3

SEMAKIN TINGGI POHON ANGINNYA SEMAKIN KENCANG (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto January 6, 2021

Sejak pertama bergabung di sekolah ini aku tahu dan sadar bahwa sekolah ini didirikan oleh para kader sebuah partai politik, dan secara tidak langsung menjadi bagian dari partai tersebut. Seperti sekolah-sekolah lain yang satu jaringan di seluruh Indonesia. Proses perekrutanku menjadi guru pun melalui jalur itu. Secara otomatis semua SDM yang bekerja di sini adalah kader parpol tersebut. Salah satu syaratnya adalah bahwa kepala sekolah harus kader inti parpol tersebut. Tetapi khusus di yayasan kami, syarat tersebut susah untuk terpenuhi, karena SDM kami banyak yang belum menjadi kader inti parpol. Sehingga di sini kepala sekolah ada yang belum menjadi kader inti parpol.

Dulu niat awal mendirikan sekolah memang tujuannya adalah agar ada sekolah yang ideal untuk anak-anak para kader. Karena mereka merasa bahwa program-program sekolah yang ada selama ini belum mampu mengakomodir keinginan mereka tentang pendidikan untuk anak-anak mereka. Maka kader-kader parpol tersebut di seluruh Indonesia beramai-ramai mendirikan sekolah Islam terpadu, yang kemudian mendirikan jaringan sekolah Islam terpadu dari Sabang sampai Merauke.

Sistem pengelolaan SDM pun menurutku sangat bagus di sini. Karena telah diatur oleh jaringan SIT seluruh Indonesia. Semua pegawai yang bekerja di SIT harus mengikuti pembinaan pekanan, sehingga otomatis menjadi kader dari parpol yang menaungi kami. Untukku sendiri hal ini tidak menjadi masalah, karena sebelum bergabung di sekolah ini aku telah mengikuti pembinaan rutin pekanan dari parpol tersebut.

Kegiatan-kegiatan dari jaringan SIT ini juga sangat banyak dan menarik. Setiap tahun ada kemah bersama dan juga festival pelajar. Pelatihan guru juga selalu ada dan dikemas dengan menarik.

Dengan kurikulum dan program kegiatan yang banyak dan menarik ini membuat sekolah-sekolah Islam terpadu semakin diminati  para orang tua di seluruh Indonesia. Muridnya semakin bertambah banyak berkali-kali lipat, dan masyarakat mulai mengenalnya sebagai sebuah pilihan untuk menitipkan putra-putrinya. Begitu juga di sekolah kami. Dari awal hanya 7 orang siswa yang semuanya adalah putra putri kader parpol, sekarang menjadi 350 siswa dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Tetapi seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon anginnya pun semakin kencang. Saat nama sekolah kami mulai besar, masalah itu mulai menyapa. Semuanya diawali dari perpecahan yang terjadi di tubuh partai yang menaungi sekolah ini. Menjelang Pemilu 2019, parpol ini diterpa badai. Kader-kadernya banyak yang memisahkan diri dan mendirikan sebuah ormas baru. Termasuk juga di Banyuwangi ini. Di antara para kader yang keluar itu adalah para pengurus yayasan Al Uswah. Memang tidak semuanya, tetapi justru para pemegang posisi penting dan pengambil kebijakan.

Sebenarnya isu tentang keluarnya para petinggi yayasan dari parpol itu sudah lama kudengar. Sejak sebelum aku menjadi kepala sekolah. Dan aku pernah meminta kepada kepala sekolah yang lama yang juga pengurus yayasan untuk tidak mengundurkan diri. Aku tahu beliau termasuk orang-orang yang tetap berada di dalam partai. Saat itu aku masih ingin sekolah ini tidak berubah, tetap seperti sebelumnya, menjadi bagian dari partai dan jaringan SIT. Tetapi kepala sekolah waktu itu tetap pada keputusannya untuk mundur dari jabatan kepala sekolah, dan kemungkinan akan disusul dengan mundur dari yayasan. Beliau mengatakan sudah tidak sejalan dengan para pengurus yayasan yang lain.

Ditunjuknya diriku sebagai kepala sekolah sebenarnya merupakan pilihan terakhir. Sebelum aku, ada Ustadz Sabath yang telah melakukan sertijab dengan kepala sekolah sebelumnya. Menjelang tahun ajaran baru, ternyata kepala SMPIT juga mengundurkan diri, dengan latar belakang masalah yang juga berkaitan dengan  parpol tadi. Akhirnya Ustadz Sabath dipindah menjadi kepala SMPIT, sehingga terjadi kekosongan pemimpin di SDIT ini. Sebagai pilihan terakhir, jatuhlah kepada diriku.

Dinamika yang terjadi di lapangan terkait keluar masuknya guru ini memang sangat cepat. Bahkan para kader parpol yang telah keluar dari yayasan masih bergerilya untuk mengajak para guru keluar dari yayasan ini dan bergabung dengan mereka, jika mereka telah mendirikan yayasan baru. Bahkan sang mantan kepala sekolah membuat grup WA baru berisi beliau dan para kepala sekolah baru. Tujuannya untuk memetakan guru-guru yang kira-kira bersedia bergabung dengan mereka. Kami sendiri ditanya tentang keberpihakan kami. Untuk aku pribadi, kujawab jika aku telah menerima amanah ini dengan penuh kesadaran. Secara profesional dan spiritual aku harus menjalankan amanah ini sampai batas waktu harus berakhir dari yayasan. Jika aku berhenti sekarang, berarti aku telah mengkhianati amanah. Dan itu bukan sifat seorang muslim.

Dengan jawabanku itu sang mantan kepsek tidak lagi menanyakan keberpihakanku. Tetapi beliau tetap memantau dan menanyakan tentang guru-guru yang lain, barangkali ada yang bisa diajak untuk menyeberang ke pihak beliau. Bahkan di kelompok-kelompok pembinaan pekanan yang kami jalani, hampir semua membahas tentang konflik yayasan ini dan mempengaruhi kami untuk memikirkan lagi kelangsungan kami di sini. Karena pembinaan guru selama ini masih ditangani oleh parpol yang menaungi kami. Jadi harapan para pembina itu, kami tetap bersama mereka dan tidak mengikuti para pengurus yayasan yang telah keluar dari parpol itu.

Bahkan pernah suatu ketika kami para pembina ini dikumpulkan untuk diminta memetakan guru yang siap untuk bedol desa, istilah mereka. Kebetulan aku termasuk dalam jajaran pembina para guru di yayasan ini. Secara gamblang mereka menyampaikan akan melawan para pengurus yayasan yang keluar dari parpol. Mereka tidak ingin para guru yang dianggap sudah menjadi kader parpol itu lepas. Jadi mereka bermaksud mendirikan sekolah baru untuk menampung para guru yang tetap setia kepada parpol, termasuk juga wali muridnya.

Bagiku pribadi ini sebuah dilema. Aku telah mengenal sistem pembinaan di parpol ini sejak SMA, sejak belum menjadi parpol. Meski aku baru aktif di dalamnya setelah bekerja. Kuakui sistemnya bagus. Mereka adalah orang-orang baik yang membuatku lebih mengenal Islam dan mengajariku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tetapi aku tidak suka cara seperti ini. Menggerogoti dari dalam. Apa bedanya mereka dengan orang-orang yang dibencinya itu jika mereka melakukan cara-cara yang melanggar kode etik begitu. Justru para pengurus yayasan tidak pernah melontarkan fitnah atau hate speech terhadap para pengurus parpol yang sekarang melawan mereka.

Setelah pertemuan dengan para petinggi partai itu, aku segera mengumpulkan guru-guru di sekolah. Kusampaikan kepada mereka tentang kondisi yayasan dan kemungkinan ke depannya. Aku juga mengatakan bahwa jika mereka akan keluar, aku tidak akan mempersulit. Kupersilakan mereka memilih untuk berada di mana. Sebagai pimpinan sebuah institusi resmi, aku harus melakukan hal ini, agar apa yang terjadi di tubuh parpol dan yayasan tidak berimbas pada keberlangsungan sekolah. Kuajak para guru itu mengingat lagi tentang anak-anak di sekolah dan orang tua yang telah percaya kepada kami. Kuingatkan mereka untuk meluruskan lagi niat berada di sini. Tetapi jika hati mereka lebih cenderung kepada parpol, maka aku tidak akan mempersulitnya.

Sejujurnya bagiku ini adalah kondisi yang sangat sulit. Mereka yang masih setia dengan parpol dan melawan pengurus yayasan itu adalah orang-orang yang sangat kuhormati. Para mentorku, guru-guruku. Dengan melakukan konsolidasi di sekolah ini berarti aku mungkin dianggap telah mengkhianati parpol ini. Tetapi sebagai seorang pemimpin, apa yang kulakukan ini adalah upaya pembersihan lembaga dari duri-duri yang mungkin kelak akan mengancam soliditas lembaga. Dan itu sebuah keharusan. Suka atau tidak, memang itu yang mestinya kulakukan, karena telah menerima amanah sebagai kepala sekolah di sini.

Konflik ini juga berimbas pada keanggotaan kami di jaringan SIT. Secara khusus kami diundang oleh pengurus jaringan SIT tanpa yayasan dan dinyatakan sudah tidak sejalan dengan prinsip mereka. Tetapi yang membuatku agak kecewa, tidak ada pernyataan resmi bahwa kami dikeluarkan dari keanggotaan jaringan. Karena sebenarnya sekolah-sekolah di yayasan Al Uswah ini tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap aturan jaringan. Sedangkan di luar sana dikabarkan bahwa kamilah yang mundur dari jaringan tersebut. Bahkan guru di sekolahku yang menjadi anggota grup pembina pramuka dikeluarkan dari grup WA tanpa ada pemberitahuan apapun. Begitupun para pengurus jaringan daerah yang lain.

Kalau ditanya perasaanku, tentu sedih, kecewa, dan marah. Perlakuan yang tidak adil itu membuatku tak habis pikir. Jaringan sekolah sebesar ini, yang tersebar seluruh Indonesia, melakukan sesuatu yang menurutku tak patut. Semoga Allah menunjukkan kebenaran kepada mereka.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar