas

Dalam beberapa social media seperti facebook dan google plus, ada fitur Groups yang bisa dioptimalkan sebagai ajang diskusi.  Kalau di twitter dapat menggunakan hashtag atau taggar agar mempermudah klasifikasi diskusi kelompok dengan siswa dan guru.  Dengan menggunakan fitur-fitur ini maka murid dan guru tidak akan “tersesat” dalam komunikasi yang lebih umum, melainkan lebih spesifik ke pembahasan sesuai topik yang mereka inginkan.  Ini juga menghindari pencampuradukan antara isu pibadi dan isu sekolah.

3. Perjelas batasan privasi

Sampaikan ke para siswa, informasi mana yang layak menjadi konsumsi umum atau yang menjadi privasi. Misalnya ada hal-hal yang hanya boleh di-share ke kalangan sekolah saja, atau boleh dibagikan ke umum. Dengan begitu siswa paham, mana info yang dapat ia share ke teman-teman satu sekolah, atau ke semua teman di jejaring sosialnya.  Ini demi menghindari kesalahpahaman atau bocornya info tertentu yang dapat memicu miss komunikasi pihak luar.

Jadi buat rekan guru Indonesia yang masih alergi dengan penggunaan social media ini mulailah mencoba dengan memanfaatkannya dalam hal-hal yang positif seperti digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Jika sosial media ini digunakan dengan benar, tentu hal ini akan mengurangi dampak negatif dari sosial media ini dan justru membuatnya menjadi bermanfaat.

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Sumber : ictwatch.com

 

Salam,

Ibnu Fajar

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar