5

Seru Riuhnya Dunia Pendidik “Be Inspiring Teacher” (+5)

Sigit Kurniawan May 17, 2015

Screenshot_2014-07-13-09-19-11

Dikala fajar menyingsing, gulita dini masih meneyelimuti hari, berpasang-pasang mata masih terpejam, sebagian orang harus beranjak dari ranjang memulai aktivitas pagi harinya. Pagi-pagi benar air wudhu sudah megalir membasahi anggota tubuh mensucikan diri untuk menunaikan sembayang Sholat Subuh dirangkai aktivitas bersiap lainnya. Demikian yang berlaku setiap paginya bagi siswa dan guru salah satu sekolah dasar (SD) swasta berbasis agama yang terbilang favorit di Kota Magelang.

SD Muhammadiyah 1 Alternatif yang lebih dikenal dengan sebutan SD Mutual yang memang berbeda dengan SD kebanyakan baik kebiasaan, kultur, dan trade mark dalam berprestasi. Menjadi salah satu SD yang bulan lalu mendapat Anugerah Citra sebagai the best inspiring school of the year yang menjadi suntikan semangat bagi kami  untuk lebih maju lagi. Disanalah saya bernaung selama empat tahun terakhir sebagai barisan pendidik bersama dengan kepala sekolah, guru, dan karyawan inspiratif lainnya.

Pukul 06.30 WIB aktivitas sekolah sudah mulai berlangsung bahkan sebelum itu, barisan guru berjejer rapi di depan gerbang sekolah menyambut siswa dengan senyum dan salam semangat. Aktivitas pagi dimulai dengan kegiatan ngaji morning serta dhuha mengawali kegiatan di samping mata pelajaran yang telah tertulis. SD Mutual yang terletak salah satu sisi kaki Gunung Tidar ini sudah riuh aktivitasnya sedari pagi sampai purna pukul 14.00 WIB bahkan jika ada jadwal ekskul dan les berlangsung bisa sampai pukul 15.30 WIB kegiatan berakhir. Sekolah rasa-rasanya bagai rumah kedua bagi siswa dan guru membangun ilmu, merangkai cerita, dan menghabiskan separuh hari.

Pengalaman terjun menyelami dunia pendidik pun saya mulai di SD ini. Menjadi pendidik memang bukan tugas yang mudah namun penuh tantangan. Bertugas menemani belajar siswa kelas 1 SD sepanjang hari merupakan bagian pertama pengalaman paling wow untuk saya. Setiap tahun sejumlah 144 siswa baru masuk ke SD ini dengan karakter yang unik, berbeda, dan fresh. Mengenal nama dan karakter mereka merupakan tugas pertama yang harus dilakukan. Tugas kedua yang tak kalah berat adalah mengarahkan anak-anak tersebut untuk menyesuaikan diri dengan aturan dan pelajaran di sekolah. Sesuatu yang tentu benar-benar baru bagi mereka di usia masa bermain yang sangat kental. Dua tugas di atas ditambah tugas keseharian lainnya merupakan rangkaian keseruan, tantangan, sekaligus ujian. Mengapa demikian, simak paragraf-paragraf berikutnya ya readers.

2014-08-29 05.49.54

Kali ini saya kan bercerita tentang kelas kami 1 Abata, nama samaran dari kelas yang kebetulan saya pegang tahun ini. Sejak pertama kali saya bertemu anak-anak di kelas ini rasa-rasanya ada hal yang agak ganjil. Ganjil melihat proporsi jumlah laki-laki dan perempuan yang berbeda dengan lembar data siswa, ganjil karena awalnya hanya ada 35 siswa di kelas, dan ganjil karena ada seorang siswa yang menyusul masuk di kelas saya sebagai penggenap anggota kelas kami sehingga berjumlah 36 siswa.

Readers, keganjilan pertama akan saya urai lebih lanjut yakni proporsi siswa dari yang awalnya hampir 50 : 50 antara laki-laki di perempuan, eehhh tak tahunya ada perubahan drastis. Hampir sama sih sebenarnya dengan tahun lalu hanya serba terbalik. Siswa putra di kelas kami ada 21 anak, sedangkan siswa perempuan ada 15 siswa. “Wowww…” batin saya, sebuah tantangan atau pertanda buruk ini. “Mmmm” Sambil menghela nafas, saya pastikan untuk berpikir positif tentang keadaan yang ada dan akan terjadi di kelas kami. Pikiran positif senantiasa ingin saya bangun khususnya pagi hari sebelum memasuki ruang kelas namun betapa godaan pikiran sebaliknya tak jarang melanda bahkan membuat dada ini kadang sesak dibuatnya. Seiring perjalanan waktu saya mulai bisa mengembangkan sikap positif, kesabaran yang lebih, dan merasa bisa enjoy. Kesabaran saya memang masih kembang kempis kadang bisa tebal dan juga sebaliknya tipisnya minta ampun, maka jangan heran kadang-kadang kalau sabar sudah tipis bom kemarahan akan meletus di tengah kelas (hehehe, terdengar mengerikan tapi para siswa masih bisa sentum-senyum selepas itu tuh…). intinya sih bukan marahnya, namun moment seperti itu bisa diisi dengan teguran dan wejangan nasehat. Momen seperti ini sepertinya salah satu moment yang paling efektif dimana mereka konsentrasi untuk mendengarkan, walau pun saya pribadi mengakui hal itu kurang baik secara prinsip namun aturan di usia ini memang harus sudah mulai menjadi pondasi.

0

Readers, kali ini saya akan bercerita tentang salah satu anak yang special menurut saya. Dia adalah bungsu dari tiga bersaudara yang dibesarkan di lingkungan semi militer sepertinya. Background taruna yang kental dari orang tua dan kakak-kakaknya sepertinya menjadi warna tersendiri untuk anak ini. Suka bersuara lantang dan keras itu kebiasaannya serta paling semnagat kalau disuruh di depan. Melihat itu saya putuskan di awal semester dia dijadikan kandidat ketua kelas dan pada akhirnya vote menunjukkan dia yang berhak menduduki ketua kelas kami. Semangat dan polah tingkahnya yang energik adalah salah satu poin utamanya. Sebut saja namanya Baim, anak dengan perawakan kurus tinggi dengan rambut hitam lebat dan kulit kemuning itualah ciri fisiknya.

Sehari-hari, Baim sering membawa dan memakai aksesoris entah berbau taruna atau lainnya seperti peci, pin, topi, hand band, peluit dan aneka macam lainnnya. Hobinya menggambar sejak TK dan entah sudah berapa pack krayon yang habis untuk menekuni kegemaran ini, namun tutur ayahnya kemampuan mewarnainya masih belum melesat dan memang benar. Dalam pembelajaran di kelas ia tampak aktif seperti kebanyakan anak di kelas kami, namun terkadang keaktifan ini membaut kelas tampak ramai dan riuh.

Di kelas kami, foto-foto anak dengan tanggal lahir dan cita-citanya terpajang di dinding kelas. tak terkecuali foto Baim yang ketika besar ingin menjadi pelukis. Beberapa kata motivasi, administrasi kelas, dan karya-karya siswa ditempel, namun sebagian dari tempelan itu jarang sekali yang awet untuk dapat ditempel terlebih bila mudah dijangkau anak. Satu yang special di kelas dan tidak tergoyahkan meski mudah dijangkau anak adalah pohon prestasi.

Suatu hari, Baim dengan memakai peci yang sedang saya periksa dan tandatanani buku kegiatannya menujukkan perilaku yang sudah baik dengan mengerjakan semua kewajibannya baik sholat, mengaji maupu belajar. Saat itu bintang lembaran daun dari kertas saya berikan padanya untuk diberi nama dan ditempel, betapa girangnya ida dan beberapa anak lain yang sudah berperilaku baik maupun mendapat nilai bagus. “Wahhh pohonya semakin lebat dan berwarna-warni ya hingga enak dipandang” batin saya dalam hati. Satu aturan sudah mulai berkembang.

“Masuk kelas ucap salam” dan senandung lagu “… Hormati gurumu, sayangi teman” mulai berlaku untuk mereka. Setiap kali anak-anak memasukki kelas wajib mengucapkan salam. “Eits… Baim belum mengucapkan salam, balik kanan diulangi!”. Dengan segera ia berbalik dan mengulangi dari depan pintu mengucapkan salam denga lantang “Assalamualaikum….” Malah ada beberapa anak yang mengucapkan dengan lantang dan komplit “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” sontak yang berada di dalam kelas semua menjawab.

Keceriaan siswa kelas 1 memang sedikit berbeda dengan kelas-kelas di atasnya, ada-ada saja yang bisa membuat mereka tersenyum bahkan terbahak-bahak. Sendung lagu di paragraf sebelumnya sering kali saya pakai untuk menasehati anak-anak untuk rukun saat belajar maupun bermain saat istirahat dengan temannya. Baim dan Ibra sepasang teman di kelas kami yang dalam sekejap bisa sangat akrab namun dalam waktu singkat bisa ribut besar. “Huhuhuhu wawwaa ….. Baim jahatttt” tangisan itu pecah di tengah kelas jelang istirahat hampir berakhir. Suara Ibra terdengar jelas di telinga saya sesaat sebelum memasuki kelas. Ibra memang tipikal anak yang mudah tersinggung dan mudah sekali terpancing amarahnya meski untuk hal-hal kecil. Di awal semester si Ibra juga terbilang jahil dan suka menganggu teman sehingga sering menimbulkan masalah, uraian ceritanya kapan-kapan saya bagi lagi ya.

“Assalamualaikum…” ucap saya dan beberapa anak memasuki kelas. “Ada apa ini, kok ada yang ribut-ribut dan nangis?”. Saya mulai berjalan mendekat ke sepasang mata yang sudah bercucuran air mata. “Itu pak, Baim mengejek aku, dia itu……..” obrolan selanjutnya saya potong dilanjutkan bertanya pada Baim. “Itu pak, tadi wong hanya main di bawah kejar-kejaran”. “Tapi, Baim itu kemarin pas bulu tangkis dia ……”. Selalu saja jika ada masalah diantara mereka berdua berputar di situ-situ saja yang satu ulahnya energik dan satunya lagi mudah tersinggung. “Bagai tokoh katun Tom and Jerry saja mereka berdua….”. penyelesain dari kejadian di atas ya saya berusaha menanyakan ke yang bersangkutan serta beberapa teman yang melihat, apabila terbukti maupu tidak ya jalan alternatif yang paling utama adalah berdamai dan bersalaman. “Bilang maaf, dan janji tidak mengulangi” itu kata standar yang harus terucap saat berbaikan dengan teman. Apabila benang merah masalah sudah terlihat jelas ya saya beri penengah dan nasihat maupun teguran bagi yang salah. Berjalannya waktu toh hubungan mereka membaik dan mereka mulai belajar tentang arti persahabatan.

Readers, sangat simpel mungkin cerita saya dan untuk menutup artikel ini saya ingin menggarisbawahi beberap hal. Pertama, figur dan ucapan guru itu sebagai teladang itu rupa-rupanya cukup ampuh dalam memengaruhi sikap anak. Kedua, anak-anak itu makhluk yang sedang berkembang dan kehebatan mereka bisa muncul dalam waktu yang tak dinyana. Ketiga, berilah kesempatan anak-anak untuk belajar dari hal-hal yang dekat darinya meski dari kesalahannya sendiri. Terakhir, pembiasaan dan aturan itu penting dalam membuat mereka terbiasa dan menjadi bagian perilaku dari dirinya. Baik, semoga sedikit keseruan menjadi seorang guru yang saya artikan bukan hanya hal yang menyenangkan bersama dengan murid namun merupakan rangkaian cerita komplit dengan tantangan, keterbatasan, kejengkelan, sepecial moment, dan apapun yang berlangsung ketika menghabiskan hari dengan mereka. Love you all, kelas 1 Abata selamat meneruskan perjuanganmu di kelas berikutnya sesaat lagi. Sukses selalu bersamamu. Amien.

2014-08-29 12.52.12

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

 

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar