9

[softskill] MEMBUDAYAKAN SISWA LEWAT BELAKANG GURU (+5)

mokhamad subakri May 6, 2015

Di jaman yang sudah serba IT gini bikin orang lebih menyendiri dan aktif dengan on linenya. Interaksi dengan sesama sudah berkurang intensitasnya. Bahkan budaya sopan-santunpun luruh dimakan jaman. Jika kita amati genarsi muda kita sekarang, bikin kita yang sudah biasa hidup ke timuran hanya bisa menelan ludah pahit.

Ketika kita ingat di tahun 90 ke bawah, jika anak/siswa diingatkan/dinasehati oleh gurunya/orang yang lebih tua. Mereka pasti menundukkan kepala dan pandangannya. Namun di masa ini, sebagian besar mereka malah melihat ada yang melotot bahkan lebih parah lagi balas ngomel kepada yang memberi nasehat. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan budaya dan ajaran agama kita.

Sebenarnya faktor utama adalah keluarga. Tempat pertama anak-anak kita belajar bersikap. Jika keluarga baik insyaallah genarasi kita baik pula. Namun sekarang jangankan di kota, di desapun pola berfikir manusianya juga sudah materialistis. Mereka rela meninggalkan anak istri atau bahkan ibu meninggalkan keluarganya pergi ke negeri seberang untuk mencari rupiah yang lebih besar. Kehidupan di desa masa lalu cukup makan apa adanya dan bahagia. Kini, dengan adanya televisi dan hp yang menyajikan informasi beraneka ragam membuat mereka juga ingin meniru apa yang dilihatnya.

saat pembelajaran atau istirahat siswa dibudayakan lewat di belakang guru_ pak yurfan nampak sedang mengajar

saat pembelajaran atau istirahat siswa dibudayakan lewat di belakang guru_ pak yurfan nampak sedang mengajar di kelas VI SDN Jambekumbu 01 Kec. Pasrujambe

Jika sudah keluarga tak mampu mendidik generasi ini berahlak karimah. Tumpuhan ke dua adalah sekolah. Sekolah diharapkan mampu menutupi kekuarangan pendidikan yang diterima anak di rumah. Meski kenyataanya banyak sekolah yang ada sekarang juga lupa dengan tujuan utama pendidikan. Tuntutan kurikulum banyaknya materi dan atau faktor pribadi guru yang malas bekerja membuat kondisi semakin memburuk. Harapan sekolah jadi penutup tadi malah menambah kondisi buruk siswa.

Pendukung ke tiga adalah masyakarat di mana anak-anak itu tinggal. Jika masyakaratnya berbudaya baik, insyaallah mereka akan ikut baik. Namun jika masyakaratnya juga tidak ikut mendidik, maka generasi kita akan terus mengalir dalam air hitam yang nantinya mejadi banjir kehinaan bagi kita semua.

Tapi tentunya tidak semua sekolah dan guru seperti pada paragraf di atas. Masih ada sekolah dan guru yang berusaha semampu mungkin mencoba bertahan melawan hempasan perubahan karakter jaman agar tetap seperti budaya yang baik itu.

Berikut ini beberapa budaya yang kami coba untuk budayakan agar siswa belajar sikap sopan-santun. Tips-tipsnya akan kami sajikan dengan bersambung ke posting selanjutnya.

SISWA LEWAT DI BELAKANG GURU

Meja guru memang diseting berada di depan dan agak ke tengah. Hal ini bertujuan agar guru bisa memberi perhatian lebih luas kepada seluruh siswa. Yang kedua memberikan ruang gerak siswa jika konsultasi meteri. Dan yang paling menarik memberikan jalan kepada siswa agar tidak lewat di depan guru. Mereka bisa lewat di belakang guru yang sedang duduk.

Dengan demikian diharapakan siswa memiliki kebiasaan hormat kepada orang yang lebih tua dengan tidak lewat di depannya. Atau kelau memang terpaksa lewat di depan guru/orang lebih tua dengan bersikap permisi.

Kegiatan ini bukan berarti guru minta dihormati oleh siswa. Tapi merupakan pembelajaran bagi generasi kita agar bisa membudayakan sikap baik tersebut. Pembiasaan ini diharapkan terbawa sampai SMP, SMA, Kuliah, bahkan jadi anggota masyarakat. Dengan demikian tercipta generasi yang berhati lembut dan indah jika dilihat.

β€œArtikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Baner Guraru

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar