0

Adre si Penguasa Kelas (+1)

Taufik March 8, 2013

0 Pagi ini aku merasa semangat, kenapa ? karena pagi ini saya akan bertemu lagi dengan siswa-siswi SDN Jampang 5. Kali ini aku kebagian tugas mengajar kelas 3 tentang tematik matematika dan Bahasa Indonesia.
Sebelum memulai pelajaran, aku harus menyembunyikan jam tangan saya di laci meja salah seorang siswa. Namun karena kesulitan, saya menyembunyikan jam tangan di lemari buku, samping meja guru.

Apa kabar ? tanya saya dengan suara lantang
Dahsyat…. Luarbiasa…. Allahu Akbar teriak kompak siswa kelas 3 SD Jampang (sebenernya ada gerakan nie).. he
Dengan menebar senyum semanis mungkin, saya mulai berbaur dengan mereka. Saya mulai pejalaran pagi itu dengan permainan tepuk tangan dan lagu anak-anak.

Oh iya, jam pak guru hilang dikelas ini kemarin ?
Anak-anak bisa bantu cariin jamnya pak guru tidak, Nanti siapa yang menemukan jam pak guru, pak guru kasi permen. teriak saya meminta kepada semua siswa.

Pak guru kemarin tidak pernah masuk dikelas kami, teriak Adre. Wah nie anak tau saja (gumam ku dalam hati)..
Kemarin pak guru masuk ke kelas ini, dan kehilangan jam. Jawab saya meyakinkan semua siswa.

Kembali kupinta mereka untuk mencarikan jam tangan itu. Akhirnya semua siswa sibuk mencari jam tangan yang saya sembunyikan, ada yang mencari di bawah meja, dilanci, disaku saya, sampai di meja guru dan di lemari buku.
Selang beberapa menit, Daf menemukan jam itu di lemari buku.

Pak Guru…. Pak guru, ini jamnya ketemu. Teriak Daf mendekati saya sambil membawa jam tersebut.
Alhamdulillah, jam tangan pak guru ketemu. Wah Daf hebat, jawab saya.
Tidak lupa saya berikan 1 permen kepada Daf. Daf tersenyum dan semua siswa-siswi kupinta kembali duduk di tempatnya masing-masing.

Anak-anak semua, pak guru mau tanya. Ada yang tau tidak pelajaran kita tentang apa hari ini ?
Hampir semua siswa mengacungkan tangannya, kemudia menjawab.
Ada yang menjawab Belajar matematika pak,
Belajar bahasa Indonesia pak, dan salak satu siswa yaitu Adre menjawa ‘belajar tentang jam pak’
Ya benar, jawab saya.
Iya hari ini kita belajar tentang jam atau waktu.

Proses belajar pun kemudian berjalan dengan santai dan tenang, sesekali Adre tetap membuat ulah dengan mengganggu teman-temannya.

Kelas ini awalnya baik-baik saja. Suasana tanang masih terjaga ketika saya mulai masuk ke inti pembelajaran. Bertanya jawab dan menerangkan tentang waktu. Kali ini mata saya terfokus ke sudut kiri tempat duduknya Adre, ternyata Adre tidak ada ditempat duduknya. Dan ternyata Adre mengganggu Daf yang duduk di depan. Hanya karena senggolan Adre, ternjadi perkelahian antara Adre dan Daf.

Saya berlari mendekati mereka yang sedang berkelahi, berusaha melerai mereka, namun tangan Daf yang keras tetap berusaha memukul bagian punggung Adre. Sepertinya Daf sangat kesal dengan ulah Adre yang hampir tiap hari mengganggunya. Dengan tarikan tangan yang keras, Daf berhasil memukul Adre. Saya fikir Adre akan menangis, karena suara pukulan Daf yang begitu keras, tetapi Adre malah tersenyum.

Kedua tangan mereka kupegang dengan erat dan merasakan kekuatan amarah kedua anak tersebut sampai ikut tertarik karena berusaha untuk melepaskan diri dari tangan saya.

“Adre… Adre coba jelaskan sama Bapak, kenapa bisa berkelahi ?”
“Adre yang mengganggu saya Pak, merobek buku saya”, jawab Daf
Adre hanya menunduk, tidak menjawab. Tangan kanannya masih terasa tegang
“Adre memang tiap hari kelahi pak, tiap hari mengganggu kita pak”, kata salah seorang siswa yang juga geram dengan ulah Adre.
Saya mencoba menenangkan mereka, meminta mereka untuk bersalaman dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tadi.
Awalnya mereka tidak mau untuk saling memaafkan, namun aku tetap menasehati mereka dan akhirnya Adre pun menjulurkan tangan pertanda kalau dia mengaku salah dan meminta maaf kepada Daf. Akhirnya mereka bersalaman dan saling berpelukan dan tersenyum.
Melihat senyum mereka, saya menjadi sedikit tenang. Saya berharap tidak ada lagi kejadian serupa yang terjadi.
Kejadian seperti ini memang akan selalu kita temui sebagai seorang guru. Ini adalah tantangan bagi seorang guru, terlebih lagi saya, saya memang tidak punya pengalaman dalam hal mendidik, apalagi mendidik anak SD. Namun keberadaan saya di Sekolah Guru Indonesia membuat saya faham arti pentingnya mendidik. Dari pengalaman mengajar ini, saya tau bagaimana seorang guru mampu memanageman kelas dengan baik, mampu membangkitkan minat belajar siswa sehingga diharapkan pelajaran yang diberikan akan dapat diterima oleh siswa dengan baik. Menjadi guru itu adalah profesi yang akan mendekatkan kita kepada-Nya.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar