6

Sertifikasi: Mengangkat harkat guru? (+3)

Botaksakti August 14, 2014

Belum lama, Ahok sang Wagub DKI mengeluarkan pernyataan yang cukup menyengat.

“Tiap hari, guru kerjaannya fotokopi sertifikat terus. Mereka mana fokus mengajar, kerjanya hanya memikirkan sertifikasi saja,” kata Basuki, di Balaikota Jakarta, Rabu (13/8/2014 http://megapolitan.kompas.com/read/2014/08/13/20363611/Ahok.Tiap.Hari.Kerjaan.Guru.Hanya.Fotokopi.Sertifikat.)

 

Mungkin benar, meski agak hiperbolis, ungkapan Ahok tersebut. Di lapangan, sedikit banyak itu memang terjadi. Begiotu sering yang namanya ‘pemberkasan’ harus diikuti oleh guru. Mereka harus menyiapkan berkas-berkas yang kadang tidak jelas ujungnya dikemanakan. Bayangkan, kalau satu map berisi 6 lembar berkas, salah satunya foto kopi sertifikat kali sekian ribu guru, berapa kilogram jadinya? Hehehe….tapi apa ya mungkin orang dinas mencari tambahan dana dengan cara itu?

Belum lagi, selain berkas-berkas itu ada saja embel-embelnya dengan kalimat memelas yang intinya agar para guru mengerti bahwa orang-orang dinas itu juga bekerja keras demi cairnya tunjangan sertifikasi guru. Maka…….tentu rekan-rekan sudah tahu sendiri lanjutannya. Dan guru, mau tidak mau harus menuruti semua itu karena kalau tidak maka tidak akan cair tunjangannya.

Di awal, program sertifikasi ini barangkali memang ditujukan untuk mengangkat harkat guru dengan naiknya kompetensi dan penghasilan. Nyatanya, guru malah diposisikan sedemikian rupa menjadi seperti ‘peminta-minta’. Lari sana-lari sini demi cairnya tunjangan. Belum lagi ada pula petugas dinas yang tugasnya melayani guru malah memaki-maki tidak karuan. Sungguh, sedih saya menyaksikan yang model begini.

Maka saya setuju, hapus saja itu. Toh nyatanya, masih ada guru yang kompetensinya tidak juga beranjak lebih baik meski sudah bersertifikat. Di sebuah sekolah favorit dekat rumah saya di daerah Tangerang, sering kejadian satu kelas tidak ada guru yang masuk dari pagi sampai pulang. Bahkan pernah, anak-anak itu pulang sendiri tanpa kehadiran guru.

Bahwa harkat guru perlu ditingkatkan, saya sangat setuju. Akan tetapi, hendaknya dilakukan dengan penuh kehormatan dan selektif. Tunjangan profesi yang memang sudah menjadi hak guru bila memenuhi syarat tidak usah lagi dipersulit. Tentu, ini harus diimbangi dengan kesungguhan dalam menentukan guru yang mendapat tunjangan dan yang tidak. Bagaimana?

 

Comments (6)

  1. Penting sekali pengawasan dan untuk sekolah menengah konon katanya diawasi melalui pemberkasan digital via Dapodikmen, sementara guru-guru SD melalui dapodik. Dan semakin hari laman interaksi aplikasi tersebut juga semakin membuat pening rekan-rekan operator.
    Jadi, mudah-mudahan sertifikasi berubah nama dan tetap ada tunjangan perbaikan untuk meningkatkan penghasilan guru 😀

  2. kayak nya yang lebih rajin guru honorer ya pak Ahok,,,,,, Tunjangan guru honorer nya jangan kecil-kecil donk pak, biar guru honorernya lebih bersemangat lagi….. Temen-temen honorer mengeluhkan tunjangan fungsional yang dibatasi… tanpa alasan yang tepat. hahaha 🙂

  3. Wah yang beli mobil avanza atau sejenisnya itu guru yang tak peduli pendidikan pak sebaiknya dari hasil untuk anak didik juga ,kalau dihapus dak apa- apa yang penting guru honorernya di tes ambil yang berkwalitas dibuat pegawai pemkab dan digaji dari sertifikasi juga baik,banyak dijumpai di sd ada yang baru lulus SMA Sukwan hanya untuk bisa masuk UT . nah memang sembrawut entah kita yang harus tetep bertahan demi generasi Bangsa Kita Terimakasih .
    MERDEKA !

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar