3

Si Ambisius (0)

AfanZulkarnain March 2, 2021

Namanya Azim. Anak yang baru aku kenal selama kurang lebih sembilan bulanan. Aku wali kelasnya. Dia adalah anak pertama yang aku kenal dari tiga puluh tiga siswa dalam kelasku. Pandemi memang menyulitkanku untuk bertemu dengan mereka. Kami hanya berkomunikasi lewat WA. Tapi tidak dengan Azim. Dia anaknya sangat ekstrovert. Bila ada keperluan apapun ia menelpon , bahkan melakukan video call. Aku juga berkali-kali sempat bertemu dengannya.

Azim tipikal anak yang ambisius. Ia pernah mengatakan dengan semangat berapi-api ingin sekali mengikuti sebuah turnamen robotik di negeri matahari terbit, Jepang. Angan-angan itu sangat terpatri dalam benaknya. Ia juga pernah mengungkapkan segala macam target perlombaan yang harus ia ikuti. Setiap kali mau mengikuti lomba, ia selalu mengirim pesan kepadaku. Meminta do’a.

Pernah suatu ketika, ia menjalani karantina di Blitar untuk persiapan lomba robotik. Pak Bagus , pembina robotik sempat memintaku untuk menjadi pengarah gaya dan melatih mereka berbicara di depan kamera. Lomba robotik yang diadakan secara online membuat anak-anak harus terbiasa berbicara di depan kamera. Aku dimintai tolong untuk membimbing mereka.

Disitulah aku intens berkomunikasi dengan Azim dan rekan setimnya, Afnan. Afnan juga salah satu siswa di kelasku. Berbeda dengan Azim, Afnan sangatlah pendiam. Dia tipikal anak yang tidak banyak bicara. Namun, ia sangat bersemangat mempelajari hal-hal baru.

Setelah mengajari mereka, aku kembali ke Jombang karena ada suatu keperluan. Di atas bus yang membawaku pulang, Azim tiba-tiba mengirimkan suatu pesan suara. Aku mendengarkannya. Ia terdengar sangat sedih. Ia berbicara dengan sesengukan. Aku mendengarkannya dengan headset, dia bercerita tentang robotnya yang mengalami masalah. Rusak parah. Ada beberapa sparepart yang harus diganti. Namun sparepart itu sangatlah langka. Sementara batas akhir lomba semakin dekat. Ia pesimis dapat berhasil di kompetisi itu.

Lewat chat, aku memberikannya motivasi. Banyak nasihat yang aku berikan kepadanya. Aku berusaha membuatnya sedikit kuat dengan hal yang ia hadapi.

Saat pengumuman, tim Azim dan Afnan alami kekalahan. Mereka gagal melaju babak semi final. Kembali aku memberi semangat kepada mereka. Aku mencoba menjadi wali kelas yang selalu memberi dukungan atas segala kegiatan positif mereka.

Selang beberapa waktu, Azim mengirimiku sebuah flyer tentang lomba robotik. Seperti biasa, dengan berapi-api ia menceritakan keinginannya untuk mengikuti lomba tersebut. Ia bilang ingin membayar kekalahannya di kompetisi sebelumnya. Tetap, aku mencoba memberi dukungan kepadanya.

Azim tampak belajar dari kekalahan. Ia mempersiapkan secara matang. Aku tahu hal itu dari segala macam story di Whatsappnya. Ia seringkali update kegiatan robotiknya di satus WA. Di kompetisi ini, ia kembali satu tim dengan Afnan. Yang aku ingat, saat mau membuat video tentang robot yang akan mereka lombakan, Azim menghubungiku lewat video call. Kurang lebih hampir satu jam, ia meminta pendapatku atas caranya berbicara di depan kamera. Aku sedikit memberi masukan tentang artikulasi , intonasi dan ekspresi wajahnya.

Selasa, 2 Maret 2021. Anak yang amat berambisi itu membuktikan ucapannya bahwa ia ingin membayar kekalahan di kompetisi sebelumnya. Azim dan Afnan berhasil menjuarai kompetisi robotik tersebut. Bahkan mereka menang dalam lima kategori. Ekspresi kebahagiaan ia luapkan lewat segala macam story di Whatsappnya. Salut untuk kemenangan mereka. Aku juga sangat salut dengan pengorbanan pembinanya, Pak Bagus dalam membimbing mereka.

Aku belajar banyak dari kepribadian Azim. Ambisius dan tidak mudah menyerah. Ia memasang sebuah target dan berusaha semaksimal mungkin dalam menggapainya. Meskipun sempat teramat bersedih dengan kegagalannya, ia dapat bangkit dan dapat meraih kemenangan di kompetisi lainnya.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar