5

Setitik cahaya di tengah gulita (+5)

ucik ilaheti May 20, 2015

Sejak memutuskan menjadi tenaga pengajar di sebuah lokalisasi_sekarang sudah bubarkan_di Surabaya.Aku merasa menemukan duniaku. Dunia yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya.Diawal tahun 1999,aku menjadi guru taman kanak-kanak. Saat duduk di bangku belakang,melihat seorang teman mengajar. Aku memandang sekitarku. Raut wajah mungil,jauh dari kesan ceria itu mengusikku. Ada hal yang akhirnya aku sadari,bahwa taman kanak-kanak itu berlokasi persis di lingkungan yang memprihatinkan. Tidak ada yang terlintas di kepalaku,saat mendengar cerita tentang perlawanan penduduk sekitar dengan keberadaan taman kanak-kanak itu,kecuali membayangkan bagaimana dengan mereka. Anak-anak yang polos tanpa dosa.
Pada akhirnya,betul-betul aku mengajar disana. Pagi itu hari pertamaku masuk kelas. Taman kanak-kanak di lokalisasi itu mendadak riuh.Keceriaan mereka pecah saat aku memulai kegiatan belajar dengan bercakap-cakap. Tidak ada pengalaman yang menyenangkan bagiku, kecuali melihat anak-anak itu tersenyum dan tertawa saat aku mulai menyapanya. Anak-anak penuh kepolosan dengan latar belakang yang bermacam-macam pula. Anak-anak yang tadinya pendiam,tenang dengan sejuta permasalahan keluarga dan lingkungannya. Yang seharusnya mendapat tempat yang baik di lokasi yang sehat pula.
Sejak hari itu dan seterusnya,mereka begitu ceria dan serasa tanpa beban. Mereka menjadi bersemangat ke sekolah. Dengan membuatnya senyum ceria,hal paling menyenangkan sepanjang bersamanya. Di saat mereka kehilangan kebebasan bermain di waktu tertentu,aku berusaha hadir sebagai teman yang siap mengajaknya belajar dan bermain.
Banyak hal yang seharusnya jauh dari mereka. Hilir mudik pemandangan yang tidak patut disaksikan oleh anak-anak seusia mereka. Bermacam-macam permasalahan yang aku jumpai. Dari yang pendiam hingga tiba-tiba menyendiri,dari yang sikapnya biasa hingga yang luar biasa. Hingga terlintas,adakah kesalahan dari lingkungan?. Miris setelah menyadari keadaan ini. ketika suatu hari,melihat pemandangan yang seharusnya tidak di ketahui oleh anak-anak ini.
Seorang anak yang pendiam dan menyendiri. Yang takut mengeluarkan suaranya,menyita perhatianku. Setelah mengadakan kunjungan ke rumahnya,aku tahu apa yang seharusnya di lakukan. Untuk mengurangi kebosanannya,aku selalu mengganti metode pembelajaranku di kelas. Dari yang hanya menulis,berhitung,menggambar begitu saja. Kini membubuhinya dengan menulis sambil bernyanyi,berhitung sambil bernyayi dan menggambar sambil bernyanyi. Solusi demi solusi. Mencari cara supaya anak-anak di gang itu mau bersekolah tanpa beban.
Aku menyadari,tidak ada yang paling menyenangkan,menggembirakan dan berkesan selama mengajar,kecuali melihat dan membuat mereka tersenyum dan tertawa gembira.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

 

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar