8

Semua adalah Pendidik (+5)

Andi Ardianto May 8, 2015

Semua adalah Pendidik

Masa-masa kelas bawah, kelas 1-3, adalah masa dimana para siswa lebih banyak mencontoh apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Maka tidak salah ketika mereka lebih suka aktivitas fisik yang kasat mata dibanding mendengarkan ceramah guru. Sebenarnya tidak hanya siswa kelas bawah, pendidikan pada semua kelas dan jenjang pun akan lebih mudah masuk jika ada contoh yang jelas. Jika kita mengajarkan siswa membuang sampah pada tempatnya, tidak cukup dengan memberi mereka nasihat dan tulisan besar pada berbagai sudut ruangan tapi ada contoh langsung dari para guru. Jika menginginkan siswa rapi, tidak cukup dengan menjelaskan keuntungannya, tapi akan lebih berkesan bagi mereka jika kita pun tampil rapi. Begitu pula tidak akan ada murid berdisiplin tinggi jika mereka sering mendapati gurunya terlambat dan menerobos aturan. Ya, para siswa adalah intelejen yang handal. Mereka belajar bukan hanya dari apa yang didengar tapi juga dari apa yang dilihat.

 

Seperti siang ini. Saat bel tanda istirahat pertama berbunyi, semua siswa bergegas mengambil snack yang sudah disiapkan di kantin sekolah. Ada beberapa macam snack yang bisa mereka ambil. Setelah itu mereka pun berdo’a dan makan dengan lahap diselingi candaan bersama kawan sebelah. Tidak jarang bagi siswa yang berpuasa atau tidak terlalu suka dengan menu yang ada, akan memberikan sebagaian snacknya pada teman yang lain.

 

Saya yang saat itu berkeliling melihat para siswa beristirahat tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan di luar kebiasaan. Dika, salah satu murid kelas 2 dengan wajah polosnya membuang plastik pembungkus makanan di bawah tempatnya makan. Seolah tidak ada yang salah dia terus saja meneruskan makan dengan lahapnya. Saya pun mendekat dan mengusap rambutnya lalu mengajak ngobrol. Sambil terus mengusap rambut lurusnya saya sengaja bertanya, “Mas Dika, kok ada sampah di bawah sini. Punya siapa ya?” Dika hanya menahan senyum khasnya seperti biasa. “Punya siapa ya?” Kataku mengulangi. “Punya saya pak, tadi lupa naruh” Jawabnya tiba-tiba. “Ayo diambil sayang, kan kita harus buang sampah pada tempatnya. Nanti lantai kotor dong” Kataku. Jawaban Dika selanjutnya membuatku mengalihkan pandangan pada tukang bangunan di sekitar, “Itu saja tukang bangunannya kalau membuang sampah sembarangan, masa cuma saya yang disuruh mengambil, mereka tidak” Oh benar saja, ada beberapa sampah di sekitar pekerjaan gedung baru kami yang memang biasa dibuang beberapa pekerja di situ.

 

Ya, anak-anak memang begitu jeli dan detail melihat sekitar. Dan tanpa banyak berfikir mereka akan segera mencontoh. Maka perkara mendidik sebenarnya bukan hanya tugas guru di kelas. Semua orang yang terlibat dengan sekolah adalah pendidik. Tukang kebun dan petugas cleaning service adalah guru yang mendidik kebersihan dan kerapian. Pegawai kantin adalah guru yang mendidik adab makan dan kesediaan mengantre. Petugas administrasi adalah guru yang mengajarkan kejujuran karena mereka selalu mengembalikan uang kelebihan pembayaran bulanan. Satpam sekolah pun pendidik tentang kehati-hatian karena dia selalu menyeberangkan murid dengan hati-hati. Dan sudah seharusnya tukang bangunan yang juga menjadi guru dengan mengajarkan kerapian pekerjaan, kedisiplinan kerja, dan juga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Jika tanggungjawab pendidikan hanya dibebankan kepada guru, akan sulit mutu pendidikan berkembang. Apalagi jika guru pun berfikiran bahwa tugasnya hanya mengajar di kelas dengan ceramah-ceramahnya tanpa mau menyempatkan melihat dan membenahi perilaku kesehariannya, akan rusaklah generasi ini.

 

Kemudian saya mengajak Dika mengambil beberapa sampah di sekitar. Tidak lupa, sebelumnya saya menasihati untuk tidak mencontoh perbuatan yang kurang baik. Dan akhirnya Dika pun bersedia mengambil sampahnya bahkan menawarkan diri untuk membuang beberapa sampah yang sudah saya ambil di samping berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Murid-murid memang perlu dilatih sedini mungkin untuk disiplin dan menaati peraturan meski dari hal kecil, buang sampah. Kelihatannya sepele, tapi jika semua murid terbiasa bahkan menjadi karakter kuat dalam dirinya akan besar efek dominonya. Kasus banjir yang selalu bersamaan dengan tumpukan sampai di sungai adalah contoh nyata bahwa buang sampah di tempatnya belum menjadi budaya di negeri kita. Dari sekolah kita melatih murid-murid untuk ikut serta memelihara lingkungan. Dan bentuk latihan tidak semata diberikan di dalam kelas, tapi bisa saat santai dengan mereka di luar bangunan yang dipenuhi kursi mati.

 

Murid-murid perlu keteladanan nyata, yang bisa dilihat langsung agar pendidikan tidak sebatas memenuhi otaknya tapi juga menembus relung jiwanya. Sesudahnya kita bisa banyak berharap akan tumbuh siswa yang berkarakter kuat yang akan memperbaiki bangsa ini.

 

Koleksi Foto:

Dika Belajar Dika

Dika Saat Belajar (kiri)dan Sedang Sedih (kanan)

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

 

Biodata Penulis:

Nama               : Andi Ardianto

Aktivitas         : Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali

No. Telepon    : 085 725 153 164

FB                   : Andi Ar

 

 

Comments (8)

  1. di guraru ada 2 nama author yang identik dengan mendidik
    yaitu
    P. M.Subakri dengan Ayo Mendidik
    P.Saleh Madura dengan Saleh Mendidik

    Berinteraksilah dengan mereka pasti akan banyak ilmu mendididk di dapat

  2. heeeeeeeeeee kang martho ada saja nih … pak saleh itu guru saya 🙂
    kita sama-sama pendidik yang berusaha mendidik seperti artikel sahabat kita BP Andri A ….
    semangat Pak Andri terus berbagi dan MENDIDIK 🙂
    salam kenal

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar