2

Setelah Menang Lomba, Waspada! (0)

Thurneysen Simanjuntak March 27, 2021

Halo sahabat pembaca, sore-sore begini nikmatnya ngapain iya? Ngopi sambil berceritakah? Tepat seperti yang saya lakukan saat ini. Sedang ditemani segelas kopi hangat dan siap bercerita kepada sahabat pembaca.

Mau tahu apa yang mau saya ceritakan sore ini? Ini dia.

Beberapa waktu lalu, saya sangat bahagia menerima sebuah email dari penyelenggara lomba. Hati pun berbunga-bunga. Pasalnya, saya dinyatakan menjadi salah seorang pemenang lomba yang diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah bertepatan peringatan Hari Air Dunia (22 Maret 2021) lalu. Bersyukur sekali, dari ribuan peserta saya ternyata menjadi salah seorang pemenang lomba untuk kategori menulis.

Melalui email tersebut, penyelenggara pun sekaligus meminta data diri pemenang lomba untuk segera dikirimkan, yakni untuk keperluan pemrosesan hadiah. Saya pun mengirimkan data yang dibutuhkan tersebut. Sampai titik ini sesungguhnya bagi saya tidak ada masalah.

Dua hari kemudian, saya pun menerima sebuah email kembali, yang mengatasnamakan penyelenggara lomba yang sama. Isinya, informasi yang memberitahukan saya menjadi salah seorang pemenang lomba menulis. Dalam email ini, penyelenggara juga sekaligus mereka meminta pemenang lomba segera mengirimkan data diri untuk memproses hadiah.

Awalnya, tidak ada keraguan, saya masih berpikir positif. Barangkali data yang saya kirim kemarin ada hal-hal yang perlu ditambahi, mengingat data email terakhir lebih banyak dari data email yang pertama. Tetapi ketika membaca bagian paling akhir, di sini saya baru mulai curiga. Kecurigaan saya adalah isian data diri yang meminta nama gadis ibu kandung.

Dalam pikiran saya muncul pertanyaan, apa hubungan ibu kandung dengan data untuk memproses hadiah? Bukankah nama ibu kandung sering digunakan untuk memastikan bahwa kita adalah pemilik rekening di sebuah bank?

Saya pun memutuskan untuk tidak merespon email yang kedua. Saya menganggap kalau email kedua ini adalah penipuan. Dugaan yang memperkuat saya adalah, bahwa emailnya adalah email gratisan. Sementara email yang pertama, adalah email resmi penyelenggara.

Dari berkali-kali memenangkan lomba menulis, saya baru kali ini mendapat email yang mencurigakan. Bagi saya pribadi, ini tentu menjadi pengingat agar tetap waspada ketika ada yang menghubungi saat memenangkan lomba. Perlu tetap menyelidiki apakah yang menghubungi kita adalah benar-benar penyelenggara yang sebenarnya.

Ketika kita sedang berbahagia menikmati kemenangan lomba, biasanya saat itulah seseorang terkadang lengah. Bukankah banyak orang yang tertipu ketika dinyatakan memenangkan memenangkan undian? Mereka terpedaya ditengah berita kemenangan palsu. Disaat itu harusnya tetap waspada. Tidak mudah percaya. Kalau dalam istilah penelitian kta harus skeptis.

Semoga tulisan dan pengalaman singkat ini bermanfaat bagi semua pembaca, sehingga ketika mendapat informasi dari email tidak langsung mudah percaya. Perlu memastikan dengan baik dan benar.

Comments (2)

  1. Terimakasih. Tulisan yang menarik. Mengingatkan kita bagaimana menyikapi hal2 dengan tetap mengedepankan pikiran. Tidak grusa-grusu merespon pesan2 baru. Menyelidinya dan berhati-hati. Kemarin malah fb teman dikloning buat tipu2 minta bantuan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar