6

Sesal Merundung Akibat Emosi Tak Terbendung (0)

AfanZulkarnain January 5, 2021

Tulisan Hari kelima Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Keringatku sudah mengucur deras di wajah. Bajuku sudah mulai basah. Nafasku pun terengah-engah. Itu artinya aku sedang emosi tingkat dewa. Ya, aku sedang marah.

Ini adalah kali pertama aku marah sejak kali pertama aku mengajar mereka. Para siswi berjilbab itu tampak ketakutan. Mungkin karena ini adalah kali pertama mereka melihat aku begitu emosional.

Ah…aku jadi ingat ucapan seorang teman, “kamu kalau marah menyeramkan, van.”

Aku melihat wajah mereka penuh penyesalan. Beberapa menghampiriku dan bersimpuh di depanku. Air mata tampak mengaliri pipi dan jatuh ke lantai berwarna putih.

“Pak, kami minta maaf,” kata mereka sambil sesengukan.

Mendengar kalimat itu, amarahku sedikit reda. Ini yang aku suka dari siswi di sini. Meminta maaf dan mengakui kesalahan. Tanpa membuat banyak alasan.

“Saya sudah memaafkan, tapi tetap laptop –laptop ini saya sita.” Aku menjawab dengan tegas.

Mereka mengangguk dan langsung menunduk. Tak satupun berani melihat wajahku. Aku kemudian bergegas keluar kelas sambil membawa beberapa laptop yang aku sita dari mereka.

Di lorong kelas, aku terbayang kejadian yang membuat aku emosi tadi.

Aku mengajar seperti biasa. Menerangkan rumus – rumus dan membahas penyelesaian beberapa soal matematika. Papan tulis putih pun sudah penuh dengan angka-angka. Setelah memberikan kesempatan kepada mereka bertanya, aku meminta mereka mencatat apa-apa yang aku tulis di papan.

Tiga menit berselang. Mereka mencatat sembari bersenda gurau. Awalnya aku membiarkan. Pikirku, agar suasana kelas tidak tegang. Namun candaan mereka semakin berlebihan. Tertawa keras. Terlalu lepas. Kelas menjadi riuh.

Beberapa asyik mengutak-atik laptop. Entah mereka melihat apa. Tampak sesekali mereka tersenyum seakan menonton sesuatu yang lucu dari layar komputer portable itu.

Mereka seakan melupakan satu hal. Saya. Guru mereka masih di depan kelas.

Aku mencoba memberi kode dengan mendekatkan jari telunjuk kanan ke mulutku sembari mendesis, “Sssttt…”

Gagal. Suara desisanku kalah kencang dengan keriuhan mereka.

“Jangan ramai, mbak.” pintaku. Tapi tak diindahkan.

“Mbak, pelankan suaranya.”

Kembali, perkataanku diacuhkan. Benih-benih emosi pun mulai bermunculan. Aku mencoba menahan amarah. Namun tak bisa.

Kesabaranku sudah berada di titik kulminasi. Aku seperti tak dihargai. Reflek aku kepalkan tangan dan kuhempaskan ke papan tulis.

“Brakkk!!!!”

Seketika kelas yang awalnya bising berubah menjadi hening. Mereka semua melihat ke arahku dengan ekspresi wajah terkejut. Kalimat-kalimat bernada keras pun terlontar dari mulutku. Tajam.

“Kalian lupa kalau saya masih ada di depan. Kenapa kalian bersenda gurau dengan sangat berlebihan seperti tadi?” ucapku sambil mengelilingi kelas.

Saat itulah aku mendapati beberapa siswa melihat laman media sosial lewat laptop. Emosiku kian tersulut. Bergegas aku mengambil laptop-laptop itu, “Saya sita! Kalian bukannya fokus belajar, malah asyik di media sosial!”

Tampak mereka begitu keberatan. Tapi aku tak peduli.

Efek jera. Itu yang ingin aku berikan kepada mereka. Setidaknya dengan ini mereka belajar untuk menggunakan laptop secara tepat. Bermain sosial media boleh, tapi tahu waktu. Pun demikian dengan bercanda. Boleh. Asal tak berlebihan hingga membuat kegaduhan.

Begitulah pengalamanku marah untuk kali pertama di sekolah ini.

Namun setelah itu, munculah penyesalan dalam diri. Harusnya aku tak perlu emosi seperti tadi. Ada beberapa cara yang lebih bijak selain dengan amarah yang meledak-ledak.

Introspeksi.

Mungkin kegaduhan itu juga disebabkan aku yang tak bisa mengkondisikan kelas. Mungkin juga metode pembelajaran yang aku gunakan menurut mereka sangat membosankan.  Aku hanya menerangkan, meminta mereka mencatat dan berlatih soal. Itu saja. Tak ada variasi. Atau aku belum menjadi guru yang baik di mata mereka. Atau saja… ah terlalu banyak spekulasi yang bermunculan secara liar di kepala. Hal itu menjadi tanda tanya yang membuat aku tak bisa tidur semalaman. Hingga menjelang fajar.

 Penyesalanku kian menjadi setelah melihat tembok kamar. Di sana tertempel kertas folio putih penuh dengan pesan para siswi tersebut. Kertas itu mereka beri saat aku berhari jadi. November lalu, saat mengajar, tiba-tiba mereka memberiku kejutan. Kue tart dan kertas pesan menjadi hadiah special.

“Semoga yang disemogakan cepat tersemogakan”

“semoga tetap dalam lindungan Allah”

“Semoga yang diharapkan dapat terkabulkan”

Aku kembali membaca pesan-pesan itu. Sesekali aku mengamini karena pesan tersebut penuh dengan do’a dan harapan. Sesekali aku tersenyum kecil karena pesannya begitu menggelitik.

 “Sakinah, mawaddah, warahmah, ya Pak..”

Lucu saja mendapat pesan seperti itu dengan statusku yang belum menikah. Aku kembali tersenyum saat membaca pesan sarat dengan kegombalan.

“Tanpamu bagaikan cos 900, yaitu 0” atau

“Bapak + Kita bagai Sin 300 + Cos 600, yaitu 1”

Kemudian mataku tertuju pada dua pesan.

“Berjuanglah untuk menjadi teladan”

“Sabar ngadepin kelas ini”

Dua pesan tersebut seakan menamparku. Aku belum bisa sabar. Buktinya aku tak bisa mengendalikan emosi. Harusnya aku bisa menggunakan cara yang lebih halus untuk mengingatkan mereka. Aku juga belum menjadi teladan. Menyampaikan saran dengan nada kasar bukanlah sesuatu yang patut diteladani.

Terbayang kembali wajah-wajah mereka. Teringat kembali kejadian-kejadian lucu saat mengajar mereka. Dan terbayang lagi kejadian suram siang tadi. Ah..memang betul kata penulis idolaku, bahwa emosi hanya meninggalkan penyesalan dalam diri.

Saat itulah aku berjanji untuk tidak marah lagi. Ada cara lain mendidik dan memberi pelajaran kepada mereka tanpa emosi.

Aku berjanji untuk mengemas pembelajaran matematika menjadi lebih menarik sehingga mereka happy.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar