9

Siapa yang Perlu Gadget di Sekolah ? (+1)

Siti Mugi Rahayu August 18, 2013

Suatu hari dalam rapat guru, seorang guru mengeluhkan tentang kebiasaan anak-anak nonton film Korea di sekolah. Beberapa guru lain mengiyakan bahwa memang anak-anak kerap terlihat menonton film Korea jika tidak ada guru di kelas atau pada saat istirahat.

Lalu, sudah tertebaklah bahwa sebentar lagi akan disetujui larangan membawa laptop ke sekolah. OMG. Tidak mungkin buat saya. Untuk pembelajaran ekonomi, saya perlu laptop dan gadget mereka. Jikalau smartphone dianggap sangat beresiko, minimal saya memerlukan perijinan anak-anak tetap membawa laptop dengan alasan:
1. banyak materi pelajaran terbantu dengan kelengkapan mr. google
2. buku di perpustakaan tidak banyak dan anak-anak kadang kesulitan mengerjakan tugas
3. saya masih menggunakan blog sebagai media siswa menyimpan tugas-tugasnya
4. anak-anak kerap harus mempresentasikan tugas mereka dari laptopnya masing-masing jika belum mengirimkan email pada saya
5. untuk pelajaran akuntansi, saya butuh program excell untuk siswa
6. Sekolah belum memiliki fasilitas komputer berinternet yang memadai untuk seluruh siswa dalam kelas

Nah, berbekal alasan itulah akhirnya saya mengajukan keberatan. Hal lain yang juga penting buat saya adalah bahwa aktifitas “menonton film Korea” yang dianggap tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran diakibatkan beberapa hal yang bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Alasan yang sering diutarakan siswa adalah gurunya tidak ada atau guru tidak masuk dan tidak memberikan tugas. Kadang-kadang memang guru piket atau guru BK menghandle kekosongan ini tapi jika jumlahnya lebih dari dua atau guru piket mengajar atau guru BK ada tamu, lalu bagaimana ?

Tidak adanya kegiatan yang dilakukan guru-guru terkait penggunaan laptop dan gadget juga menjadi salah satu alasan mengapa dua benda tersebut akhirnya harus dieliminir keberadaannya. Menurut saya, laptop adalah hal yang sangat penting bagi siswa modern jaman sekarang. kalau mereka punya dan mau membawa mengapa tidak ? Toh ketika ada guru di kelas, mereka tidak membuka laptop untuk menonton yang tidak bermanfaat. Jika saja memang ada yang menonton hal-hal serupa, sebaiknya dilakukan peringatan secara persuasif terlebih dahulu. Kalaulah akan ditelusuri tentang hal apa saja yang mungkin ada dalam laptop mereka, itu akan sangat menjadikan laptop dan hp menjadi barang yang sama. Dalam laptoppun anak-anak bisa menyimpan banyak hal termasuk yang terlarang. Tinggal bagaimana menyadarkan mereka tentang manfaat sesungguhnya untuk pembelajaran dan sedikit masukan sana sini.

Jika laptop lalu diperbolehkan masuk kelas, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat keamanan. Pernah ada satu orang siswa yang laptopnya pecah karena tasnya katanya “diduduki” teman sekelasnya. Siswa sekolah lainpun pernah juga kehilangan laptop. Beberapa gadget pernah juga dinyatakan hilang karena lupa menyimpan dan seterusnya. Sekolah atau guru secara langsung memang sebaiknya memberitahukan bagaimana memperlakukan laptop dengan baik dan benar, termasuk tips menyimpan dan merawatnya. Sekolah perlu juga lebih mempererat aturan kehilangan dan sanksi bangi siswa lain yang “meminjam paksa”.

Syukur alhamdulillah, akhirnya untuk pelajaran saya anak-anak tetap diperbolehkan membawa laptop. Sebenarnya dengan smartphonepun bukan lagi sesuatu yang dilarang. Namun, pelanggaran penggunaan gadget berupa handphone ini agak lebih beresiko karena bentuknya yang relatif kecil, sehingga pengawasannya masih agak sulit untuk saya. Kadang-kadang anak-anak masih suka curi-curi waktu untuk whatsapp-an atau balas SMS. Hanya kelas 12 yang saya perbolehkan mengunduh informasi menggunakan gadget mereka, apalagi pada saat pencarian jawaban latihan UN. Guggle-an boleh…

Comments (9)

  1. barangkali yang demikian itu terjadi di banyak sekolah lain, Bu. Termasuk juga di sekolah saya. Dan biasanya, mereka yang alergi dengan laptop karena tidak akrab dengan laptop termasuk untuk pembelajaran. barangkali memang, aturan main yang perlu ditegakkan. Salam!

  2. Mari kita buat analogi, tangan siswa kita ibaratkan sebagai gadget. Suatu ketika terjadi pencurian, atau perkelahian, atau hal yang tak patut dilakukan seorang siswa yg kesemuanya menggunakan tangan. Apakah untuk menghindari tindakan yg tidak patut itu tangan siswa kita diminta untuk tidak dibawah ke sekolah?

  3. Terimakasih ibu Siti Mugi Rahayu atas sharingnya. Menarik sekali bu jika dalam proses pembelajaran dapat memanfaatkan IT, termasuk hal ini penggunaan gadget. Semua membutuhkan gadget bu untuk mendukung proses pembelajaran. Membuat informasi, ilmu pengetahuan mudah diakses oleh peserta didik. Peserta didik juga mudah untuk menemukan sendiri suatu ilmu pengetahuan melalui google terkait pembelajaran (discovery) dan juga sebagai wadah interaksi (sosial media untuk pendidikan). Melalui gadget, kita dapat melakukan tes uji kompetensi secara online.

    Saya sangat setuju jika gadget digunakan dalam proses pembelajaran dengan syarat memang gadget itu digunakan dan dibutuhkan untuk memperlancar proses pemeblajaran serta mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran (Gadget ada/ disebutkan di dalam RPP sebagai alat pembelajaran).

    Terakhir yang terpenting juga adalah penggunaa gadget itu harus diawasi (pengawasan) dan prosedurnya harus jelas.

    Salam hormat bu..,

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar