1

Skenario Pembelajaran di Masa Pandemi (0)

Dwi Septiyana October 18, 2020

Pembelajaran jarak jauh, belajar di rumah, belajar daring, school from home, atau apapun istilahnya–merujuk pada suatu kegiatan tidak tatap muka–tampaknya menjadi kegiatan pembelajaran yang sama sekali baru bagi kita semua, baik bagi pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, ataupun stakeholder lainnya. Bagaimana pun, pandemi Covid-19 yang mulai kita rasakan dampak luasnya semenjak awal Maret 2020, imbasnya sangat luas, terutama bagi dunia pendidikan.

Jangan heran ketika para guru sedikit gelagapan dengan sistem pembalajaran daring (dalam jaringan, istilah untuk online). Baik berurusan dengan penguasaan teknologi ataupun mencari metode yang pas untuk anak-anak didiknya.

Tentu saja, karena mereka semua tidak menyangka sedikit pun wabah yang melanda dunia ini, menggerus nyaris semua tatanan kehidupan yang sudah ajeg selama ini, lalu merubah juga beberapa skenario pembelajaran yang selama ini sudah baku dilakukan oleh guru di sekolahnya.

Saya sendiri sebenarnya memulai tahun ajaran dengan persiapan yang cukup baik. Terlebih sebelum wabah terjadi, beberapa kali menugaskan anak didik dengan melibatkan teknologi digital, seperti menggunakan beberapa video pembelajaran, melakuka ulangan online untuk evaluasi, dan lainnya. Ternyata pengalaman melibatkan teknologi digital dalam pembelajaran yang saya lakukan sebelumnya tidaklah cukup.

Pengalaman unik terjadi di awal tahun ajaran. Bagaimana tidak membuat kami–para guru dan staf tata usaha–terpingkal mendengar pengalaman saya ketika mengadakan pembelajaran pada pertemuan pertama. Ceritanya berawal dari bidang kurikulum mewajibkan semua guru menggunakan LSM Classroom dari Google sebagai aplikasi dalam pembelajaran. Akun Google saya menggunakan nama Dwi Septiyana dan foto profil Ehsan, salah satu tokoh dalam film 3 Idiots. Tentu saja saya memulai pembelajaran dengan menyapa mereka, (dalam bentuk tulisan di menu Forum) “Hallo, selamat pagi anak-anakku semua. Apa kabar pagi ini?

Sontak mereka membalas sapaannya dan membuat saya sendiri terlonjak kaget, “Puji Tuhan, kami semua baik, Bu.“, “Hari ini sehat wal afiat, Bu“, “Alhamdulillah Bu, masih bisa diberi kesempatan belajar.”

Hallow, saya kan guru laki-laki, kenapa mereka memanggil saya dengan “Ibu”?

Sedikit menahan emosi, saya tidak langsung bereaksi memberi tahu kekeliruan mereka. Lalu saya balas jawaban dari anak-anak itu, “Lho, kok kalian panggil ibu sih?

Salah satu anak langsung bereaksi menjawab dengan polos yang membuat saya geleng-geleng kepala terbahak, “Oh iya, maaf Mbak.

Saya putuskan untuk membiarkan persepsi mereka tentang diri saya. Harapannya mereka bisa mencari tahu sendiri siapa guru mereka sebenarnya. Biarkan rasa ingin tahu dan mencari kebenaran tumbuh dari diri mereka sendiri. Sayang sekali jika pada pertemuan pertama, saya sudah memberitahu kekeliruan mereka, tanpa memberi kesempatan rasa ingin tahu dalam diri mereka tumbuh.

Pembelajaran daring yang tidak memungkinkan guru-murid saling bertatap muka secara langsung terkadang menjadi hambatan dalam hal komunikasi di antara keduanya. Namun teknologi diciptakan untuk mempermudah bukan untuk mempersulit atau menghambat komunikasi. Justru berbagai hambatan menggunakan teknologi selama pandemi, selalu ada solusinya.

Pembelajaran daring terus berlangsung. Pertemuan berikutnya saya coba untuk telekonferensi menggunakan aplikasi Zoom, agar mereka bisa melihat “penampakkan” saya secara langsung, hehe (walaupun dengan tatap muka jarak jauh). Idealnya kegiatan telekonferensi ini menggunakan perangkat yang kompatibel, seperti laptop dengan koneksi cepat dan stabil (bisa dilihat dari perangkat spesifikasi WiFi dan antenna laptopnya), daya tahan baterai, kamera, dan layar monitor yang nyaman di mata.

Semakin hari kompetensi teman-teman guru dalam pembelajaran daring semakin terasah (seiring semakin bertambahnya jam terbang dalam pembelajaran daring). Satu dua orang mulai membuat kanal YouTube, membuat video pembelajaran sendiri yang selama ini mereka hanya tinggal comot video milik orang lain, lalu menyuruh anak-anak menyaksikannya. Video pembelajaran yang dibuat oleh guru sendiri cukup efektif di mana guru lebih memahami kemampuan anak-anaknya, menyajikan pembelajaran dengan gaya seperti apa, atau seberapa banyak materi yang harus diberikan sesuai dengan kapasitas daya tangkap anak didiknya.

Kendala lain menghadang ketika sampai pada bagaimana mengedit video, tidak cukup hanya mengandalkan smartphone untuk video dengan durasi cukup lama dan berbagai animasi pendukung untuk membantu pemahaman anak didik. Spesifikasi laptop tertentu yang mampu menunjang kinerja aplikasi video editor sudah seharusnya diperhatikan: operating system, prosesor, memory, dan VGA.

Semakin variatif seorang guru dalam kegiatan pembelajaran daring, membuat anak didik semakin betah dalam memahami materi dan tidak mudah mengalami kejenuhan. Ada beberapa variasi kegiatan pembelajaran yang bisa dilakukan, seperti:

  1. Membuat presentasi menggunakan Google Slide yang divariasikan menggunakan add-ons “Peardeck”, sehingga guru tidak hanya menyajikan materi satu arah saja. Tetapi dengan Peardeck memungkinakan anak didik berinteraksi langsung secara real time. Mereka bisa menanggapi apa yang disajikan guru, atau menjawab pertanyaan yang guru berikan. Nilai tambahnya semakin banyak pertanyaan kepada anak didik dalam satu slide, guru dapat menilai seberapa jauh pemahaman anak tersebut. Tidak lantas mengasumsikan anak sudah paham ketika dapat menjawab satu pertanyaan, karena dalam pembelajaran daring ini kemungkinan jawaban anak hanya copy paste sangat besar.
  2. Membuat video pembelajaran sendiri untuk disaksikan anak-anak didiknya. Terkadang guru akan mengalami beberapa anak hanya men-skip video tersebut lalu menonton hanya bagian akhirnya saja. Akibatnya materi yang seharusnya dipahami anak, tidak tersampaikan dengan baik. Salah satu alternatif pembelajaran melibatkan media video pembelajaran adalah dengan aplikasi EdPuzzle yang dapat digunakan secara gratis. EdPuzzle sudah terintegrasi dengan Classroom, di mana skor dari EdPuzzle secara otomatis akan terinput di Classroom. sehingga guru tidak perlu repot memindahkan skor. Video yang ditampilkan tidak bisa di-skip oleh anak dan tidak ada video lain yang muncul atau diklik pada tampilan smartphone, dengan harapan semua anak bisa menyaksikan video tersebut dengan fokus. Pertanyaan akan muncul pada tiap segmen selama video tersebut berjalan, tergantung guru pada bagian video mana (awal, akhir, atau tengah) pertanyaan akan muncul.
  3. Pada tahap evaluasi, umumnya guru akan mengadakan penilaian menggunakan berbagai aplikasi evaluasi, seperti Google Form, Kahoot, atau Quizizz. Tetapi dengan perangkat teknologi digital dan semakin trending-nya media sosial, kita bisa membuat penilaian dalam bentuk proyek. Ambil misalnya mata pelajaran kimia dengan tugas akhir membuat praktikum sederhana Sistem Koloid. Guru bisa memberi tugas proyek, masing-masing anak (atau berkelompok dengan tetap menerapkan protokol kesehatan), dalam bentuk video singkat, 1-5 menit, lalu mengunggahnya di akun sosmed mereka (menggunakan Facebook, Instagram, atau TikTok). Poin penilaian bisa ditambahkan yaitu daya kreativitas tiap kelompok.

Tiga alternatif pembelajaran di atas hanyalah sebagian kecil dari begitu banyak variasi pembelajaran yang bisa dilakukan oleh guru. Teknologi–terlebih teknologi digital–sejatinya (sekali lagi) membuat sesuatu yang awalnya rumit, menjadi lebih mudah dan lebih efektif.

***

Artikel ini, saya tulis untuk diikutsertakan dalam Guraru #WritingCompetition 2020, di mana setiap guru pasti memiliki pengalaman dan tantangan yang berbeda, yang menarik, dan cerita uniknya masing-masing. Terlebih di masa pandemi dan new normal atau kebiasan baru ini, semakin banyak #NewNormalTeachingExperience yang layak dibagi kepada sesama guru di mana pun berada.

***

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar