9

Selamat Jalan, Sahabat Pramuka (+5)

M. Rasyid Nur April 3, 2014

Salam Guraru, sahabat Guraruers. Postingan ini tidak berkaitan dengan tema bulanan. Tapi karena tokoh dalam kisah ini masih ada hubungannya dengan profesi kita, guru maka saya posting lagi di sini. Dan sebenarnya cerita duka tentang rekan saya yang bernama Abdul Malik ini sudah saya psoting di http://mrasyidnur.blogspot.com/2014/04/selamat-jalan-sahabat-pramuka.html yang mungkin sudah ada yang membacanya. Dia adalah mantan guru yang dimutasi ke Dinas Pemuda Olahraga Pemda Karimun. Sebagai andalan pramuka, Pak Malik ini maasih tetap aktif di gerakan kepramukaan. Makanya saya muat lagi. Semoga ada manfaatnya. Postingan lengkapnya begini:

ANTARA percaya dan tidak, saya mendapat telpon dari salah seorang guru. Ibu Desi yang menelpon saya bertanya, “Pak, Pak Maliknya dibawa kemana? Ke Gg. Awang Nur apa ke Buru?” Pertanyaan via HP (Hand Phone) itu saya terima pada pukul empat kurang sepuluh, hari Rabu (02/ 04) ini. Saya masih menyetir mobil menjelang ke rumah setelah dari SPBU yang sudah ditutup karena kehabisan stok BBM saat Ibu Desi menelpon. Tentu saja saya bingung ditanya begitu. Tiba-tiba saja dia menanyakan Malik kepada saya.

Dalam kebingungan, saya balik bertanya, “Malik? Malik mana?” Saya belum ngheh dengan pertanyaan itu. Lalu dia menjawab, “Malik, Pak. Malik pramuka itu!” Jawab dari seberang sana lagi. Semakin penasaran, saya terus bertanya. “Mengapa, Malik, Si?” Ibu Desi menjelaskan kalau Malik, sekretaris II Kwarcab Karimun itu telah ‘tiada’ sejak siang tadi. Akhirnya saya jawab bahwa saya tidak tahu. Saya belum mendengar apapun perihal Malik, sahabat saya itu. Sebagai salah seorang Wakil Ketua Gerakan Pramuka Kwarcab Karimun, saya benar-benar terpukul mendengar berita itu. Malik adalah andalan pramuka sejati. Itu yang saya tahu tentang antan guru Sekolah Dasar itu.

Dalam waktu yang sama, di HP saya yang satunya lagi, masuk sebuah SMS yang bertanya perihal keberadaan Malik juga. SMS itu menanyakan dimana Malik saat itu. Saya benar-benar bingung. Akhirnya saya mencoba menelpon langsung Pak Arif Fadhillah, Ketua Harian Kwarcab Karimun yang juga adalah Sekda Kabupaten Karimun. Sedihnya, dua kali saya call kedua-duanya ‘ditolak’ dengan nada operator dari seberang, “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk!” Saya serasa putus asa mencari informasi akurat perihal Abdul Malik.

Saya benar-benar bingung. Antara percaya dan tidak, saya teringat satu hari sebelumnya (Selasa, 01/ 04) ketika saya baru saja bertemu dengan Abdul Malik di Gedung Olahraga Badang Perkasa. Kebetulan saya pukul 10.00 itu akan menghadiri rapat Evaluasi MTQ Provinsi yang diadakan di Gedung Olahraga tertutup itu. Saya tidak melihat ada tanda-tnada apapun mengenai Malik. Kami bersalaman setelah saya menyapanya yang tengah duduk di kursi kerjanya.

Malik adalah salah seorang pagawai di Kantor Pemuda Olahraha Kabupaten Karimun. Di kwarcab dia adalah tangan kanan Pak Dul yang Sekretaris Umum itu. Saya melihat Malik tidak dalam keadaan sakit atau dalam keluhan tertentu. Dia berdiri menyalami saya. Jadi, saya benar-benar tidak percaya kalau dia hari ini sudah mendahului kita semua.
Sampai di rumah baru saya dapat informasi bahwa Malik pada saat itu sudah di pelabuhan Karimun. Beberapa saat lagi dia akan diberangkatkan ke Buru, kampung halamannya. Saya ingin ikut tapi tidak terkejar lagi karena tidak mungkin saya berpacu ke pelabuhan pada saat itu. Sesaat berikutnya, kapal pembawa mayatnya malah baru saja berangkat meninggalkan pelabuhan Karimun. Pada saat itu saya baru saja menerima telpon langsung dari Ikhwan, Bendahara Kwarcab Karimun. Katanya dia saat itu sedang di atas kapal bersama Sekda dan para pengurus Kwarcab lainnya. Saya benar-benar sedih. Sedih karena kehilangan sahabat pramuka sekaligus sedih karena tidak dpat ikut bersama mengantarnya ke Buru sana.

Selamat jalan, sahabat pramuka. Selamat menghadap Tuhan yang Mahaesa. Percayalah, Dialah Sang Pengasih dan Penyayang kita. Jika ada amal-ibadah yang sudah dibuat ketika di dunia, percayalah itu akan diterima juga. Tindak-tanduk dan ibadah itu tidak akan kemana-mana. Hanya itu sesungguhnya deposito dan tabungan kita. Yang tersimpan di bank atau di brangkas akhirnya ‘kan tinggal juga. Siapa sangka nyawa itu pergi begitu tiba-tiba.

Kami yang engkau tinggalkan, akan terus mengingat jasa-jasamu khususnya di kepramukaan Karimun. Kami juga akan mendoakanmu, semoga sahabat diterima-Nya di sisi-Nya dengan baik dan tenang. Entah akan berjumpa entah tidak, tapi pasti kami akan menyusul sahabat. Tapi kita akan berjumpadi mana, entahlah. Hanya ada dua rumah kita: syurga atau neraka. Sekali lagi, selamat jalan sahabat pramuka!*** Terima kasih, sudah membacanya.

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (9)

  1. Innalillahi wa inna illaihi roji’un. Semoga beliau di terima di sisi Allah SWT beserta amal ibadahnya dan diampuni semua dosanya. Amin. Turut berduka cita pak Rasyid. Saya telah membaca seluruh tulisan bpk, sampai sayapun merasa turut kehilangan. Tentunya beliau aktivis yang dibanggakan di Karimun. Thx sharingnya. Teruslah menulis pak, kami Insya Allah akan membaca. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan bpk, sebab di dalamnya selalu ada suatu pendidikan yang terjadi setiap saat dalam hidup ini. Memang bentuknya amat bervariasi. Salam sehat selalu.

  2. Untuk Panduku Bp. Abdul Malik

    Berbinar bola matamu
    Erat kau jabat penuh sahabat
    Hangat semangat tunas kelapa
    Mengalir deras hingga ke medan laga

    Berdirimu yang kokoh
    Terpatri dalam retina otak

    Senja itu
    Mengalir membawa berita
    Duka tersayup di telingga
    Ku usung doa-doa untumu
    TUNAS KELAPAku

    *********************** AYOMENDIDIK | m. subakri

  3. Terima kasih, Bu Etna telah membaca dan telah menyampaikan ucapan belasungkawa. Umurnya baru 47 tahun tapi Tuhan sudah menjemputnya karena memang sudah sampai waktunya. Terima kasih juga karena selalu menyempatkan diri membaca catatan saya. Bu Etna adalah contoh guru yang tidak kenal mengeluh. Meski kita baru sempat bertemu beberapa menit saja dan hanya baru sekali saja, tapi dari tulisan-tulisan Ibu saya sangat yakin itu. Salam sukses selalu, Bu.

  4. Ya, Pak Nuralim, boleh jadi Allah memang sudah menentukan begitu. Rekan saya ini sehari-harinya kelihatan sehat-sehat saja. Usianya juga belum terlalu tua. Tapi Allah lebih tahu apa yang akan Dia putuskan. Kita memang harus ikhlas menerimanya. Salam, Pak M. Nur’alim

  5. Pak Rasyid, ketika responku dijawab, saya merasa wajib untuk membaca, apa dan bagaimana jawaban itu. Alhamdulillah pak, tak terpikirkan sama sekali untuk mengeluh, apalagi terucap. Insya Allah tak ada gunanya pak. Sering kita bersalah saja Allah SWT masih selalu memberikan apa saja secara bertubi-tubi fasilitas untuk hidup kita. Bersyukur setiap bernafas saja belum cukup menggantikan pemberianNya yang tak terukur, bagaikan suatu bilangan dibagi nol. Allahu Akbar. Keluhan menunjukkan kita merasa kurang, beban berat, dll dan merupakan protes bahwa kita merasa Allah SWT tak adil. Kalau kita sadar, tak malukah kepadaNya? Ampuni kami ya Allah.

    Usia beliau 47 tahun? Allah SWT telah mengambilnya sebelum terjadi hal lain yang tak diinginkanNya. Kita Insya Allah selalu mengenangnya bapak. Putriku yg sudah mampu memimpin bangsa-bangsa lain adalah aktivis pramuka dan tokoh cilik di jamboree nasional Cibubur. Subhanallah. Rasa syukur kita tak akan pernah sirna bpk, shg tak mungkin ingin mengeluh. Amin. Salam takzim.

  6. Sekali lagi, terima kasih Bu Etna atas tambahan komentarnya. Semangat yang Ibu sampaikan lewat tambahan komentar itu, saya percaya sangat berguna buat siapa saja, khususnya andalan-ndalan pramuka di Tanah Air. Saya banyak menyaksikan seperti yang Ibu jelaskan: gerakan pramuka benar-benar membuat krakter anak-anak (calon pemimpin) itu sangat hebat. Mereka membuktikan itu ketika berkesempatan menjadi pemimpin. Salam hormat, Bu.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar